Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Penolakan


__ADS_3

"Kenapa liatin aku begitu?" Tanya Celin heran dengan tatapan sahabatnya. "Kamu hutang penjelasan sama aku. Kenapa kamu sembunyikan identitas kamu?" Jawab Sandra bersedekap dada. "Ya. Aku cuman pengen hidup damai aja. Lagipula keluarga juga tidak memperkenalkan aku sebagai bagian dari mereka kan." Gadis itu menghela napas atas jawaban Celin. Ia tau semua luka yang di alami. Semalam Bunda dan Gilang yang bercerita. "Kakak akan selalu ada untuk kamu." Ucapnya sambil memeluk dengan erat. "Kamu tau. Rasanya dulu kakak tidak percaya diri untuk terus berteman dengan kamu dan sekarang rasa tidak percaya diri itu semakin besar. Kakak hanya anak buangan yang hidup di panti tidak setara dengan kamu. Namun Kakak tau kamu tidak memandang seseorang berdasarkan harta. Kamu orang yang baik dan tulus." Sandra mengungkapkan semua isi hatinya. "Kenapa berpikir begitu? Aku senang berteman dengan siapapun." Jawabnya sambil tersenyum.


Tidak ada yang bisa Celin lakukan. Gadis itu hanya menonton TV sambil makan cemilan. Main game atau membantu di Cafe juga tidak mungkin karena tangannya belum pulih. "Mau di masakin apa?" Tanya Sandra menghampiri gadis yang tengah bermalas malasan di sofa. "Belum lapar. Nanti saja makannya." Sandra mengangguk kemudian duduk. "Gimana sama gebetannya? Jadi?" Gadis itu menggeleng pelan. "Nggak. Dia anak orang kaya ternyata. Seleranya tinggi. Aku mana mampu." Jawabnya sambil menghela napas. "Yasudah. Cari yang lain saja." Saran Celin. "Ada tamu kayanya. Aku liat dulu." Ia beranjak meninggalkan tempat karena mendengar bel apartemen berbunyi.

__ADS_1


"Kenapa kesini?" Tanya Celin pada kedua orang tuanya. "Papa sama Mama minta maaf sayang. Kembalilah pulang." Jawab Mama dengan mata sembabnya kentara jika wanita itu menangis dalam waktu yang cukup lama. "Tidak mau. Aku mau tinggal di sini." Celin tetap dalam keputusannya yang tak mungkin bisa diubah lagi. "Ayah mohon jangan begini Dek. Kami akan perbaiki semuanya. Ikut pulang ya..." Bujuknya. "Tidak mau Pa. Aku sudah nyaman disini. Aku tidak mau pulang." Jawabnya. "Kalau begitu Papa mohon ikut kami pulang sebentar. Ada hal penting yang akan Papa sampaikan." Ucap pria itu.


Di sisi lain Devan tampak duduk di ruang kerjanya. Laki laki itu memandang keluar jendela sambil beberapa kali menghela napas. Keadaan semakin rumit. Kepergian Celin dari rumah akan membuat hubungannya dengan gadis itu semakin menjauh. Apalagi wasiat perjodohan itu juga belum menemukan titik terang. Papa Celin sudah mengizinkannya untuk meminang sang putri bungsu. Kini masalah hanya pada empunya yang bersangkutan. "Ya Om." Kata Devan setelah terhubung dengan panggilan. "Ya. Devan akan kesana." Lanjutnya kemudian segera beranjak dari duduk.

__ADS_1


"Zahra. Kenapa kamu diam saja." Kesal Devan karena gadis itu sama sekali tak membantunya. "Aku suka sama kakak. Aku putusin pacar aku agar bisa bersama kakak." Jawabnya membuat Devan meradang. "Kamu keterlaluan." Kesalnya. "Kakak yang keterlaluan. Aku suka sama kakak dari dulu kakak tidak anggap sampai aku berganti ganti pacar untuk melupakan kakak tapi sia sia. Kakak kenapa malah suka sama gadis urakan itu." Zahra meluapkan amarahnya. "Dia memang urakan. Tapi tidak pernah berpura pura baik dan lembut di depan aku." Jawab Devan kemudian berlalu pergi meninggalkan Zahra sendiri.


"Bun. Kapan tangan aku sembuh?" Tanya Celin sembari makan disuapi Bunda. "Nanti kita tanya Dokter." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Tadinya liburan semester ini mau muncak di Bromo. Eh tangan pakai acara patah pula." Keluh Celina. "Kamu makanya kalau bawa motor hati hati. Mulai sekarang semuanya kakak yang pantau. Nggak ada ikut balapan lagi. Kemanapun kamu pergi kakak yang antar." Tegas Gilang. "Wah. Apa apaan itu. Nggak bisa gitu dong kak. Aku sudah besar. 17 + berapa minggu. Jangan anggap aku anak kecil deh. KTP dan SIM aku punya semua." Protesnya tidak setuju. "Menurut saja. Demi kebaikan kamu." Sandra mengusap kepala Celin dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2