
Celin memasuki ruang kerja suaminya untuk berpamitan.
"Sayang." Devan tersenyum memberikan pelukan dan ciuman seperti biasa.
"Aku berangkat sekarang ya. Sudah di tunggu."
"Nanti pulang jam berapa?"
"Jam 12 selesai latihan. Aku mampir ke cafe. Kamu kalau mau makan siang di sana juga bisa."
"Baiklah. Hati hati. Love you."
"Love you too." Balas Celin bergegas pergi setelah sesi pamitannya pada sang suami usai.
Sebuah motor sport berhenti di parkiran. Celin turun kemudian masuk ke dalam.
"Tumbenan datang lebih awal." Ucap seorang pria melihat kedatangan anak didiknya.
"Sengaja. Biar lama latihannya Om." Jawab Celin sambil terkekeh kemudian segera bergegas menuju ruang ganti.
Celin telah satu jam lebih berlatih.
"Kita istirahat dulu." Om Reno memberi jeda karena sudah lelah menghadapi Celin yang begitu bersemangat.
"Baru sebentar Om." Ia melayangkan protes.
"Om sudah berumur. Om capek." Jawabnya sambil duduk di lantai.
"Minum dulu Om." Celin memberikan air mineral untuk pelatihnya.
"Terimakasih." Ucap Om Reno.
"Bagaimana pernikahan kamu?" Tanyanya.
"Ya begitulah." Jawab Celin.
__ADS_1
"Awalnya sulit. Tapi kini Celin jalani saja. Toh sudah terlanjur. Celin akan belajar menerima semuanya." Lanjutnya menjelaskan.
"Hm.. Om paham situasi kamu. Om hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu." Ia mengusap kepala Celin yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
"Makasih loh. Jadi ngerepotin. Tapi Om senang." Reno tertawa menerima makanan pemberian Celin.
"Sama sama. Lain kali ayo dong datang ke cafe makan sama sama."
"Iya. Om lagi sibuk. Nanti kalau luang Om hubungi." Jawabnya.
"Om pulang dulu. Kamu hati hati. Jangan ngebut." Ia memeluk Celin sembari mengingatkan.
Devan sudah sampai di cafe istrinya. Pria itu bergegas masuk sambil membawa bunga tak sabar ingin berjumpa dengan sang istri. Namun seketika mood Devan memburuk saat melihat istrinya sedang melayani pelanggan sambil tersenyum. Banyak pembeli yang didominasi oleh laki laki yang tentunya terpesona dengan kecantikan sang istri hingga betah berlama lama disini.
"Ekm." Devan berdehem hingga diberi jalan.
"Minggir dulu. Aku sedang kerja." Bisik Celin.
"Kenapa senyum begitu."
Celin memasuki ruangannya sambil membawa makan siang. Devan yang biasanya membantu kini memilih untuk duduk diam karena masih dalam mode ngambek.
"Ayo makan dulu." Ajak Celin namun diabaikan.
"Nggak mau makan?" Tanyanya namun tetap tidak di tanggapi sang suami. Celin menghela napas. Ia melihat buket mawar yang tergeletak di meja. Bunga untuknya namun belum sempat Devan berikan karena mood pria itu sudah terlanjur buruk.
"Kenapa?" Tanya Celin menggenggam tangan suaminya.
"Kamu masih tanya kenapa?" Devan akhirnya mau menatap sang istri.
"Umur kamu berapa?"
"31." Jawab Devan kesal.
"Umur kamu sudah matang. Harusnya kamu bisa bersikap dewasa bukan aku. Jika sedikit sedikit kamu ngambek. Gimana kedepannya? Ini bukan sekali dua kali. Sudah sering terjadi. Aku sudah menyesuaikan diri sama kamu. Kenapa kamu jadi gini." Devan menghela napas. Ia hanya cemburu. Ia tak terima istrinya jadi pusat perhatian laki laki di luar sana.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menahan kecemburuan." Ucap Devan memeluk istrinya. Benar yang dikatakan Celin. Umurnya yang sekarang sudah matang harunya Ia lebih dewasa dalam bersikap.
Devan dan Celin makan bersama setelah urusan keduanya selesai.
"Dari sini langsung pulang?" Tanya Devan.
"Iya. Aku mau langsung tidur. Ngantuk." Jawab Celin.
"Lain kali begitu lagi aku sita motor kamu." Ucap Devan kesal istrinya kebut kebutan di jalan.
"Mulai sekarang nggak usah pakai motor lagi." Lanjutnya kali ini benar benar membuat Celin kesal. Menurutnya Devan selalu mengatur semua kehidupannya. Awal awal Ia menurut saja. Namun semaki kesini pria itu semakin keterlaluan.
"Mana bisa begitu. Aku sudah biasa naik motor."
"Dan biasakan untuk tidak lakukan itu mulai sekarang."
"Kenapa kamu selalu membatasi aku."
"Aku suami kamu. Mau tidak mau kamu harus menurut. Apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan harus atas seizinku. Kamu itu istri harus patuh pada suami."
"Iya aku tau. Tapi tidak semuanya. Aku punya privasi. Aku punya hal yang tidak bisa aku tinggalkan. Harusnya kamu menerima apa yang aku sukai bukannya mengubah. Itu yang namanya saling menghargai."
"Kamu main game aku izinkan. Kamu mau lanjut bisnis dan S2 sudah aku turuti. Apa yang kamu lakukan untuk aku? Usaha apa yang kamu lakukan agar menjadi istri yang pantas. Jadilah wanita normal seperti di luar sana. Santun dalam tutur kata dan anggun. Kamu itu istriku. Harus menjaga sikap karena itu berpengaruh padaku."
"Oh baiklah jika perubahan yang selama ini aku lakukan untuk kamu ternyata tidak kamu lihat. Egois." Celin meninggalkan suaminya memilih untuk menenangkan diri di kamar.
Devan telah menyadari kata katanya yang keterlaluan. Pria itu ikut berbaring memeluk istrinya dari belakang. Ia menikmati aroma Celin yang begitu harum menenangkan.
"Maaf." Ucapnya.
"Maaf aku telah keterlaluan."
"Jika kamu ingin wanita yang seperti itu kenapa tidak bilang dari awal? Aku memang hanya seorang yang urakan dan jauh dari kata elegan. Harusnya aku sadar diri."
"Tidak sayang. Aku hanya emosi tadi. Aku minta maaf telah menyakitimu."
__ADS_1
"Jangan bicara denganku dulu." Celin memunggungi sang suami agar emosinya tak bertambah lagi.