Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Semuanya Butuh Proses


__ADS_3

Hay.....


Author lanjutin ya.....


Maaf tiba tiba gantung karena kesulitan cari ide.


Harap harap kalian masih betah stay..


Simak terus dan baca beberapa bab sebelumnya karena ada revisi.


"Mau kemana?" Tanya Devan melihat istrinya mengenakan sepatu olahraga. Ia baru selesai mandi rencana ingin mengajak istri ke rumah mertua karena Papa dan Mama selalu menanyakan tapi sepertinya kali ini juga akan gagal.


"Sepedahan. Ini kan lagi libur. Aku berangkat dulu ya." Pamit Celin memakai topinya kemudian meraih botol minum. Hendak melangkah tiba tiba gadis itu berhenti saat tangan besar sang suami mencekal pergelangan tangannya.


"Kenapa?" Tanyanya menatap Devan.


"Jangan lama lama. Aku akan pergi ke rumah Papa karena ada yang perlu di bicarakan." Jawab laki laki itu memberikan izin istrinya untuk tidak ikut.


Papa tersenyum buru buru berjalan menghampiri mobil menantunya yang baru tiba di halaman. Pria itu mengerutkan kening tatkala Devan hanya turun kemudian melangkah ke arahnya seorang diri.


"Celin mana?" Tanyanya harap harap bisa bertemu dengan putri bungsu.


"Maaf Pa. Devan sudah coba bujuk tapi tidak mau. Tadi mau sepedahan katanya." Jawab laki laki itu merasa tidak enak hati. Papa Celin tersenyum.


"Tidak apa. Ayo masuk." Ajaknya sembari menepuk punggung sang menantu.


Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Begitu juga dengan Zahra dan Dimas yang baru datang ikut duduk berkumpul dengan yang lain.


"Nggak datang lagi?" Tanya Zahra menatap iparnya untuk menanyakan si adik perempuan.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Devan singkat, jelas dan terkesan tak ingin berbasa basi dengan Zahra.


Papa langsung membuka obrolan. Pria itu mengutarakan niatnya untuk mengajak semua liburan bersama agar bisa memperbaiki hubungan silaturahmi yang kurang baik.


"Kan Celin sudah menolak Pa." Ucap Zahra karena adiknya tidak ingin ikut liburan seperti yang diutarakan kemarin kemarin.


"Nanti di bujuk. Jarang sekali kita liburan bersama. Dev, tolong ya." Ucap Mama berharap menantunya itu akan bisa membujuk Celin agar mau ikut.


Hanya tersisa Devan dan kedua mertuanya yang masih di ruang keluarga karena Zahra dan Dimas sudah pamitan dulu untuk pergi ke acara reuni.


"Gimana perkembangan hubungan kalian?" Tanya Papa.


"Semua butuh proses Pa." Jawab Devan sambil tersenyum menutupi betapa sulitnya meluluhkan hati sang istri.


"Mama harap kamu sabar ya Dev. Celin anaknya keras. Dia kekanakan dan sulit di kasih tau. Jarak usia kalian yang terbilang jauh dan kamu lebih dewasa. Mama titip Celin ya, jaga dia untuk Mama." Pesan wanita itu di tanggapi anggukan oleh sang menantu.


"Ini bawa pulang ya." Mama memberikan paper bag pada menantunya.


"Terimakasih Ma. Devan pulang dulu. Nanti coba Devan bicara lagi siapa tau dia berubah pikiran." Ucapnya sembari mencium tangan sepasang suami istri itu bergantian.


Devan sampai di rumah. Ia langsung masuk ke kamar setelah meletakkan makanan pemberian mertuanya di dapur.


"Pulang jam berapa?" Tanya Devan menghampiri istrinya yang sedang bermain game. Ia menghela napas melihat gadis itu tampak sibuk dan tidak mendengarkannya karena menggunakan headphone. Devan mengecup kening Celin sekilas kemudian berjalan untuk duduk di sofa sembari menunggu istrinya selesai.


Beberapa saat kemudian Dave mengurungkan niatnya. Ia benar benar kesal melihat kamar begitu berantakan. Baru di bersihkan pagi tadi sekarang botol air, buku, charger, kaos kaki hingga sepatu sudah berserakan lagi dimana mana.


"Kenapa?" Tanya Celin tiba tiba sang suami melepaskan headphone nya.


"Kenapa kamar berantakan begini? Pagi tadi kan sudah dibersihkan. Jorok kamu. Bersihkan sekarang." Perintahnya sambil bersedekap dada.

__ADS_1


"Lima menit lagi. Jangan ganggu dulu. Kalau sampai kalah aku nggak dapat duit." Jawab Celin masih fokus dengan PC di depannya.


"Nggak perlu cari duit. Aku akan nafkahi kamu lahir batin." Jawab Devan sedikit kesal.


"Tiga menit plis. Jangan ngomel dulu. Aku harus fokus."


Seperti yang telah di janjikan kini Celin membersihkan kamar sembari di awasi suaminya.


"Jadi cewek kok jorok. Apa apa itu yang bersih. Sampah di buang di tempatnya, buku di letakkan di rak. Jangan berserakan seperti sarang tikus begitu." Ucap Devan mengomeli sang istri.


"Makannya jangan tidur sama aku. Tidur sendiri. Atau aku yang tidur di kamar sebelah kalau kamu mau tidur di sini." Jawab Celin kesal sembari merapikan kembali apa apa yang sudah di buatnya berantakan.


"Nggak. Tidur bareng." Tegas Devan hanya di tanggapi decakkan oleh istrinya.


Selesai bersih bersi sepasang suami istri itu makan berdua sembari menonton TV.


"Ayo ikut liburan sama Papa, Mama. Mereka pengen banget liburan baren bareng." Ucap Devan membujuk setelah mengobrol cukup lama dengan istrinya.


"Kan aku bilang nggak ikut." Jawaban Celin tetap sama.


"Ayolah. Kasihan. Sesekali."


"Memangnya kemana?" Celin memutuskan untuk menanyakan tempat tujuan keluarga.


"Kemana saja kamu mau." Devan tersenyum mengusap pipi istrinya yang sedang mengunyah.


"Ke paris." Jawab Celin langsung di angguki oleh sang suami.


"Nanti aku kasih kabar ke Papa." Ucap Devan.

__ADS_1


__ADS_2