Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Jangan Pergi


__ADS_3

Devan menatap tajam istrinya yang baru selesai mandi.


"Ini apa?" Tanyanya sembari berjalan mendekati Celin.


"Kemarikan." Ucap gadis itu hendak merebut namun gerakan cepat Devan membuatnya tak mendapat apa apa.


"Sudah aku bilang kamu tidak boleh kemanapun." Ia berkata dengan raut wajah menahan amarah.


"Ini sudah jadi keputusanku. Tidak ada yang bisa menghalanginya." Jawab Celin menatap sang suami dengan wajah datarnya.


"Aku bisa." Mata gadis itu membulat ketika paspor dan tiket pesawatnya di sobek oleh Devan.


"Kenapa kau lakukan ini?" Teriaknya sembari memunguti kertas yang berceceran di lantai.


Celin benar benar tak tahan dengan semua ini. Ia memasukkan baju bajunya ke dalam tas. "Mau kemana kamu?" Tanya Devan mencekal tangan sang istri.


"Mau pergi. Tidak ada yang bisa di lakukan selain pergi bukan? Ceraikan aku." Jawabnya. "Ternyata semua yang aku lakukan tadi tidak bisa membuatmu tinggal ya? Baiklah. Kamu yang memancing masalah. Dengar baik baik. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu." Devan menarik tangan istrinya dengan kasar kemudian mengunci pintu kamar agar istrinya tidak bisa keluar. Laki laki itu mendekap tubuh ramping Celin dengan erat sembari napas naik turun menahan amarah.


"Jangan macam macam. Jangan lampaui batas kesabaranku." Ucapnya.


Devan pergi ke kamar lain untuk meredam amarahnya. Ia tak ingin menyakiti sang istri dan membuat gadis itu takut. Menjauh adalah pilihan yang terbaik karena Devan sadar jika sudah marah Ia begitu sulit mengontrol emosi.

__ADS_1


Celin keluar dari kamar. Ia celingukan mengamati sekitar. Gadis cantik itu meraih helmnya di atas meja kemudian melangkah pergi meninggalkan apartemen. Sama halnya dengan sang suami. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.


"Kak Dimas." Ucap Celin saat menyajikan minum untuk salah satu pelanggan di cafe. Ia sama sekali tak menyangka jika salah satu pengunjung cafe adalah iparnya sendiri.


"Hey. Kenapa kaget begitu?" Tanyanya sambil terkekeh.


"Ah.. Kirain siapa. Kak Zahra mana?"


"Dia di rumah sakit. Kapan kita sepedahan bareng?" Dimas mengalihkan pembicaraan seakan enggan untuk membahas sang istri.


"Kapan kapan deh. Nanti kalo sama sama longgar kita kabar kabaran." Jawab Celin kemudian berpamitan untuk kembali bekerja.


Devan sudah tenang. Ia keluar dari kamar lalu masuk ke kamar istrinya.


Baru saja hendak mencari Celin keluar karena di hubungi tidak bisa Ia mendapatkan telpon dari mertuanya.


"Iya Pa." Jawab Devan sembari mengambil kunci mobil yang ada di laci meja.


"Devan kesana Pa." Ia tak berlama lama lagi segera berangkat untuk menemui mertuanya.


Devan bernapas lega saat mendapati istrinya sudah duduk bersama kelurga yang lain. Ia memberi salam kepada mertuanya kemudian duduk di samping Celin setelah memberikan kecupan lembut.

__ADS_1


"Papa mau ngomong apa? Sudah kumpul semua kan? Celin mau balik ke cafe lagi." Ucap gadis itu enggan berlama lama.


"Iya Dek... Papa cuman mau bilang kalau Papa mau ajak kalian semua liburan bareng."


"Aku nggak ikut. Kalian saja." Celin menolak cepat.


"Kenapa?" Tanya Mama.


"Sibuk. Harus urus cafe. Aku mau buka cabang. Lagian tidak boleh lanjutkan S2 kenapa kalian juga tidak memberikan aku kebebasan juga."


Devan menghela napas. Bukannya melarang. Ia juga sadar pendidikan sangat penting. Namun Ia hanya tak ingin berjauhan dengan istrinya.


"Boleh. Tapi nggak usah ke luar negeri. Di kampus Papa kan ada." Devan menanggapi istinya.


"Iya. Kenapa jauh jauh. Di sini kualitasnya juga bagus." Sahut Mama.


"Pengen ketemu musim dingin." Jawab Celin ala kadarnya.


Acara makan sedang berlangsung. Devan tak berhenti memberikan perhatian pada istrinya. Laki laki itu memang biasa bersikap demikian sekalian menunjukkan kemesraan pada Zahra yang sedaritadi menatap lekat ke arahnya. Ia tau iparnya itu tak bisa melupakan perasaan padanya begitu saja. Sedari kecil Devan sudah sadar jika Zahra orang yang sangat ambisius dan selalu ingin di prioritaskan.


Celin dan suami sudah sampai di apartemen. Setelah dari rumah Papa mereka memang langsung pulang tanpa mampir mampir terlebih dulu. "Maaf." Ucap Devan memeluk istrinya. Ia merasa bersalah dengan kejadian tadi karena telah membentak dan membuat gadis yang Ia cintai tak nyaman.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin jauh darimu. Kamu boleh melakukan apapun asalkan tidak pergi." Lanjutnya namun Celin hanya diam saja. Ia sangat kecewa beasiswa yang di dapatkan dengan susah payah hilang begitu saja.


__ADS_2