
Melihat Celin berlari di jam jam seperti ini bukanlah hal yang mengherankan lagi. Mereka sudah terbiasa. Bahkan satu kampus sudah familiar dengan perangai gadis cantik itu. "Permisi kakak." Ucapnya menerobos beberapa mahasiswa yang sedang berbincang.
Ia mengatur napas saat sampai di depan kelas. Menarik udara dalam dalam dan mulai membuka pintu ruangan yang sedang berlangsung pelajaran di sana. "Pak." Celin cengar cengir berbanding terbalik dengan teman temannya yang sedang ketar ketir. "Kamu Celin benar?" Tanyanya sambil bersedekap dada. "Iya Pak." Laki laki itu tampak menganggukkan kepala. "Kamu sudah dua kali tidak masuk kelas saya. Apa alasannya?" Helaan napas kabur dari bibir pink Cherry yang menjadi daya tarik laki laki di depannya. Celin mulai menjelaskan jika alasan Ia tak masuk karena telat. Devan mengapresiasi kejujurannya namun Ia juga tak mengizinkan masuk. "Tunggu di luar. Setelah kelas ikut ke ruangan saya." Perintahnya datar langsung di laksanakan.
Celin berjalan sambil berbalas pesan mengikuti langkah dosennya. "Au." Keluh gadis itu menabrak punggung Devan yang berhenti tiba tiba. "Kamu." Devan berbalik. "Bapak sih berhenti tiba tiba." Ucapnya sambil menggosok kening. "Ayo masuk." Ajaknya sambil membuka pintu.
__ADS_1
"Duduk." Tegas Devan saat sampai di dalam. Celin mengangguk kemudian duduk di kursi kosong tepat di depan meja dosennya. "Kamu sudah absen dua kali. Saya beri tugas untuk memulihkan absen kamu." Ucapnya sembari mencatat sesuatu di selembar kertas lalu mendorong hingga sampai di depan mahasiswi yang sedang duduk diam itu. "Beuh....Banyak banget Pak. Di kumpulkan kapan?" Tanya Celin sembari mengeluh. "Tiga hari lagi." Jawab Devan. "Masa tiga hari lagi pak. Kurang waktunya. Saya sibuk. Dan nomor di bawah ini nomor siapa?" Laki laki itu tersenyum melihat gadis di depannya yang tampak mendumel. "Tidak usah protes. Itu nomor saya. Hubungi saya kalau kamu menemukan kesulitan." Celin tampak mengangguk kemudian segera berpamitan.
"Astaga. Setan. Bikin kaget aja." Ucap Celin mengusap dadanya karena terkejut Sandra dan Gilang sudah ada di depan ketika Ia keluar dari ruangan Devan. "Kamu mau di bunuh atau di apakan?" Tanya Sandra menolak balikkan badan sahabatnya untuk mengecek. "Di bunuh dengan tugas." Jawab Celin sembari duduk di bangku diikuti keduanya. "Bikin rangkuman. Oh ini nomor pak Devan. Kok dia kasih nomor ke kamu. Kita yang minta aja nggak di kasih." Gumam Sandra. "Tau ah." Kesal Celin. "Jangan sedih. Kita nanti bantu kerjakan." Kata Gilang memeluk gadis itu.
Devan baru keluar dari ruangan untuk mengisi kelas selanjutnya. Ia langkahnya melihat sebuah kertas tergeletak di bangku. "Celina." Geramnya. Banyak yang berlomba lomba untuk mendapat nomor WhatsApp nya namun Ia tak memberi. Sedangkan Celin di beri cuma cuma malah di buang begitu saja. "Kurangnya aku dimana?" Telisik Devan pada diri sendiri. Ia pintar, tampan dan mapan. Kenapa gadis itu tidak tertarik sama sekali.
__ADS_1
"Satu Cappucino dan blackforest. Saya tunggu di meja." Ucap Seorang pria memesan sambil menyerahkan kartunya. "PIN nya." Kata Seorang gadis membuat jantung Devan berdetak kencang. "Kamu." Ucap Laki laki itu. "Eh. Pak Devan." Jawabnya sambil tersenyum. "Kamu antar sendiri. Saya tunggu. Saya mau bicara sama kamu." Tegasnya berlalu begitu saja.
"Silahkan Pak." Celin menyajikan pesanan Devan di atas meja. "Duduk." Perintahnya. "Kamu membuang ini?" Tanya Devan meletakkan kertas di atas meja. "Kok ada sama bapak?" Heran tapi bukan Celin yang heran tapi Devan. Ia begitu heran dengan kecerobohan gadis di depannya hingga tanpa sadar menghilangkan tugas dan nomornya sekalian. "Kok ada sama saya? Kamu itu gimana. Ninggalin tugas yang saya berikan. Saya menemukannya di bangku depan ruangan saya." Jawabnya di tanggapi dengan anggukan. "Yasudah. Makasih Pak." Celin berdiri dari duduknya. "Kamu kerja disini?" Tanyanya. "Iya Pak." Jawab gadis itu bergegas pergi untuk melayani pelanggan lainnya.
Celin baru sampai di rumah jam 10 malam. Suasana begitu sepi menandakan orang orang sudah tidur di kamar masing masing. "Baru pulang Dek?" Tanya Zahra terlihat menaiki tangga. "Ya." Jawab Gadis itu singkat mendahului sang kakak untuk pergi ke kamar.
__ADS_1
Rasa lelah bekerja tak serta merta membuat gadis itu tidur cepat. Selesai mandi Celin langsung duduk di kursi gamingnya. "Ya. Sudah sampai." Kata Celin menjawab panggilan dari seseorang. "Nanti dulu. Ini baru mulai." Lanjutnya lagi. "Hm. Nanti dulu, dua jam saja. Setelah itu tidur." Ia tampak mengangguk. "Malam juga." Jawabnya lalu panggilan berakhir begitu saja.