Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Membela Istri


__ADS_3

Seorang laki laki terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang masih pulas. Tak ada niat untuk membangunkan karena Devan tau Celin masih mengantuk. Semalam istrinya memang begadang untuk menyelesaikan turnamen game online yang diikuti. Perbedaan waktu antara di Indonesia dan di sini membuat gadis itu harus terjaga di malam hari. Tak ingin membuat mertuanya menunggu Ia beranjak dari ranjang setelah meninggalkan kecupan di bibir dan kening sang istri untuk segera mandi lalu bersiap.


Devan menghampiri mertua dan lainnya yang sudah siap di meja makan.


"Celin mana?" Tanya Mama melihat menantunya datang sendiri.


"Masih tidur Ma." Jawab Devan kemudian duduk.


"Kebiasaan. Sudah punya suami juga bangun siang terus." Ucap Zahra menyindir.


"Semalam harus begadang menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidur setengah empat. Devan sarapan nanti saja Pa sambil nunggu Istri bangun." Ucapnya membela sang istri kemudian segera berpamitan karena moodnya sudah dibuat buruk dengan perkataan sang ipar.


"Sudah bangun?" Devan menghampiri istrinya yang dudu di ranjang setelah meletakkan nampan di atas meja.


"Ayo sarapan dulu." Ajaknya sembari mengecup kening Celin dengan lembut.


"Belum lapar."


"Lapar nggak lapar sarapan itu wajib." Tanpa mendapat persetujuan Ia menggendong sang istri untuk di ajak duduk di balkon kamar.


Devan sarapan sembari menyuapi istrinya. Keduanya menikmati makan bersama sembari mengamati pemandangan dari ketinggian.


"Hari ini kita jalan jalan."


"Kemana?"


"Nggak tau. Kata Mama sekalian belanja."


"Belanja? Males banget. Aku nggak ikut."


"Nggak bisa. Kita ikut, nanti kamu mau beli apapun aku belikan." Jawab Devan memaksa.

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi keluarga Miller telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota paris. Berbagai barang bermerk di jual di sini tentunya dengan harga yang sama sekali tidak ramah di kantong. Tempat yang sepertinya memang di peruntukan untuk kamu elit yang berdompet tebal yang gemar berbelanja dan menghabiskan uang.


Celin hanya mengikuti keluarganya yang sedang belanja. Ia sama sekali tidak tertarik dengan baju, tas, sepatu atau pernak pernik yang berjejer rapi di etalase. Seleranya bukan barang mewah. Cukup dengan kaos lima puluh ribuan dan celana cargo Ia bisa kemana mana. Namun untuk sepatu olahraga dan tas ransel Celin bisa merogoh sakunya dalam dalam karena dua hal itu tak mungkin Ia abaikan.


"Mau yang mana? Itu sepertinya cocok untuk kamu." Ucap Devan.


"Nggak ah. Aku mau keluar sebentar ya. Bosen disini." Tanpa menunggu persetujuan sang suami Celin melesat pergi.


Devan memutuskan untuk menyusul istrinya karena setengah jam lebih Celin belum kembali. Laki laki itu celingukan berjalan kesana kemari mencari keberadaan sang istri.


"Kamu dari mana aja sih. Kenapa nggak balik juga."


"Habis beli eskrim. Mau?" Celin dengan santai menawari.


"Mau." Devan dengan usil melahap semua hingga membuat istrinya kesal.


"Ih. Kok dihabisin."


"Maaf. Aku belikan lagi."


"Pelan pelan makannya sayang." Ucap Devan tersenyum mengelap sudut bibir istrinya dengan ibu jari. Keduanya tak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan dengan tatapan tajam yang penuh kebencian. Seakan tak bahagia dengan keromantisan dua insan yang sedang duduk bersama.


"Zahra sedang apa kamu?" Tanya Dimas kemudian mengikuti arah pandangan istrinya.


"Dia sudah milik adikmu. Sadarlah. Jangan di ganggu." Pria itu menarik tangan istrinya untuk segera di ajak kembali menghampiri kedua mertua yang sedang menunggu di restoran.


Acara belanja dan makan siang pun usai. Keluarga Miller kini telah sampai di kediaman. Mereka berkumpul di ruang tengah sembari membuka belanjaan yang tadi di beli.


"Ini untuk adek." Ucap Mama menggeser beberapa paper bag di depan anak bungsunya yang sibuk makan sambil nonton TV.


"Apa? Kan aku nggak mau apa apa." Jawab Celin.

__ADS_1


"Baju, tas dan sepatu buat kamu. Masa kita belanja kamu tidak."


"Kan sudah biasa begitu."


"Hargai sedikit kenapa sih. Ini Mama berusaha menyenangkan kamu loh." Sahut Zahra.


"Apa kalian pernah menghargai aku? Dulu aku kumpulkan uang susah payah untuk memberi kamu kado kamu buang. Papa sama Mama juga tidak menegur. Salah aku dimana? Itu kan yang kalian ajarkan?" Celin yang moodnya terlanjur memburuk memutuskan untuk segera pergi.


Devan menghampiri istrinya. Ia memeluk gadis yang sedang duduk sembari membaca komik itu.


"Kalau dari suami masa tidak mau juga?" Devan memberikan apa yang tadi di belinya untuk sang istri.


"Apa dulu?"


"Buka aja."


Celin tak bertanya lagi memutuskan untuk membuka bungkusan dengan pita hita itu. Sebuah sepatu sport dan kaos kaki yang tentunya dengan harga mahal Devan belikan untuknya.


"Aku beli untuk kamu jangan di tolak."


"Terimakasih." Ucap Celin menghargai pemberian suaminya.


"Sama sama. Aku harap sesuai dengan selera kamu." Jawabnya dan Celin hanya mengangguk dalam pelukan sang suami.


Sore hari matahari masih bersinar cerah. Di cuaca yang sedikit panas Celin berjalan sendiri menyusuri pantai berharap kulitnya akan berubah kecoklatan namun nyatanya tidak. Ia sering panas panasan agar lebih eksotis namun hasilnya nihil. Kulitnya masih putih dan menurutnya itu sama sekali tidak menarik. Celin ingin kulit coklat sawo matang atau kuning langsat ciri khas asia namun karena gen dari Papanya yang keturunan eropa membuat gadis itu tidak bisa demikian.


"Sialan."


"Siapa yang sialan?" Tanya seseorang berjalan mendekati Celin.


"Tidak ada."

__ADS_1


"Adik kecilku ini ternyata suka mengumpat ya..." Dimas mengacak acak rambut iparnya.


"Mengumpat itu untuk mengeluarkan kekesalan." Pria itu terkekeh mendengar jawaban Celin yang terkesan membenarkan apa yang salah.


__ADS_2