
Celin kini sering menghabiskan waktu bersama suaminya. Sekarang Ia sudah terbiasa dengan adanya Devan dan justru merasa nyaman dengan laki laki berstatus suaminya itu. Seperti saat ini keduanya sedang gym bersama. Sepasang suami istri itu sedang melakukan pull up saling berhadapan dan terlihat begitu romantis.
"Mau sarapan apa?" Tanya Celin menyudahi kegiatannya duluan.
"Apa aja." Jawab Devan menghampiri istrinya kemudian memberikan kecupan singkat.
"Kamu mandi duluan biar aku yang siapkan sarapan."
"Kita siapkan bersama." Ajaknya menggandeng tangan sang istri untuk berjalan bersama.
Hidangan telah tersaji di meja. Keduanya memerlukan waktu satu jam lebih untuk menyiapkan.
"Setelah ini keluar yuk." Ajak Devan yang sedang makan sambil menyuapi istrinya.
"Kemana?"
"Jalan jalan. Kemana aja."
"Nonton mau? Ada film horor baru yang tayang di bioskop."
"Boleh sih. Memang yang romance nggak ada?"
"Yang romance nggak seru. Kurang menantang." Jawab Celin.
"Kamu memang diajak romantis nggak bisa. Tapi pulang nanti nonton film romance di rumah."
"Habis nonton kok nonton lagi. Kenapa sekalian nggak usah pergi kalau kamu mau nonton itu."
"Iya deh. Nggak usah pergi. Kita nonton di rumah aja. Aku punya film bagus."
"Film apa?"
"Ada. Kamu pasti suka." Jawab Devan sambil tersenyum penuh makna.
"Kenapa lampunya di matikan segala?" Tanya Celin sekarang kamarnya sudah gelap hanya di terangi cahaya dari proyektor yang menyala.
"Kan lagi nonton. Di bioskop aja gelap." Jawab Devan segera duduk di samping sang istri.
"Ya tutup gorden aja harusnya cukup."
__ADS_1
"Sudah jangan protes. Kita mulai sekarang."
Beberapa menit berlalu Celin mulai merasa risih dengan kejanggalan kejanggalan di film yang di putar suaminya. Adegan adegan tidak pantas saling meraba raba beberapa kali terlihat dan sekarang si laki laki mulai menelanjangi perempuan. Ia melirik suaminya penuh tanya. Apa maksud laki laki ini mengajaknya menonton film yang tidak jelas. Apa Devan ingin mengotori otaknya yang masih suci. Pikiran Celin seketika buyar saat mendengar suara suara aneh yang muncul. Ia menutup mata melihat adegan di layar besar itu.
"Ini edukasi." Ucap Devan kemudian mematikan. Ini juga pertama kali baginya menonton dan berharap bisa melakukan adegan itu bersama istrinya.
Di ruangan yang masih sama Devan menggendong istrinya yang masih menutup mata. Laki laki itu meletakkan Celin di ranjang dengan hati hati.
"Apa yang..." Celin seketika tak bisa berucap saat Devan membungkamnya dengan ciuman yang begitu panas dan dalam. Bukan hanya itu, tangan Devan juga mulai bergerak liar meraba raba seperti di adegan film barusan. Apa laki laki ini mencoba mempraktekkan? Celin bertanya tanya dalam hati.
Devan terus menciumi istrinya. Turun ke bawah hingga ke dada Celin. Ia mengecup meninggalkan bekas kemerahan disana. Menyesap kuat hingga mendapatkan protes dari sang istri.
"Apa ini?" Tanya Celin merasakan benda keras menempel di pahanya.
"Milikku. Kamu akan merasakannya." Jawab Devan.
Baru saja hendak bergerak ke bawah suara bell membuat Ia mengumpat dalam hati. Seperti biasa Celin mendorong suaminya bergegas berbenah untuk melihat siapa yang datang.
Devan menghampiri mertua dan istrinya setelah menuntaskan sendiri apa yang tak mendapat pelampiasan.
"Baru mandi Dev?" Tanya Papa basa basi.
"Iya Pa." Jawabnya sambil tersenyum kemudian duduk.
"Nanti kita datang." Jawab Celin tumben tumbenan langsung menyetujui membuat kedua orang tuanya senang.
Celin mengeluh sakit perut membuat suaminya cemas. Laki laki itu mulai mengusap pinggang istrinya setelah membantu untuk minum obat.
"Masih belum reda juga?" Tanya Devan khawatir.
"Masih sakit." Jawabnya kini sambil menangis.
"Kita ke dokter ya."
"Nggak mau."
"Terus kapan sembuhnya? Ayo ke dokter." Tanpa mendapat persetujuan Ia menggendong istrinya yang sudah pucat.
Devan menemani istrinya yang masih di periksa di salah satu klinik dekat apartemen sesuai permintaan sang istri karena gadis itu bilang jika periksa di rumah sakit Papa dan Mamanya akan heboh.
__ADS_1
"Magnya kambuh. Saya resepkan obat. Nanti di minum setelah makan ya. Hindari makanan pedas dan asam karena bisa memicu."
"Baik Dok." Jawab Devan.
Keadaan Celin sudah cukup membaik. Ia sedang tiduran nyaman sambil mengamati hujan di temani suaminya.
"Pak Devan." Panggil Celin membuat suaminya kesal.
"Aku suami kamu bukan bapak kamu asal tau saja."
"Terus?"
"Jangan panggil begitu."
"Panggil apa dong?"
"Sayang, Baby, Honey, Mas."
"Yang terakhir saja tidak menggelikan." Jawab Celin sambil tertawa kecil.
"Dasar gadis nakal."
"Aku katanya sudah punya suami kenapa kamu selalu memanggil gadis."
"Memangnya kita sudah malam pertama? Kamu saja masih perawan."
"Malam pertama?" Jujur Celin bingung tak dibuat buat.
"Melakukan hubungan suami istri." Jawab Devan.
"Maaf." Celin tidak enak hati. Ia benar benar belum siap. Menikah saja Ia tak siap secara mental apalagi melakukan itu.
"Tidak apa. Kita pacaran dulu saja. Aku akan menunggu." Jawab Devan mengecup bibir istrinya.
"Tidak boleh makan ini." Tegur Devan.
"Sini makan aku suapi." Lanjutnya menyingkirkan piring sang istri dan makan sepiring berdua.
"Tadi sakit perut Ma. Mag nya kambuh. Nggak boleh makan asam pedas." Devan memberi tahu karena mertuanya tampak kebingungan.
__ADS_1
"Kok nggak kasih kabar." Papa melayangkan protes.
"Sudah sembuh kok." Jawab Celin mulai mengunyah makanan yang di suapkan sang suami.