
Celin terbangun masih duduk di kursi tempatnya semalam bermain game. "Jam 7." Gumamnya sembari merenggangkan otot otot tubuh yang pegal. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan malas untuk keluar kamar. "Astaga Bibi bikin jantungan." Ucapnya terkejut melihat wanita setengah abad itu tiba tiba sudah ada di depannya ketika Ia membuka pintu. "Bibi kira Nduk belum bangun. Ayo turun sarapan." Ajaknya.
Bibi sampai di ruang makan untuk mengantarkan anak majikannya. "Si bungsu mana Bi?" Tanya Mama membuat wanita itu menoleh kebelakang. 'Kosong.' Tidak ada Celin dibelakangnya. Sedaritadi berarti Ia berceloteh sendiri di sepanjang perjalanan. "Tadi ada kok Bu. Kemana ya?" Ucapnya kebingungan. "Yasudah biar sarapan nanti saja. Kasihan tamu kita nunggu." Mama tersenyum kemudian kembali di tempat duduknya.
Sarapan di warnai dengan obrolan obrolan ringan. Zahra juga sudah bergabung dengan keluarga juga satu tamu laki laki yang sudah tidak asing lagi baginya. "Gimana Van. Kamu betah di kampus?" Tanya Papa sambil melahap makanannya. "Betah Om." Jawab laki laki yang masih membujang itu sambil tersenyum. "Hari ini kamu ke rumah sakit lagi Za?" Gadis itu menggeleng. "Enggak Ma. Kita kan mau ke kampus buat lihat acara pertandingan disana. Em...Adek mana Ma?" Papa menggeleng pelan. "Mungkin masih bersiap atau sedang panasin motornya di depan." Jawab Papa. Devan hanyut dalam pikiran. Setaunya keluarga Miller memiliki satu orang anak yaitu Zahra. Lalu siapa yang di maksud si bungsu? Apa seorang laki laki?
__ADS_1
"Duh Nduk. Biar Pak Amir saja yang cuci. Nanti telat ke kampus lho." Keluh pria itu melihat Celin mencuci motor trail nya yang sangat kotor karena beberapa hari lalu di pakai ke puncak. "Masih jam berapa sih pak. Baru jam 7 seperempat." Jawabnya sambil menyemprotkan air dari selang yang di pegang. "Ada telpon." Gumamnya mengeringkan tangan lalu merogoh ponselnya di saku celana. "Yak." Ucapnya setelah panggilan terhubung. "What? Jam 8?" Pekiknya. "Pak. Terusin ya." Celin berlari pergi membuat pria itu menggelengkan kepala.
Semua yang sedang berada di teras memandang seorang gadis yang berlari terburu buru sembari membawa helm dan menggendong tas punggungnya. "Nggak sarapan?" Teriak Papa. Celin tidak menjawab mengangkat roti yang di makannya tinggi tinggi sebagai jawaban.
"Huft...." Celin menghela napas sambil mengatur detak jantung. Teman temannya menelisik penampilan gadis itu. Begitu acak acakan namun tetap cantik. Hahahaha.....Suara tawa membuat Celin merasa heran. "Kenapa?" Tanyanya. " Sepatu kamu sebelah sebelahan tuh." Jawab Sandra sambil mengusap air mata. "Gegara kalian nih." Ucapnya kesal. "Dah. Sana ganti baju. Semangat cantik." Ucap Sandra memberikan Jersey Volley pada sahabatnya.
__ADS_1
"Gadis itu." Gumam Devan melihat Celin tampil cantik dengan Jersey Volley. Matanya juga tak luput dari sepatu yang di kenakan mampu membuatnya tersenyum. Tiba tiba saja hatinya berdenyut melihat seorang mahasiswa memeluk gadis cantik yang sedang diamati nya dengan erat.
Celin sangat cekatan. Ia mampu membaca situasi hingga berkali kali mencetak angka dengan smash yang luar biasa. Pertandingan diakhiri dengan team Celin yang membawa kemenangan. "Selamat." Ucap Gilang memeluk Celin erat. "Terimakasih. Habis ini traktiran. Datanglah semuanya ke apartemenku." Ucapnya langsung di sambut suka cita oleh teman teman. "Lihat pemilik kampus menghampiri kita. Dia akan memberi selamat padamu." Kata Sandra. Celin melihat itu memilih untuk pergi dengan terburu buru. "Celin kenapa Pa?" Bisik Zahra. "Nggak tau." Jawabnya heran. Tidak ada yang mengetahui Celin anak pemilik kampus. Bahkan Sandra juga hanya mengetahui Mama Celin lewat pesan suara saja tanpa mengetahui wujud aslinya. Ini Celin lakukan agar mempunyai teman yang menyayanginya dengan tulus.
Devan mengantarkan Zahra sampai ke mobil. Gadis itu harus pulang lebih awal karena pekerjaan sudah menunggu. "Hati hati." Ucap Devan sembari menutup pintu mobil anak sahabat Ayahnya itu. "Ya. Terimakasih Kak." Jawab Zahra menaikkan kaca mobilnya.
__ADS_1
Baru akan melangkah meninggalkan parkiran beberapa mahasiswa yang tengah bersenda gurau mencuri perhatian Devan. Sorang gadis cantik sedang di gendong sambil tertawa bahagia. "Dia pacarnya?" Gumam laki laki itu menyaksikan Gilang sedang menggendong Celin. "Kamu yang bawa motornya. Kita ke apartemen." Tampak Celin berbicara sambil memasangkan helm untuk Gilang. "As you wish baby." Balas Gilang mengusap kepala Celin dengan lembut. Devan belum juga beranjak meskipun dua motor dan satu mobil itu sudah meninggalkan tempat. Entah kenapa sejak pertemuan pertama itu membuatnya selalu memikirkan. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Jangan jangan Ia baru puber di usia tiga puluh.