
Pagi hari Gilang mengetuk pintu kamar Celin yang berada di samping kamarnya. "Wah sudah siap ternyata. Kakak kira kamu masih molor karena semalaman main game." Gadis itu tersenyum. "Ya enggak dong Kak. Celin mau fokus liburan. Itu berarti libur dari Game juga." Jawabnya. "Yasudah. Kita sarapan dulu. Mau di restoran atau dimana?" Tanya Gilang. "Pinggir jalan lebih nikmat. Ayo." Ajaknya penuh semangat sembari menarik tangan laki laki yang usianya lebih tua empat tahun darinya itu.
Beberapa saat berkeliling mobil berhenti di depan deretan warung makan sederhana. "Mau makan apa?" Tanya Gilang menggenggam tangan gadis cantik di sampingnya. "Soto ayam kampung. Kayanya enak. Ayo makan itu." Ajak Celin langsung mendapat anggukan.
__ADS_1
"Monggo Mas. Mbak." Ucap seorang Ibu Ibu menyajikan dua mangkuk soto dan minuman. "Terima kasih Buk." Jawab Celin sambil tersenyum ramah. "Adek bukan orang sini ya?" Tanya penjual itu. "Bukan Bu. Kita dari Jakarta. Kesini untuk liburan." Jawab Gilang membuat Ibu itu mengangguk kemudian segera berpamitan untuk melayani pembeli yang lain. "Hati hati masih panas." Gilang menyuapi Celin. "Kakak juga makan. Aku makan sendiri." Kata Celin. "Iya." Jawab Gilang mulai makan sotonya. "Enak ya?" Tanya Gilang tersenyum melihat gadis di sampingnya makan dengan lahap. "Enak. Tapi masakan Bunda lebih enak." Jawabnya.
Celin dan Gilang sudah sampai di pantai Parangtritis. Setelah sarapan tadi keduanya sepakat untuk mengunjungi pantai indah itu sebelum ke tempat tempat selanjutnya. "Katanya kalau disini nggak boleh pakai baju hijau." Ucap Gilang tiba tiba. "Kenapa?" Tanya Celin mendongak menatap laki laki yang sedang merangkulnya itu. "Nggak tau. Katanya penunggu disini suka orang yang pakai baju hijau dan akan di tarik ke laut." Jawab Gilang. "Oh pantesan Bunda semalam telpon aku kalau jangan pakai baju hijau." Kata Celin. "Ayo duduk dulu." Ajak Gilang langsung mendapat anggukan.
__ADS_1
Dua orang sedang duduk saling berhadapan di sebuah cafe. "Zahra. Tentang perjodohan itu." Kata Devan tak mampu melanjutkan. "Aku paham Kakak tidak ada rasa denganku." Ucap Gadis itu membuat Devan menatap dengan tidak enak. "Aku tau itu Kak. Kakak jangan khawatir. Aku sendiri juga sudah memiliki kekasih. Hanya saja Aku belum bilang pada Papa. Tapi Aku rasa perjodohan ini tidak mungkin bisa di batalkan mengingat orang tua kita yang begitu dekat. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kalau tidak Aku yang menikah dengan Kakak berarti Celin yang harus menikah. Kakak pasti senang. Kakak menyukai Celin kan?" Perkataan gadis itu membuat Devan terkejut. "Sangat kentara. Kakak tidak perlu menyembunyikannya." Lanjutnya sambil terkekeh. "Bagaimana kamu tau?" Tanya Devan. Zahra tersenyum tipis. "Hanya orang tidak peka saja yang tidak tau. Dari awal kalian bertemu aku sudah bisa menyimpulkan itu. Tatapan kakak dan cara bicara kakak terhadap adikku sangat mencolok." Jawab Zahra di benarkan dalam hati oleh lawan bicaranya. "Namun Aku rasa Celin sudah memiliki kekasih. Satu kelas dengannya. Namanya Gilang. Dua orang itu tampak mesra dan bersama setiap saat. Bahkan sekarang mereka sedang liburan ke Jogja." Keluh Devan sembari menyandarkan punggungnya di sofa yang di duduki. "Aku dengar mereka memang dekat. Tapi tidak tau hubungan apa yang terjalin di antara keduanya. Yang pasti mereka sangat dekat. Celin sering pergi ke rumah Gilang karna Ibu Gilang sangat menyayanginya. Bunda Gilang dan Gilang sendiri juga sering main ke apartemen Celin. Bahkan saat dulu Celin sakit dua orang itu yang merawatnya. Tidak perlu aku jelaskan kakak pasti paham seperti apa hubungan mereka." Jelas Zahra.
Malam hari Celin dan Gilang menikmati suasana Jogja di malioboro. Mereka duduk di bangku sambil menikmati eskrim berdua. "Dingin ya?" Tanya Gilang merasakan tangan yang di genggamnya begitu dingin. "Sedikit." Jawab gadis itu. "Kalau gitu kita kembali ke hotel." Ajaknya khawatir Celin nanti akan sakit.
__ADS_1
"Diminum dulu." Kata Gilang memberikan Celin minuman hangat. "Kamu kecapean makannya begini. Sekarang tidur." Ucap laki laki itu membenarkan selimut. Ia menunggui sampai Celin benar benar tidur. "Selamat malam Sayang." Ucapnya lirih meninggalkan kecupan lembut sebelum pergi ke kamarnya.