Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Liburan


__ADS_3

Siang hari keluarga Miller sudah berada di prancis. Mereka berkumpul di ruang tengah salah satu hunian mewah dekat pantai sebagai tempat tinggal selama seminggu berlibur disini.


"Mau kemana Dek?" Tanya Mama melihat putri bungsunya sudah berganti dengan celana pendek dan kaos.


"Mau selancar di pantai. Katanya liburan. Ngapain duduk diam begini."


"Nggak capek apa? Nanti sore saja." Sahut Devan menuturi istrinya.


"Nggak. Yang aku cari ombak sama matahari. Kalau sore kurang seru. Aku pergi dulu. Kalau kalian makan siang duluan saja aku makan sendiri." Tak berlama lama Celin bergegas pergi karena ingin cepat cepat melepas rasa jenuhnya.


Suasana pantai cukup lengang karena ini bukan hari libur. Celin pernah datang beberapa kali bersama Kakek Neneknya jadi Ia cukup familiar dengan tempat ini. Tak membuang banyak waktu gadis cantik itu membawa papan selancarnya dengan sedikit berlari mendatangi ombak yang datang. Ia mendayung dengan tangan kemudian segera berdiri setelah melihat gulungan air yang dirasanya pas untuk menguji kemampuannya. Celin menjaga keseimbangan dengan susah payah. Ia tetap berdiri dan berkali kali menggerakkan papan selancarnya dengan cekatan dikala ombak bertubi tubi mendatanginya.


Devan sampai di pantai. Ia akhirnya menemukan sang istri yang ternyata masih sibuk dengan selancar. Tak mau menganggu, Ia memutuskan untuk duduk menunggu di tempat yang cukup teduh.


"Kak Devan ngapain di sini?" Tanya Zahra ikut duduk.


"Lagi nunggu istri." Jawabnya singkat malas untuk bicara.


"Kak Devan sepertinya tidak bahagia ya dengan Celin. Kak Devan tidak pernah di perhatikan dan di anggap sebagai suami kan? Daripada Kak Devan tersiksa seperti ini mending sama aku aja." Ucap Zahra.


"Siapa bilang aku tidak bahagia? Aku sangat bahagia. Dia istri yang baik dan bertanggung jawab. Ya mungkin memang terlihat galak dan kekanakan di beberapa waktu. Tapi dia melayani aku dan merawat aku dengan baik. Jangan pernah mengusikku Za. Hidup kita sudah masing masing. Aku cinta dengan istriku dan tak akan berubah sampai kapanpun. Dengan begini aku semakin tau kamu seperti apa. Terimakasih karena telah bicara. Aku akan semakin menjaga jarak denganmu." Ucap Devan bergegas pergi karena risih dengan celotehan tak bermutu dari iparnya.


"Kok disini?" Tanya Celin saat suaminya berjalan mendekat kemudian memakaikan Ia handuk.


"Nunggu kamu." Jawab Devan sambil tersenyum.


"Kita makan yuk." Ajaknya.


"Kan aku sudah bilang kalian makan duluan saja."

__ADS_1


"Nunggu kamu. Ayo." Devan bergegas menggandeng tangan istrinya untuk diajak berjalan bersama.


Celin sudah selesai mandi. Gadis itu bersama suaminya ikut duduk bergabung untuk makan siang bersama.


"Mau pakai apa Dek?" Tanya Mama hendak mengambilkan.


"Apa aja." Jawab Celin yang memang tak pilih pilih makanan. Mama mengangguk kemudian segera menyiapkan untuk putrinya.


"Terimakasih." Ucap Celin langsung menyantap makanan yang sudah tersaji.


"Apa?" Tanya Celin karena Devan terus menatapnya.


"Suapi. Nanti setelah kamu selesai makan." Jawabnya tanpa malu sama sekali pada semua orang yang ada di sana.


"Kamu nggak malu apa?"


"Nggak. Nggak usah malu. Kenapa malu segala." Jawab pria itu sambil terkekeh menanggapi menantunya.


"Dasar banyak tingkah." Kesal Celin mau tak mau menuruti keinginan suami.


Zahra mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menatap tak suka pasangan yang romantis yang duduk lurus di depannya itu. Ada perasaan iri dan benci melihat kebersamaan keduanya. Semakin Ia menahan semakin tersiksa pula dirinya. Entah sampai kapan akan bertahan. Yang pasti kemauannya untuk mendapatkan Devan semakin hari semakin besar meskipun telah menyandang status sebagai istri orang.


Devan menemani istrinya menonton film sambil tiduran di ranjang. Setelah makan siang tadi mereka memutuskan untuk istirahat tak bergabung untuk ngobrol bersama.


"Sayang." Panggilnya pada sang istri yang sedang fokus menatap layar besar di depan.


"Ya."


"Nanti malam kita kencan gimana? Kamu sudah tau daerah sini kan?"

__ADS_1


"Kamu butuh tour guide?"


"Bukan begitu. Aku baru pertama kali kesini jadi tidak paham sama sekali. Kamu yang tau kan bisa bilang tempat mana yang bagus nanti kita kesana."


"Paling bagus ya di pantai. Oh.. Ada salah satu restoran seafood yang enak banget."


"Nanti kita ke sana ya."


"Iya deh. Lagian juga bosan di sini terus." Jawab Celin menyetujui.


Malam hari seperti yang sudah direncanakan Celin membawa suaminya makan berdua di salah satu restoran rekomendasinya. Mereka menikmati pemandangan pantai tang begitu indah dari lantai dua.


"Kamu sering kesini?" Tanya Devan sambil makan.


"Kalau lagi berkunjung pasti mampir." Jawab Celin.


"Aku liburannya kan berdua sama Kakek, Nenek dan selalu di ajak makan disini." Lanjutnya menceritakan kisah liburan yang hanya bisa dilakukan dengan Kakek Nenek karena orang tuanya selalu saja menolak kemauan Celin pergi ke mana untuk liburan dan memilih untuk pergi ke tempat yang diinginkan Zahra. Devan mengangguk paham. Ia mengusap pipi istrinya dengan lembut sambil tersenyum untuk menghibur.


Selesai acara makan malam Devan menggandeng tangan istrinya untuk diajak jalan jalan menyusuri pantai.


"Kamu kedinginan?" Tanyanya pada sang istri.


"Enggak."


"Em.... Kenapa kamu nggak nikah sama Kak Zahra saja? Perbedaan umur kalian tidak terlalu jauh. Lagian sepertinya kalian juga cocok. Karir sama sama bagus."


Devan menghentikan langkahnya membuat Celin seketika juga berhenti.


"Hatiku tidak bisa dibohongi. Menikah itu sekali seumur hidup. Aku hanya ingin hidup bersama orang yang aku cintai. Mau kan kamu memulainya dari awal? Aku tau semuanya begitu mendadak dan belum ada rasa di hati kamu. Aku akan menunggu." Devan memeluk istrinya dengan erat setelah mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2