
Celin baru saja pulang setelah empat hari berlibur di Jogja bersama Gilang. "Weh. Sudah pulang." Sapa supirnya. "Hehehe iya Pak. Oleh oleh yang masih di mobil itu bagikan ke semuanya ya. Sudah ada nama di masing masing wadahnya." Kata Celin sembari mengeluarkan beberapa dus. "Makasih Nduk. Biar bapak yang bawakan ke dalam." Pria itu dengan semangat membawanya masuk ke dalam rumah.
"Dek. Sudah pulang." Papa memeluk putrinya dengan erat. "Hm iya. Udah ah peluknya. Itu oleh oleh ada di meja. Celin mau mandi dulu." Jawab gadis itu sembari melepaskan pelukan Papanya kemudian berjalan menuju ke arah tangga.
Mama dan Zahra baru pulang. Keduanya ikut duduk bergabung bersama Papa. "Itu apa Pa?" Tanya Mama melihat beberapa kardus di atas meja. "Oleh oleh dari Celin." Jawabnya. "Celin sudah pulang? Mana dia?" Tanyanya lagi. "Di kamarnya. Lagi mandi." Ibu dan anak itu mengangguk kemudian bergagas pergi ke kamar Celin.
__ADS_1
"Dek." Panggil Mama celingukan namun tidak mendapati keberadaan gadis itu. "Masih mandi mungkin." Kata Zahra duduk di ranjang adiknya yang besar. Wanita itu mengangguk sambil mengamati seluruh sudut kamar anaknya. Ia berjalan menghampiri rak kaca yang penuh piala dan piagam penghargaan di bidang akademik maupun olahraga termasuk e sport juga. Meskipun tak mendapat kasih sayang yang berlimpah seperti kakaknya dan dengan kehidupan masa kecil yang cukup pahit namun prestasi Celin tak diragukan lagi. Sebagai seorang Ibu ada penyesalan mendalam di hati karena tak bisa bersikap adil dan lebih memanjakan putri pertamanya.
Mama langsung memeluk putrinya yang baru keluar dari walk in closet. "Kenapa?" Tanya Celin. "Mama kangen kamu Dek. Kenapa kemarin kemarin di hubungi nggak bisa?" Tanya wanita itu. "Lagi nggak pegang Hp." Jawab Celin apa adanya. "Kamu bikin kita khawatir Dek." Ucap Zahra ikut bergabung memeluk adiknya. "Udah ah. Jangan peluk peluk. Mau makan. Lapar." Keluh gadis itu. "Mau makan apa? Mama bikinkan." Celin menggeleng. "Mau bikin mie instan. Aku bisa sendiri." Jawabnya. "Biar Mama bikinkan. Kamu tunggu sebentar ya." Tanpa menunggu jawaban langsung pergi. "Mau kemana Dek?" Tanya Zahra. "Mau ambil charger di mobil." Jawabnya bergegas keluar kamar meninggalkan Zahra yang masih berada di kamar.
"Celin mana?" Tanya Mama menghampiri suami dan anak sulungnya yang sedang duduk di ruang keluarga. "Ambil charger di mobil. Daritadi belum kembali." Jawab Zahra. "Nah. Itu dia." Kata Papa melihat anaknya datang sembari membawa segelas besar sirup dingin. "Ini mie kamu sudah jadi Dek." Celin mengangguk kemudian duduk di bawah sembari memakan mie instannya. "Kamu nanti malam nggak kemana mana kan Dek?" Tanya Papa. "Nggak paling." Jawab Celin. "Bagus. Nanti malam ada yang perlu Papa sampaikan." Ucapnya namun Celin cuek saja sambil meneruskan makannya.
__ADS_1
Suasana beberapa saat menjadi hening. "Maaf Om. Saya sudah bicara dengan Zahra dan Zahra sudah memiliki kekasih serta saya juga tidak mencintainya. Jadi perjodohan ini tidak mungkin di teruskan." Ungkap Devan dengan hati hati. "Tapi Om juga tidak mungkin mengingkari perjanjian ini. Zahra, kenapa kamu tidak pernah bilang ke Papa kalau kamu punya kekasih." Tanya Pria itu. "Maaf Pa." Jawab Zahra. "Em. Saya bisa menjalankan wasiat Om. Tapi Saya tidak bisa menikahi Zahra. Saya mencintai Celin." Devan mengatakan apa yang mengganjal di hatinya. "Baiklah. Nanti kita bicarakan dengan Celin." Kata Papa.
Pukul 9 malam beberapa orang tergesa gesa memasuki rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang UGD. "Bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Papa membuat semua yang ada disana terkejut. Mereka sama sekali tidak tahu jika Celin anak orang yang sedang berdiri di depannya. "Masih ditangani dokter Om." Jawab Gilang. Papa mengangguk kemudian mengajak pemuda itu untuk duduk. "Bagaimana bisa kecelakaan begini?" Tanyanya. "Tidak tau Om. Saat Celin kecelakaan saya berada di rumah dan dihubungi polisi. Katanya Celin mengalami kecelakaan tunggal saat pulang dari balapan." Jelas Gilang takut takut.
"Keluarga pasien?" Dokter keluar dari ruangan. "Saya Dok." Kata Papa. "Oh. Pak Satria. Yang di dalam anaknya?" Tanya Dokter paruh baya itu terkejut. "Iya. Bagaimana keadaan anak saya?" Mama begitu tak sabaran. "Patah tulang lengan dan luka di kepalanya sudah kami atasi." Jawabnya sembari menjelaskan keadaan Celin. "Baik Dok, terimakasih." Ucap Papa sedikit lega.
__ADS_1
Maaf ya. Review nya lama. Padahal sudah up dari pagi lho....