Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Kita Mulai Dari Awal


__ADS_3

"Hari ini kita pergi ke rumah Papa." Kata Devan memulai obrolan. "Mau ngapain?" Tanya Celin sembari melahap sandwich nya. "Tidak tau. Pokok nya kita di suruh datang." Jawab Devan. "Nggak mau ah. Lagi malas mandi. Kamu kalau pergi, sendiri saja. Aku nggak ikut." Devan tersenyum mendengar ucapan Celina. "Aku mandikan kalau sedang malas mandi." Ucapnya membuat sang istri melayangkan tatapan tajam. "Mending nggak mandi daripada di mandiin kamu." Jawabnya kesal.


Hujan masih belum berhenti sama halnya dengan Celin yang belum juga mandi padahal Devan sudah mengomel sedaritadi. "Astaga. Sayang. Ayo buruan mandi." Tutur pria itu menghampiri istrinya yang mengamati hujan dari kaca besar yang menyuguhkan pemandangan dari ketinggian. "Lihat deh. Jalanan sepi banget." Ucapnya keluar dari topik pembahasan. "Eh tunggu. Kamu panggil apa?" Tanyanya baru tersadar menatap laki laki yang sedang berdiri di sampingnya itu. "Sayang. Kamu tidak setuju? Atau mau di panggil yang lain? Hohey? Baby?" Celin bergidik. "Panggil nama saja." Jawabnya. "Tidak bisa. Mulai sekarang biasakan itu." Devan mengecup pipi istrinya.


"Nggak mau." Kesal Celin tiba tiba di gendong suaminya menuju kamar mandi. "Itu air hangat. Kamu tidak akan kedinginan." Celin semakin memeluk Devan dengan erat saat dengan sengaja laki laki itu memposisikan dirinya di atas bathup. "Mandi atau aku mandikan." Ancamnya menceburkan tubuh sang istri. "Keterlaluan." Teriak Celin kesal.


Devan menatap istrinya yang tampil begitu cantik dengan baju yang sudah Ia siapkan. "Sini duduk sebentar." Tutur pria itu namun Celin masih berdiri di tempat. Ia menarik tangan sang istri hingga terduduk di sofa. "Mau ngapain? Jangan aneh aneh." Kata Celin menatap tajam suaminya yang sedang membawa perlengkapan make up. "Hanya memakaikan bedak tipis saja. Menurutlah." Jawab Devan dengan lembut. "Mau apa sebenarnya pakai kebaya dan berdandan begini." Laki laki itu tersenyum. "Nanti kamu juga tau sendiri." Meskipun tak begitu mahir namun Ia cukup bisa. Wajah istrinya sudah sangat cantik alami. Ia hanya perlu menambahkan sentuhan sedikit saja. Semalam Ia belajar. Istrinya tidak bisa berdandan jadi Ia yang berinisiatif. "Sudah selesai. Kamu sangat cantik Sayang." Puji Devan jujur.

__ADS_1


Celin duduk bersama suaminya. Pantas saja dia di suruh berpakaian seperti ini. Ternyata ini adalah hari pernikahan Zahra. Sengaja di majukan karena Ayah sumi Zahra yang sakit meminta agar pernikahan di lakukan secepatnya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Devan mengejar istrinya yang buru buru mengundurkan diri saat keluarga sedang makan bersama setelah acara selesai. "Ada keperluan." Jawab Celin meninggalkan sang suami yang terus berjalan mengikutinya. "Urusan apa?" Ia tak tahan mencekal tangan gadis itu. "Lepasin. Aku buru buru." Kesalnya menghentakkan tangannya kasar kemudian segera pergi.


"Celin kemana Dev?" Tanya Mama saat menantunya ikut duduk bergabung kembali. "Ada urusan mendesak Ma." Jawabnya sambil tersenyum. "Dev. Ajak Celin untuk tinggal disini ya. Biar kita kumpul sama sama." Ucap Papa. "Iya Pa. Nanti Devan akan bicarakan.


Zahra hanya diam. Gadis itu makan dengan tenang di samping suaminya. Pernikahan yang tak di harapkan nya namun sudah terlanjut terjadi. Ia sudah terikat janji dengan sang ayah mertua. Mau kabur pun tak bisa. Mau tak mau Ia harus menjalani.

__ADS_1


Belum sempat tersambung sosok gadis berjalan dengan pakaian tenisnya sembari menjinjing tas mendekati semua orang. "Kamu darimana aja sih Dek?" Semuanya berdiri mendekat membuat gadis itu mundur seketika. "Aku main tenis. Ngapain dekat dekat sih?" Tanyanya. "Kami khawatir." Jawab Papa. "Iya. Sekarang sudah ketemu kan. Aku mau mandi dulu." Ucapnya bergegas pergi.


Devan menyusul istrinya di kamar. "Sudah makan?" Tanyanya melihat Celin baru saja keluar dari kamar mandi. "Belum. Mana sempat." Jawabnya. "Ayo. Aku siapin makan." Tiba tiba saja Ia menggenggam dan menarik tangan istrinya untuk diajak jalan bersama.


"Males deh makan begitu." Keluh Celin menatap hidangan di meja makan yang di siapkan pelayan. "Maunya apa?" Tanya Devan. "Mie instan aja." Jawabnya. "Oh. Iya. Ayo aku buatkan."


Celin hanya duduk menunggu suaminya yang sibuk membuat mie. "Sedang apa?" Tanya Papa tiba tiba datang. "Lagi buat mie untuk istri. Papa mau?" Tawarnya langsung di jawab gelengan. "Jangan keseringan makan mie Dek." Ucap pria itu mengusap kepala putrinya lalu pergi sembari membawa botol air yang baru diisi.

__ADS_1


"Sudah siap." Ucap Devan menyajikan semangkuk mie kuah panas di depan Istrinya. Tanpa banyak basa basi Celin langsung makan karena sudah lapar. "Pelan pelan sayang." Ucapnya sembari membersihkan bibir sang istri. "Enak kan buatan aku." Devan berkata dengan percaya diri. "Enak." Jawab Celin singkat, padat dan jelas.


Devan menyusul istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Ia menyingkirkan guling yang selama ini menjadi penghalang. Devan memang bebas memeluk istrinya ketika Celin sudah tertidur pulas. Namun kali ini Ia akan melakukannya di saat sang istri masih terjaga. "Ih. Apaan sih." Celin merasa risih. "Aku suami kamu. Bebas lakukan apapun." Jawab Devan semakin memeluk erat. "Lepasin." Celin mencoba memberontak namun sia sia dan memilih diam karena lelah. "Kamu tidak boleh pergi kemanapun. Cukup temani aku dan selalu ada di sampingku. Ayo kita bangun rumah tangga kita dan memulainya dari awal. Aku akan belajar menjadi suami yang baik." Ungkap Devan.


__ADS_2