
Celin sedang sarapan bersama keluarganya. Mereka senang si bungsu bergabung. Karena biasanya gadis itu selalu bangun telat dan membuat semuanya sarapan duluan agar tidak terlambat untuk bekerja. "Semalam tidur jam berapa?" Tanya Papa. "Jam 2." Jawabnya sembari memasukkan potongan roti bakar ke dalam mulut. "Berhentilah bermain game Nak. Kesehatan kamu bisa terganggu." Ucap Mama menasihati hal yang sama setiap hari. " Iya Dek. Jangan suka begadang." Tutur Zahra ikut menyahuti. "Juga banyak banyak makan sayur dan buah biar sehat. Jangan makan makanan instan terus." Lanjutnya. "Hari ini aku tidur di apartemen. Mau mengerjakan tugas sama ka Sandra. Dia akan menginap juga." Celin memilih keluar dari topik yang sedang di bahas. "Kenapa harus di apartemen sih. Ajak teman kamu kesini saja. Menginap juga tidak masalah." Gadis itu tampak menggeleng dengan cepat menolak apa yang diusulkan sang Mama.
"Cobalah sedikit feminim. Bawa mobil jangan motor sport begitu. Kamu itu anak gadis. Yang lemah lembut." Nasihat Mama membuat Celin menghela napas. Hal seperti ini sering terjadi membuatnya bosan. Ia harus menjadikan sang kakak sebagai role modelnya dalam berperangai. Sikap Zahra yang lemah lembut dan tertata membuat Celin selalu di bandingkan. Gadis itu menghentikan makannya. Selera untuk menghabiskan sarapan hilang seketika. "Semua anak mempunyai karakter masing masing Ma. Tidak semuanya harus sama seperti anak tercinta Mama. Jika semuanya harus sama apa gunanya ada keberagaman dan karakteristik?" Tuturnya kemudian berlalu pergi. "Sudah Papa bilang jangan seperti ini tapi kamu selalu mengulangi kesalahan yang sama Ma." Ucap Pria itu kemudian pergi meninggalkan sang istri dan putri sulungnya yang masih duduk terdiam.
__ADS_1
"Kenapa wajahnya di tekuk begitu?" Tanya Gilang menggandeng tangan Celin utuk ke kelas. "Tidak ada. Hanya sarapan tadi terasa hambar saja." Jawabnya penuh makna. "Sudah. Jangan sedih. Nanti habis ini kita jalan jalan ke Mall. Mau?" Tawarnya langsung mendapat anggukan.
Sandra berdecak kesal melihat dua sahabatnya itu baru datang. "Gilang. Aku lihat mobil kamu dari tadi di parkiran. Kamu kemana aja?" Kesalnya. "Nungguin Cemeng." Jawabnya sambil terkikik. "Cemeng apaan?" Tanya dua gadis itu bersamaan. "Anak kucing." Gilang mengusap kepala Celin kemudian segera duduk di bangkunya.
__ADS_1
Kini Gilang dan Celin sedang jalan jalan di mall. Keduanya duduk di bangku sembari menikmati eskim. "Berantakan." Ucapnya sambil membersihkan sudut bibir gadis cantik itu. "Ka Sandra lagi di apartemen. Dia nitip makanan." Kata Celin. "Habis ini kita beli." Jawab Gilang. Kedua orang itu tak menyadari ada sepasang mata elang yang sedang menatap tajam. "Sudah selesai kak. Ayo pulang." Ajak seorang gadis. "Kakak lihat apa?" Tanyanya mengarahkan pandangan ke tempat yang Devan tuju. Zahra tidak bisa melihat dengan jelas wajah si perempuan karena menunduk. "Kak Devan Kenal mereka?" Tanyanya. "Kenal. Dia mahasiswa kakak. Bukannya selesaikan tugas yang Kakak kasih malah asyik pacaran." Ucapnya dengan nada kesal.
Devan sedang makan malam di rumah keluarga Miller. "Oh iya Devan. Om lama mau ngomong ini tapi lupa terus. Om sebenarnya punya dua putri. Putri bungsu Om ada di jurusan komunikasi barangkali kamu kenal." Ucap Pria itu. "Siapa Om?" Tanya Devan. "Celina." Jawaban itu mempu membuat Devan menghentikan makannya. "Kak Devan. Kamu tidak apa?" Tanya Zahra. "Ah tidak. Iya. Devan kenal Om. Dia mahasiswi Devan juga." Ucapnya sambil tersenyum. Otaknya berpikir keras. Ia tak menyangka gadis yang mencuri perhatiannya itu adalah anak dari teman sang Ayah. "Mohon bimbingannya ya Devan. Anak itu sedikit bandel soalnya." Kata Mama di tanggapi anggukan. "Lalu sekarang Celin dimana Om?" Devan berinisiatif. "Oh. Tadi pagi bilang katanya mau tidur di apartemen. Temannya Sandra mau mengerjakan tugas sekalian menginap katanya." Jawab Papa Celin. "Kalau saya tidak salah Celin pernah bilang kalau dia itu bekerja di Cafe ya Om?" Lagi lagi Devan mengajukan pertanyaan tak diam seperti biasanya. Mama tersenyum melihat Devan sepertinya tertarik membahas si Putri bungsu. "Itu cafe Celin yang di dirikan sendiri. Awalnya hanya coba coba. Dia menggunakan uang hasil bermain game nya untuk membuka usaha. Tempat itu dulunya di sewa. Hingga Ia bisa mencicil dan membelinya." Jelas Mama.
__ADS_1
Celin mengantarkan Gilang sampai di depan pintu apartemennya. "Kakak pulang dulu." Ucapnya memeluk gadis itu dengan hangat. "Hati hati Bos." Jawabnya sambil terkekeh. "Iya. Tidurnya jangan malam malam. Sandra aku titip gadis kecil ini." Pesan Gilang sambil mengacak acak rambut Celin. "Oke. Bayarannya besok sarapan di kantin." Laki laki berparas rupawan itu mengangguk kemudian segera pergi. "Ayo tidur. Tidak ada bermain game lagi." Kata Sandra merebut ponsel Celin setelah menutup pintu. "Hey...Itu tidak adil. Ini baru jam 8." Keluhnya sambil melangkah mengejar Sahabatnya.