
Karena sedang weekend Celin selesai sarapan langsung bermalas malasan di sofa sembari menonton kartu kesukaannya.
"Mas. Aku gajian. Kamu mau aku traktir nggak?" Tanya Wanita itu melihat suaminya baru selesai mandi.
"Uang aku buat apa kalau kamu punya uang sendiri."
"Buat beli kebutuhan rumah, bensin, jajan kadang. Bensin sekarang mahal Mas. BBM lagi naik. Jadi habis banyak. Kamu dapat laporannya kan."
"Iya. Tidak habis banyak. Lain kali beli baju, tas, sepatu atau apa gitu pakai uang aku. Make up juga dibutuhkan lo bagi seorang wanita. Oh perhiasan juga. Suamimu ini kaya. Punya perusahaan yang di titipkan ke asisten. Jangan biarkan uangnya menganggur." Devan menyombongkan diri.
"Semuanya kan sudah kamu belikan."
"Kamu tidak pakai."
"Ya nanti aku pakai."
"Hm. Jadi gimana? Kamu tadi katanya mau traktir aku."
"Iya. Kamu mau? Jangan beli baju atau sepatu tapi. Hehe... Mahal mahal punya kamu. Aku ndak mampu. Yang lain aja." Celin takut uangnya terkuras habis jika membelikan perlengkapan fashion sang suami yang harganya bikin muntah karena mahal mahal. Bukannya tak mampu. Tapi sayang saja uang hasil kerja keras harus melayang dengan cuma cuma. Terlebih lagi baju Devan juga masih banyak. Kemarin saja baru belanja.
"Mau traktir suami perhitungan." Devan mengecup bibir istrinya.
"Ya kamu taulah aku itu tidak sekaya kamu."
"Hartaku milikmu. Lagian harta Papa dan Mama juga pasti di kamu. Kamu itu kaya tapi sederhana dan perhitungan."
"Tau ah. Jadinya minta apa?"
"Nanti aja aku kasih tau. Sekarang kamu mandi gih. Kita pergi ke mall."
"Ntar ya. Belum selesai kartunnya."
"Sekarang sayang. Ayo aku mandikan." Devan menggendong istrinya karena tak menerima penolakan.
Celin dan Suaminya sudah berada di mall. Berkali kali wanita itu melayangkan protes karena malu Devan merangkul pinggang dan mengecup keningnya beberapa kali sehingga seketika Ia menjadi pusat perhatian.
"Sudah jangan bertingkah. Nanti aku cium seperti saat kita di ranjang mau?" Ancam Devan seketika membuat istrinya diam.
__ADS_1
"Bagus koalaku sayang. Begini kan enak." Ucapnya sambil tertawa kecil.
Devan mampir di toko parfum mahal langganannya.
"Kamu mau beli parfum?" Tanya Celin ketar ketir karna tau disini harganya mahal mahal.
"Iya. Tidak masalah kan?"
"Enggak. Pilih saja mana yang kamu suka." Jawabnya tenang sedikit menantang. Devan mengangguk lalu mengajak istrinya untuk melihat lihat dulu.
"Kalau ini gimana Yang?" Tanya Devan sambil menciumkan botol parfum hitam di hidung istrinya.
"Wangi."
"Kalau aku pakai ini gimana? Kamu nyaman nggak?"
"Nggak masalah." Jawab Celin.
"Yang bayar istri saya." Ucap Devan menekankan kata istri saat kasir tampan itu terus menatap Celin membuat Ia cemburu.
Celin kehilangan uang 21 juta rupiah hanya untuk membelikan parfum suaminya. Oh... uang segitu banyak hanya untuk parfum. Celin rasanya ingin pingsan saja. Itu setara dengan gajinya untuk melayani 7 orang pasangan yang akan foto prewedding dengan kualitas standar di studio.
"Sayang, Kamu tidak apa kan?" Tanya Devan karena istrinya sedaritadi diam.
"Lapar. Makan dulu ya."
"Iya. Kali ini aku yang pilih tempat. Nggak mau aku kamu ajak makan di pinggir jalan."
"Terserah deh. Padahal enak juga."
Devan dan Celin kini sudah duduk berdua di salah satu restoran mewah. Sebenarnya Ia ingin memesan tempat privat tapi kata istrinya buang buang uang dan terpaksa menurut saja harus makan bersama pengunjung yang lain.
"Wow steak jutaan rupiah. Serasa mau menangis saja aku." Keluh Celin membuat suaminya tertawa. Bagi Devan istrinya itu sangat unik. Celin dari keluarga konglomerat tapi urusan begini saja responnya sangat berlebihan.
"Sudah. Ayo dimakan. Itu aku yang pesankan pasti enak. Sini aku suapi." Ucap Devan sambil mengusap kepala istrinya penuh sayang.
"Makan sendiri saja. Malu di lihatin orang. Nanti kamu di sangka Ayah aku mau?"
__ADS_1
"Enak saja Ayah. Aku suami kamu."
"Makannya. Makan sendiri sendiri saja."
"Itu alasan kamu untuk menghindar saja kan?"
"Terserah kalau tidak percaya." Celin mulai menyantap hidangannya.
Celin langsung bersih bersih dan mengganti bajunya dengan piyama begitu sampai di rumah.
"Terimakasih." Ucap Devan memeluk istrinya.
"Sama sama." Jawab Celin tersenyum menatap sang suami.
"Mau kemana?" Tanya Devan saat istrinya melepaskan pelukan.
"Mau lihat bintang."
Devan hanya menemani istrinya yang sedang sibuk dengan teropong bintang.
"Masuk yuk. Nanti kamu sakit." Tutur Pria itu merasakan hawa dingin karena mereka sedang berada di balkon kamar.
"Lagi mendung nggak ada bintang. Lihat yang di jalan saja siapa tau ada yang tampan." Devan membelalakkan matanya mendengar apa yang barusan sang istri katakan.
"Oh mau lihat cowok tampan ya? Jangan harap." Devan menggendong istrinya masuk ke dalam. Pria itu meletakkan tubuh ringan Celin di ranjang kemudian menindihnya setelah mengunci jendela dan menutup gorden.
"Apa suamimu kurang tampan?" Tanya Devan.
"Tidak tau." Jawab Celin mendapat ciuman dari sang suami.
"Benar benar minta di hukum koala kecilku ini." Devan yang sudah tidak tahan lagi mulai menggerayangi istrinya. Membuka seluruh pakaian Celin satu per satu hingga wanita cantik itu polos sempurna.
"Ugh..." Devan melenguh panjang. Pria itu telah melakukan beberapa kali pelepasan dan kini akhirnya tumbang. Ia memeluk tubuh polos sang istri setelah memberikan ciuman penutup. Napasnya masih terengah engah. Dengan bibir tersenyum sempurna menatap Celin.
"Enak?" Tanya Celin.
"Sangat. Terimakasih banyak. Kamu sangat nikmat sayang. Aku mencintaimu." Jawab Devan mendekap tubuh istrinya lebih erat.
__ADS_1