Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Beruntung Mendapatkannya


__ADS_3

Seminggu sudah di Paris kini keluarga Miller sudah berada di rumah. Celin ikut pulang ke rumah Papanya karena kopernya ikut serta di bawa.


"Mau kemana? Baru sampai tidak capek apa?" Tanya Devan melihat istrinya sudah bersiap akan pergi sembari menenteng beberapa paper bag.


"Mau antar oleh oleh ke rumah Bunda. Aku pergi dulu. Nggak lama." Jawab gadis itu melesat pergi tanpa mendapat persetujuan sang suami.


"Dek. Kapan kamu pulang?" Sandra langsung memeluk Celin yang baru turun dari mobil. "Baru aja. Ini oleh oleh untuk kamu. Dan bantu turunin yang di dalam ya. Ada untuk Ibuk sama yang lain juga."


"Kenapa repot repot sih. Lagian baru pulang langsung kesini. Kan istirahat dulu habis perjalanan jauh." Celin membuka bagasi mobilnya mulai menurunkan barang barang yang Ia bawa tak menghiraukan Sandra yang terus berceloteh.


"Makasih Buk." Celin meneguk minuman yang sudah disiapkan oleh Ibu panti.


"Makasih ya oleh olehnya. Jadi merepotkan. Setiap liburan pasti di bawakan." Wanita berusia lebih dari setengah abad itu merasa tidak enak hati.


"Santai saja Buk." Jawab Celin sambil tersenyum.


"Makan kuenya. Ini enak loh." Sandra menyuapi sahabatnya yang masih berceloteh.


Beberapa saat mengobrol Celin berpamitan karena harus ke rumah Bunda. Ia yakin disana tidak akan sebentar oleh karena itu bergegas pergi lebih baik agar bisa menghabiskan waktu lebih lama.


"Cepat sekali."


"Ke rumah Bunda Buk. Nanti di sana pasti lama."


"Yasudah hati hati ya. Sekali lagi terimakasih banyak."


"Sama sama." Jawab Celin mulai melangkah pergi diantar Sandra untuk ke mobil.


"Paket." Teriak seseorang sembari mengetuk pintu membuat dua orang yang sedang mengobrol berhenti.


"Biar Bunda lihat. Perasaan Bunda nggak beli apa apa." Ucap wanita itu beranjak dari duduk segera berjalan menuju pintu utama.


"Dasar anak nakal. Bunda kira siapa." Celin tertawa di marahi Bundanya.


"Bunda kangen." Ungkapnya sembari memeluk dengan erat.


"Celin juga kangen Bunda." Jawab Celin.

__ADS_1


"Pelukan nggak ajak ajak." Gilang memeluk dua orang yang begitu Ia sayangi.


"Kenapa nggak istirahat dulu?" Tanyanya tau jika Celin baru pulang.


"Nggak capek kok."


Bunda dan Gilang menghela napas menatap oleh oleh yang dibelikan Celin. Mereka cukup tau beberapa barang di atas meja itu harganya mahal mahal. Celin pasti menguras tabungannya karena gadis itu tidak mungkin meminta orang tua.


"Kenapa belikan seperti ini sementara kamu saja pakai kaos biasa." Ucap Gilang.


"Tabungan kamu pasti terkuras banyak. Bunda nggak bisa terima." Wanita itu menyahuti putranya.


"Santai aja Bun. Celin menang turnamen kemarin. Hadiahnya lumayan. Lagian dagangan kaos, jaket, dan celana Celin juga laris manis. Celin lagi banyak duit." Jawabnya sambil tertawa kecil.


"Kalau Bunda sama Kak Gilang nggak terima Celin nggak mau lagi kesini." Ancam gadis itu.


"Hm.. Terimakasih. Tapi ini benar benar berlebihan." Keduanya memilih pasrah saja mengecup kepala gadis itu bergantian. Daripada Celin ngambek mending menuruti apa yang gadis itu inginkan.


Devan bergegas menghampiri istrinya yang baru memasuki rumah.


"Makan dulu sama Bunda. Di suruh makan sih. Kan tidak enak kalau di tolak."


"Bisa bisanya. Aku belum makan nunggu kamu, kamunya malah makan sama orang lain."


"Yaudah makan gih."


"Ayo temani."


Celin menyuapi suaminya sembari sesekali membalas pesan.


"Hp nya di taro dulu kenapa sih. Fokus sama suami." Kesan Devan melayangkan protes.


"Penting. Ini karyawan pada lapor stok dagangan buat di jual online habis. Kita harus produksi lagi." Jawabnya meletakkan ponsel di atas meja.


"Kamu kan nggak perlu kerja, nggak perlu jualan dan bisnis segala macam. Kamu Sudah punya suami. Minta apa apa sama aku. Jadi istri duduk diam di rumah. Nggak susah."


Celin menatap suaminya yang begitu enteng berbicara.

__ADS_1


"Bukan cuman tentang uang. Ini semua untuk orang lain juga. Kalau aku nggak kerja otomatis karyawan aku juga nganggur. Mereka butuh uang untuk hidupi keluarga di rumah. Ijazah mereka rata rata smp mau cari kerja juga susah. Mereka bergantung sama bisnis aku."


Devan baru tau sekarang alasan istrinya begitu mandiri dan tak bergantung dengan kekayaan orang tua. Celin rela banting tulang jatuh bangun untuk membangun bisnis ternyata bukan untuk diri sendiri. Devan sangat beruntung mendapatkan gadis di depannya.


"Kalau sampai Aku menjatuhkan aku cium kamu. Kalau kamu menjatuhkan kamu dicium aku."


Ucap Devan sesaat sebelum memulai permainan uno stacko.


"Kenapa cium cium segala. Aturan macam apa itu. Makan lemon atau apalah. Lagian kamu terus yang dapat enaknya."


"Bilang aja takut. Ayo mulai." Devan menantang istrinya.


Celin mendapat giliran paling awal. Dengan hati hati gadis itu mengambil balok permainan.


Celin bersiap lari namun segera di cekal oleh sang suami.


"Mau kabur? Dasar licik. Kamu sudah kalah." Devan menindih istrinya.


"Peraturan kamu konyol. Mana ada hukuman sepihak begitu."


"Ada. Aku yang buat." Jawabnya sambil tersenyum. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Celin mendengar detak jantung suaminya.


"Jantung kamu kenapa?" Tanyanya dengan wajah polos. Tak menjawab laki laki itu mencium bibir mungil istrinya.


"Aw..." Keluh Celin saat ada merasakan gigitan dari Devan. Tak menyia nyiakan kesempatan laki laki itu memperdalam ciuman. Ia memasukkan lidahnya membelitkan pada lidah sang istri.


Suara ketukan pintu membuat Celin memukul lengan Devan hingga pangutan mereka terlepas.


"Maaf." Ucap Zahra yang tiba tiba menerobos masuk hingga merutuki kebodohannya harus menyaksikan pemandangan itu.


"Di panggil Mama." Jawabnya buru buru pergi.


"Menyingkir." Celin mendorong tubuh Devan.


"Woah... Tenagamu sangat kuat sayang. Bagaimana jika di ranjang." Ucapnya sambil tertawa.


"Tutup mulutmu. Dasar menyebalkan." Kesalnya berlalu pergi hanya di tanggapi senyuman oleh sang suami.

__ADS_1


__ADS_2