
Hari ini untuk pertama kalinya Devan membawa sang istri ke perusahaan. Ia merangkul pinggang wanita itu mesra sembari mengecup beberapa kali untuk menunjukkan pada semua orang jika Celin adalah miliknya seorang.
"Selamat Pagi." Ucap para karyawan menyapa Bosnya.
"Pagi." Jawab Celin sambil tersenyum ramah. Mereka mendongak menatap wajah cantik istri si bos. Semuanya begitu terpesona karena Celin begitu cantik, lebih cantik dari di foto yang biasa di posting oleh Devan di akun sosial media pria itu. Muda, cerdas dan berbakat. Mereka tau semua itu karna setiap prestasi istrinya Devan selalu mengucapkan selamat dengan hadiah dan kata kata manis untuk mengapresiasi keberhasilan wanita itu.
"Kembali bekerja." Ucap Devan tak rela istrinya di lihat memilih untuk segera mengajak Celin masuk ke dalam lift.
"Kenapa harus pakai dress begini sih?" Tanya Celin merasa tak nyaman.
"Biar mudah jika aku minta sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Tidak. Ayo keluar." Ajaknya mengalihkan pembicaraan.
Devan sudah berada di ruangannya bersama sang istri. Pria itu duduk di kursi sembari mengerjakan berkas membiarkan Celin yang sedang melihat lihat.
"Apa ada yang menarik?" Tanyanya saat Celin kembali duduk di sofa.
"Tidak. Semuanya membosankan." Aku keluar sebentar ya?"
"Mau kemana?"
"Cari minum."
"Mau minum apa? Biar aku yang suruh orang untuk antar."
"Thaitea."
"Baiklah. Tunggu sebentar." Jawab Devan segera menghubungi seseorang untuk mencarikan apa yang diinginkan istrinya.
Pintu ruangan Devan terbuka lebar. Sosok pria datang sembari mengumpat namun berhenti seketika saat melihat wanita yang sedang duduk di sofa.
"Kamu istrinya Devan?" Tanyanya di jawab anggukan oleh Celin tak menghiraukan tatapan tajam dari bosnya.
"Kenalin aku Rendi. Kamu Celin kan?"
__ADS_1
"Iya Celin." Jawabnya sambil menjabat tangan pria di depannya.
"Jangan sentuh tangan istriku." Devan menghampiri istrinya dan memisahkan kedua tangan orang yang masih tertaut karna Rendi enggan melepaskan.
"Dasar posesif. Pantas saja kamu tidak pernah mengenalkan aku ke istrimu. Dia sangat cantik."
"Diam. Berikan saja pesananku dan pergilah. Jangan mengacau."
"Aku masih mau disini. Memangnya kau tidak butuh bantuan untuk memahami semua itu."
"Memangnya aku bodoh?"
"Tidak. Kau yang paling pintar."
Celin meminum minumannya sembari duduk di pangkuan suaminya karena pria itu yang memaksa.
"Apa tidak repot begini?"
"Tidak sama sekali." Jawab Devan mengecup punggung istrinya laku kembali fokus ke berkas.
"Astaga aku tak tahan lagi." Tiba tiba saja Devan menggendong istrinya membawa wanita itu ke kamar istirahat.
"Ah...." Keduanya melenguh saat mulai menyatu.
"Ah sayang... Ini begitu nikmat." Rancu Devan menggerakkan pinggulnya menikmati milik sang istri yang masih begitu sempit. Ruangan ber AC itu mendadak menjadi panas. Keduanya bercucuran keringat karena pergulatan yang tak kunjung usai.
"Bagus sayang.... Ah.... Kau membuatku melayang." Ucap Devan begitu menikmati permainan sang istri.
Celin sudah berada di rumah. Ia baru selesai mandi kemudian duduk di sofa sembari memainkan ponselnya untuk membalas pesan para karyawan.
"Sayang. Tissue wajah di kamar mandi habis." Ucap Devan baru keluar dari kamar mandi masih memakai handuk yang melilit di pinggang.
"Ambil saja di walk in closet." Jawab Celin sedikit berteriak.
Devan meremas kertas yang ada di tangannya.
Sebuah tiket pesawat dan formulir salah satu universitas di inggris yang tak sengaja Ia temukan di laci meja. Ia yakin itu milik istrinya dan Devan akan meminta penjelasan tentang ini.
__ADS_1
"Apa ini?" Devan melemparkan kertas yang sudah tak berbentuk itu pada istrinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Celin sembari memungutnya.
"Apa yang kamu lakukan? Tanyakan itu pada dirimu sendiri. Mau pergi kemana kamu?" Devan membentak.
"Aku mau lanjut study di inggris. Setiap libur aku akan pulang."
"Aku tidak mengizinkan."
"Kenapa? Yang lalu kamu juga tidak mengizinkan. Sekarang aku mau pergi. Itu impianku."
"Aku tidak mengizinkan seribu kalipun kau berusaha kau tidak akan pergi."
"Yasudah aku akan melanjutkannya di sini saja."
"Tidak. Kau tidak boleh kemana mana. Tidak untuk bekerja dan lain lain. Cukup diam di rumah. Kau tidak boleh pergi tanpa seizinku."
Devan menulikan pendengarannya tak peduli dengan keluhan sang istri. Ia mengikat tangan Celin dengan dasi kemudian mengaitkannya ke ranjang. Ia mulai menciumi dada dan menghisap kuat kuat hingga istrinya memekik kesakitan. Devan tak peduli, Ia terus turun ke bawah memainkan milik Celin yang telah basah.
"Dev sakit." Teriak Celin saat suaminya menghentakkan dengan kasar.
"Hah... Hah... Berani kamu memanggilku begitu. Ini hukuman untukmu. Akan aku buat kamu mengandung agar tak pergi kemanapun." Jawab Devan di sela sela kegiatannya. Tak berhenti di situ Ia membalikkan tubuh istrinya lalu melakukannya lagi.
"Berhenti... Aku mohon." Celin sudah merasa suaminya itu di luar batas.
"Aku tak akan berhenti. Lebih baik kau tak bisa berjalan daripada harus meninggalkanku."
Celin masih polos di bawah selimut setelah di jamah suaminya dengan kasar. Tubuhnya serasa sakit semua. Ia tak bisa kemanapun sekarang karena tali di tangannya tak kunjung di lepas oleh sang suami.
"Aku mau mandi."
"Tidak perlu mandi. Tidak perlu berpakaian." Jawab Devan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Jangan begini. Kamu keterlaluan."
"Kamu yang keterlaluan karena tega ingin meninggalkanku." Devan ikut berbaring memeluk istrinya.
__ADS_1
"Tugasmu hanya untuk melayaniku tidak lebih. Kau tidak akan bisa kemanapun dan akan tetap berada di kamar ini untuk menyambutku ketika pulang." Ucap Devan.