
"Celin dimana Ma?" Tanya Papa saat istrinya kembali dari kamar anaknya. "Lagi sibuk sama kegiatannya. Papa tau sendiri kan kalau di depan komputer nggak ada yang bisa ganggu." Jawabnya sambil duduk setelah menyiapkan sarapan untuk sang suami. "Dev. Ayo sarapannya di makan." Ajak Papa. "Iya Om." Laki laki itu tersenyum mulai memegang sendoknya. Pantas saja sering bolos dan telat. Ternyata pagi pagi begini sudah sibuk dengan game.
"Pa. WiFi di rumah kenapa mati sih." Protes Celin menghampiri mereka yang sedang sarapan. "Mungkin lagi eror kali. Sini sarapan dulu." Ajak pria itu. "Mau bilang ke Pak Rangga dulu." Jawabnya berlalu pergi.
Beberapa saat kemudian Celin kembali dan duduk bergabung bersama keluarganya. Gadis itu meraih susu kotak dan meminumnya. "Gimana?" Tanya Mama. "Pak Rangga bilang baik baik aja. Papa sengaja ya?" Tanya Gadis itu. "Enggak." Jawabnya gugup. "Sudah. Sarapan dulu." Mama menyiapkan makan untuk putrinya. "Nggak mau nasi goreng Ma." Kata Celin membuat wanita itu menghentikan kegiatannya. "Maunya apa?" Tanya Mama. "Mau roti bakar aja. Minta Bibi di dapur." Mama tampak menghela napas sembari memandangi kepergian anak bungsunya itu. "Selalu rewel begitu ya Om?" Tanya Devan. "Iya. Nggak mau makan nasi. Maunya roti. Setiap sarapan pasti begitu." Jawab Papa.
__ADS_1
Semuanya sudah bersiap. Hari ini mereka akan pergi ke puncak. Menginap satu malam disana dan pulang di hari Minggu pagi. Celin menghampiri mereka. Gadis itu tampak cantik dengan celana cargo, sneaker dan Hoodie putihnya. "Aku naik motor Pa." Ucapnya. "Tapi..." Belum sempat melanjutkan tangan Mama sudah di genggam oleh sang suami. "Iya. Papa temani." Kata Pria itu sembari tersenyum. Sebisa mungkin Ia akan menuruti keinginan putrinya. "Pa." Protes Mama. "Jangan khawatir. Biarkan dia lakukan apa yang dia suka." Tutur Papa berdiri untuk menyusul putrinya yang sudah keluar lebih dulu.
"Kenapa pakai itu sih?" Tanya Papa melihat anak bungsunya mengeluarkan motor trail. "Kalau pake motor Moge ngga cocok, Pakai motor sport punggung sakit. Cocok ya pakai ini." Jawanya. "Papa naik mobil aja deh. Nanti belum sampai setengah perjalanan udah nyerah kaya waktu itu. Nanti yang repot aku juga." Ucapnya. Pria itu mengangguk menuruti anak gadisnya. Ia tak mau kejadian yang sama terulang kembali. Waktu itu Ia bersikeras menemani Celin naik motor saat mau ke puncak. Tiba tiba saja di tengah perjalanan merasa lelah dan kepanasan. "Kamu hati hati." Kata Papa mengecup kening Celin.
Mobil yang di tumpangi keluarga mengikuti Celin dari belakang. "Dia itu nggak bisa pelan ya bawa motornya." Batin Devan melihat gadis di depannya itu membawa motor dengan kencang. "Papa sih. Celin itu di kasih tau dong kalau bawa motor jangan ngebut begitu." Kata Mama menepuk lengan suaminya. "Apa sih Ma. Biarin. Kalo Mama ngomel begini Celin nggak nyaman." Jawab Pria itu santai. "Papa sih terlalu manjain. Apa apa boleh. Makannya anak jadi begitu. Mama khawatir tau." Kesalnya.
__ADS_1
Devan menghampiri Celin yang Sedang berbaur dengan orang orang yang sedang memetik teh. "Pak Devan." Kaget gadis itu. "Kamu ngapain disini?" Tanya Devan. "Petik Teh." Jawab Celin. "Ayo duduk." Ajaknya menggandeng tangan anak sahabat Ayahnya itu untuk duduk di bangku yang tak jauh dari sana.
"Kamu kenal mereka?" Tanya Devan. "Kenal. Aku dari kecil kan mainnya disini. Jadi kenal Bibi yang metik teh itu." Jawabnya. "Ada telpon." Celin merogoh sakunya. "Kak Gilang." Jawabnya setelah panggilan terhubung. "Kamu dimana? Kakak cari di apartemen dan di cafe nggak ada." Ucap seorang laki laki di sebrang sana. "Em..Aku lagi di luar. Ada keperluan." Celin berkata sambil menghela napasnya. "Tapi kamu baik baik saja kan?" Gadis itu mengangguk. "Ya. Jangan khawatir. Aku baik baik saja Kak." Balasnya.
"Kalian sudah pulang. Ayo makan siang dulu." Ajak Mama melihat Celin dan Devan datang bersamaan. Keduanya mengangguk segera mengikuti langkah wanita itu menuju ruang makan.
__ADS_1
"Nggak mau sayur Ma. Mama kan tau aku nggak doyan." Protesnya. "Mau pakai apa?" Tanya wanita itu. "Pakai nasi sama tempe aja." Jawab Celin. "Makan sayur Dek. Biar sehat." Tegur Zahra. "Nanti kalo pengen." Celin mulai makan makanannya. "Devan Om titip Celin. Om minta tolong awasi dia di kampus ya. Om beberapa kali dapat laporan Celin bolos. Nanti kalau ada apa apa beritahu Om." Devan mengangguk dengan semangat. "Baik Om. Devan akan lakukan seperti yang Om minta." Celin memandang dua orang itu bergantian kemudian menghela napas.