Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Ramah Bagaimana?


__ADS_3

Celin beranjak dari ranjang saat mendengar bel apartemennya berbunyi. Gadis itu bergegas mencuci muka dan menggosok giginya sebentar. "Kak Gilang." Ucapnya sambil tersenyum. "Ayo sarapan. Kakak bawa nasi goreng buatan Bunda." Ia mengecup kening Celin kemudian menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam.


"Enak?" Tanya Gilang sambil menyuapi Celin. "Enak. Masakan Bunda mana pernah nggak enak." Jawabnya. "Em...Kapan sih orang tua kamu pulang. Bertahun tahun kita kenal, Kakak nggak pernah ketemu atau sekedar lihat foto orang tua kamu." Kata Gilang membuat Celin terdiam. Entah sampai kapan Ia bisa menyembunyikan ini. "Tidak pulang mungkin. Mereka akan menetap disana." Gilang mengangguk mencoba paham. "Kamu nggak ada keinginan untuk jenguk mereka?" Tanya laki laki itu. "Ada. Mungkin nanti kalau sudah waktunya. Mereka terlalu sibuk. Aku tidak mau mengganggu."


Celin menghampiri Gilang yang sedang menunggunya bersiap. "Ayo berangkat." Ajak gadis itu sembari memberikan minuman dingin. "Pagi pagi kamu sudah minum soda." Ucapnya. "Mau?" Laki laki itu menggeleng. "Ayo berangkat." Ia langsung menggandeng tangan kiri Celina yang menganggur.

__ADS_1


"Siap siap. Ada emak emak mau marah." Kata Gilang saat sampai di parkiran kampus melihat Sandra bersedekap dada di depan mobilnya. "Eh Kak Sandra." Sapa Celin tersenyum mendekati gadis itu. "Dari kemarin di telpon dua duanya nggak ada yang nyaut. Kemana saja kalian?" Tanyanya kesal. "Kalau aku main game seperti biasa. Kalau kak Gilang nggak tau deh." Jawabnya. "Aku bantuin Bunda di restoran. Sudah. Ayo masuk. Mata kuliahnya pak Devan nih. Kalau sampai telat bisa bahaya." Ajak Gilang.


Celin menoleh ke samping memperhatikan Sandra. Tadi marah marah sekarang senyum senyum. "Kakak kemasukan hantu mana?" Tanyanya. "Enggak kemasukan hantu dia. Sandra lagi kasmaran tuh. Dia lagi incar anak kelas sebelah buat jadi gebetannya. Gimana San?" Tanya Gilang. "Masih proses. Tunggu aja. Nanti kalau jadian kalian aku traktir." Jawabnya.


Devan memasuki kelas. Mata pria itu langsung tertuju pada gadis cantik yang sedang duduk sambil mengeluarkan buku catatannya. "Selamat pagi." Sapanya. "Pagi Pak." Jawab semua mahasiswa kompak. Tak banyak basa basi Ia langsung memulai perkuliahan sembari memperhatikan Celin yang sedang menyimak. "Untuk UAS nya. Saya beri tugas membuat satu makalah berkelompok di kumpulkan besok." Semuanya terkejut dengan waktu yang di berikan. Namun protes juga tidak ada gunanya. Mereka tau jika sudah berkata demikian maka tidak akan bisa diubah.

__ADS_1


Di tengah obrolan mereka seorang gadis berlari dengan tergesa gesa memasuki rumah kemudian berlalu begitu saja menaiki tangga. Celin membawa tas yang cukup besar dan beberapa buku serta laptop. "Celin. Mau kemana kamu?" Tanya Papa. "Kan aku sudah bilang mulai hari ini akan tinggal sendiri di apartemen. Nanti ada orang akan ambil barang barang yang masih disini. Termasuk PC aku." Jawabnya sambil mengatur napas. "Mama nggak izinkan kamu tinggal sendiri." Ucap wanita itu tegas. "Ma. Aku udah gede. Aku mau mandiri." Kata Celin. "Nggak ada begitu. Kamu sudah mandiri. Tapi bukan berarti kamu keluar dari rumah ini. Taro kembali barang barang kamu ke kamar." Ucap Papa sembari memerintahkan beberapa orang untuk mengembalikan barang anak gadisnya ke kamar. "Pa." Protesnya. Pria itu tak menjawab langsung memeluk si bungsu dengan erat diikuti istrinya.


"Kamu jajan Dek. Apapun yang kamu inginkan boleh beli." Ucap Papa menghibur putrinya berharap gadis cantik itu tidak pergi. "Minta duitnya." Celin masih cemberut menengadahkan tangan. "Ini." Papa memberikan kartu berwarna hitam. "Kakak antar Dek." Kata Zahra beranjak dari duduk. "Pakai mobil aku." Devan ikut ikutan.


Sepanjang perjalanan hanya hening. Zahra dan Devan duduk di depan sambil sesekali berinisiatif mengajak Celin mengobrol namun gadis itu terlalu sibuk dengan ponselnya. "Sudah sampai." Kata Laki laki itu. Tanpa basa basi Celin langsung keluar dari mobil dan memasuki supermarket di depannya. "Maaf kak. Dia memang sedikit judes begitu." Kata Zahra tak enak hati. "Nggak papa." Jawabnya singkat.

__ADS_1


"Nah Pa. Makasih ya." Kata gadis itu mengembalikan kartu Papanya. "Kok begini." Pria itu mengehela napas melihat semua yang di beli Celin. "Mama kan sudah bilang jangan minuman bersoda. Apa lagi itu, Mie instan. Tidak sehat." Ia begitu miris dengan anak bungsunya. "Papa yang bilang aku boleh beli apa aja." Jawab Celin. "Kamu juga Zahra. Bukannya adiknya di kasih tau." Mama kesal. "Maaf Ma." Devan memijit pangkal hidungnya. Beberapa jam bersama Celin benar benar membuat kepalanya berdenyut dengan tingkah keras kepala gadis itu. "Devan. Kamu jadi menginap disini kan?" Tanya Papa. "Jadi Om." Jawabnya. "Dek. Bukannya Devan ini dosen kamu di kampus ya?" Tanya Mama. "He'em." Celin mengangguk. "Kamu kok tidak ramah sama sekali. Devan ini anak teman Papa lo." Ucap Mama. "Mama kemarin sudah bilang itu Ma. Aku harus ramah yang bagaimana? Seperti karyawan di hotel? Pramugari? Atau pegawai Bank?" Tanyanya heran.


__ADS_2