Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Biar Jadi Kejutan


__ADS_3

"Sudah belum Mas?" Tanya Celin menunggu suaminya yang sedang bersiap. Pria itu sangat lama hingga setengah jam Celin duduk suaminya belum menghampiri juga. Mereka akan pergi cek kandungan sekalian mampir ke rumah Mama untuk menjenguk putri Zahra. Waktu itu Celin juga ikut ke rumah sakit menemani. Namun hari ini Ia akan datang untuk menengok Calisa mungil yang sangat menyukai tantenya. Bayi itu begitu tenang saat bersama Celin. Tidak menangis ataupun rewel sama sekali.


"Sudah siap ayo." Ucap Devan menghampiri lalu mengecup kening wanita hamil itu dengan penuh sayang.


"Lama banget kaya cewek. Aku sudah kelamaan nungguin kamu."


"Maaf tadi aku pipis dulu sebentar." Jawab Devan menggandeng tangan istrinya.


Celin dan suami sudah sampai di rumah sakit setelah sekitar 20 menit menempuh perjalanan. "Hati hati." Ucap Devan membantu istrinya turun. Seperti biasa Ia merangkul mesra pinggang Celin untuk menunjukkan ke semua orang jika wanita cantik itu miliknya seorang. Ya walaupun semuanya sudah tau namun mereka sesekali melihat istrinya dengan pandangan kagum membuat Devan kesal dan ingin rasanya mematahkan leher mereka seketika itu juga.


Tak perlu mengantri. Seperti biasa Devan langsung mengajak istrinya masuk karena sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter.


"Selamat datang Tuan. Nyonya. Silahkan duduk." Ucap wanita paruh baya bername tag Grace itu dengan ramah.


"Terimakasih Dok." Jawab Celin sambil tersenyum sementara Devan hanya mengangguk saja.


Setelah berbincang sebentar Celin mulai melakukan pemeriksaan. Wanita itu berbaring sembari memperhatikan layar monitor kecil yang menampilkan buah hatinya.


"Bayinya sehat dan tumbuh dengan baik. Apa Tuan dan Nyonya ingin tahu jenis kelaminnya?"


"Memang sudah bisa dok?" Tanya Devan di jawab anggukan.


"Tidak perlu Dok. Biar jadi kejutan saja." Ucap Celin.


Devan tersenyum melihat istrinya yang sedaritadi fokus memperhatikan foto hasil USG. Wanita itu berkali kali mengatakan kata mungil dan lucu untuk mendefinisikan anaknya yang masih dalam kandungan.


"Mampir dulu." Ucap Celin tiba tiba.


"Kemana lagi?" Firasat Devan tidak enak. Pasti istrinya minta makanan pinggir jalan.


"Mau es americano. Mampir ke cafe dulu."


"Es lagi. Kamu pilek nanti."


"Enggak. Ayo mampir sebentar."


"Hm. Mampir ke cafe dulu Pak." Ucap Devan pada supirnya.


"Mbak Celin." Para pegawai menyambut kedatangan wanita hamil itu.


"Mampir. Aku mau americano dua. Kamu mau apa mas?"


"Nggak. Kok beli dua? Satu saja."


"Satu lagi buat pak supir." Jawab Celin.


Devan dan istri telah sampai di rumah Papa.


"Pelan pelan jalannya Yang." Ucap Pria itu menuturi sang istri yang sedang berjalan menaiki tangga menuju teras.


"Dek." Mama langsung memeluk Celin.

__ADS_1


"Minum es lagi."


"Nggak mau dengerin apa kata orang sih Ma." Sahut Devan pada mertuanya.


Celin menggendong keponakannya dengan hati hati. "Kenapa nggak bangun?" Tanya Wanita itu.


"Habis minum susu Dek." Jawab Zahra tersenyum kini hubungannya dengan sang adik membaik.


"Oh. Aku taro aja kalau gitu."


"Mau kemana?" Devan mencekal tangan istrinya yang hendak pergi.


"Ke dapur." Jawab Celin membawa minumannya kemudian bergegas pergi.


"Nduk." Bibi tersenyum melihat anak bungsu majikannya.


"Lagi bikin apa Bi?" Tanya Celin sambil memeluk wanita paruh baya itu.


"Bikin puding susu kesukaan Nduk.... Sebentar lagi jadi. Tunggu ya."


"Iya. Bibi nggak ke pasar?"


"Nanti sih. Memang Nduk mau mau dibelikan apa?"


"Nggak sekarang aja Bi. Aku ngikut."


"Memang boleh sama suami Nduk?"


"Aku perginya sama Bibi. Kamu disini aja."


"Nggak. Nggak usah pergi."


"Aku mau pergi juga." Jawab wanita itu bergegas melangkah.


"Biarkan saja Dev. Lagipula juga sebentar." Ucap Dimas.


"Tau. Aku nggak bisa ikut. Aku takut mual lagi kalau ke pasar."


"Makannya. Celin itu udah biasa ikut ke pasar deri kecil. Kamu jangan heran."


"Celin mana?" Tanya Zahra menghampiri suami dan Iparnya.


"Di suruh makan sama Mama. Udah ditungguin." Lanjut wanita itu katena belum mendapat jawaban.


"Ikut bibi ke Pasar. Memangnya nggak kasih tau?"


"Enggak tuh. Kebiasaan ilang ilangan."


Celin sudah sampai di pasar bersama Bibi.


"Hati hati jalannya." Ucap wanita paruh baya itu menuturi.

__ADS_1


"Mau beli apa Bi?" Tanya Celin menggandeng tangan Bibi yang sudah Ia anggap seperti nenek sekaligus Ibu baginya itu.


"Mau beli daun pisang. Bibi mau bikin pepes."


"Oh enak tuh."


"Nduk mau beli apa?"


"Nggak Bi. Cuman mau ikut aja." Jawab Celin sambil tersenyum.


"Nggak makan dulu?" Tanya Mama saat Celin pamitan pulang.


"Nggak Ma. Masih kenyang."


"Pelan pelan jalannya. Kebiasaan. Lama lama aku ikat juga kaki kamu." Devan mengomeli istrinya.


"Iya." Jawab wanita itu lalu masuk ke mobil.


Celin menghampiri suaminya dengan wajah cemberut karena tiba tiba saja sampai di rumah langsung dimandikan oleh pria itu.


"Jangan cemberut begitu. Tambah gemas." Ucap Devan sembari memeluk pinggang istrinya.


"Kamu menyebalkan."


"Ya harus mandi dong. Habis dari pasar. Banyak kuman."


"Tau ah."


"Ututu jangan marah baby koalaku sayang. Mau apa hm?"


"Beneran boleh minta sesuatu?"


"Boleh."


"Mau rujak buah."


"Aku suruh orang bikinkan. Kamu tunggu disini."


Devan menemani istrinya nonton sambil menyuapi Celin rujak.


"Terlalu pedas ga?" Tanya Pria itu.


"Enggak kok." Jawab Celin.


"Setelah ini tidur ya."


"Nggak ngantuk."


"Tapi aku ngantuk."


"Yasudah kamu tidur saja."

__ADS_1


"Temani. Tidak ada penolakan." Jawab Devan.


__ADS_2