Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Dengan Memaksa


__ADS_3

Celin dan Devan sekarang sedang berada di bandara Bali. Keduanya baru mendarat setelah beberapa jam perjalanan. Ya, Devan tiba tiba saja mengajak istrinya berlibur. Celin yang tak menyiapkan apapun tentu saja gelagapan karena suaminya yang suka seenak jidat memutuskan segala sesuatu. Bayangkan saja Devan mengatakan pada jam 7 pagi dan pesawat berangkat pukul 9. Benar benar spontanitas dan grasa grusu.


Mobil berhenti di salah satu hunian minimalis dan mewah. Devan menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam.


"Ini rumah siapa?" Tanya Celin sembari mengamati sekitar.


"Rumah kita. Aku beli karena kamu mau liburan kesini." Jawab Devan santai membuat istrinya membulatkan mata. Hanya karena liburan sampai membeli rumah. Mereka kan bisa menyewa penginapan atau di hotel saja. Lagian liburan di sini juga tidak akan lama. Paling beberapa hari karena Celin tipikal orang yang mudah bosan.


"Kok beli. Kita nggak akan lama disini."


"Ya siapa tau kamu mau datang ke lagi. Untuk jaga jaga saja. Rumah kita belakangnya pantai. Kamu pasti suka. Lagian kalau di rumah sendiri kan enak. Kalau aku kepengen sewaktu waktu bisa langsung tidak usah memikirkan tempat. Bisa di ruang tamu, dapur, kolam renang. Bebas tidak ada yang mengganggu."


"Apa di pikiranmu hanya ada hal itu?" Tanya Celin.


"Ya. Seluruhnya di kuasai oleh kamu. Bahkan junior yang tak pernah bangun pun hanya bisa bangun untuk kamu. Aku pikir dulu aku impoten."


"Sudahlah. Jadi bahas kemana mana. Terlalu vulgar."


"Vulgar sama istri tidak masalah."


"Oh astaga aku tidak percaya pernah menjadi mahasiswi mu. Untung saja aku jarang masuk. Jika setiap hari bertemu pasti aku sudah tidak waras sedari dulu." Gerutu Celin meninggalkan suaminya.


Devan mengajak istrinya untuk berkeliling karena wanita itu bilang ingin melihat lihat. Mereka kini sedang duduk beristirahat di belakang rumah dekat kolam renang yang menyuguhkan pemandangan pantai dari ketinggian. Celin akui suaminya tidak salah memilih tempat. Begitu strategis dengan model hunian minimalis mewah dan sejuk karena banyak tanaman peneduh.


"Kita jalan jalannya besok aja ya. Kamu pasti capek."


"Nggak capek kok."


"Tapi aku capek." Keluh Devan sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


"Yasudah tidur saja."


"Ayo." Ia membantu istrinya untuk berdiri.


Devan tiduran sambil menikmati pelukan sang istri yang begitu nyaman. Ia memang lelah. Entah kenapa tapi badannya dari kemarin terasa lemas dan tidak bertenaga.


Celin menyingkirkan lengan suaminya dengan perlahan.


"Badannya panas." Ucap wanita itu setelah menyentuh kening Devan yang tertidur pulas. Ia membenarkan selimut sang suami kemudian turun dari ranjang untuk mengambil plester demam di tas.


Selesai memasangkan plester demam di kening suami Celin bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan. Ia membuka kulkas mengambil bahan bahan yang diperlukan lalu mulai mengolahnya.


"Bunda." Ucap Celin menerima panggilan video.


"Lagi ngapain Dek?" Tanya wanita dari sebrang sana.


"Lagi masak Bun. Bunda lagi di restoran atau di rumah?"


"Maaf Bun. Mas Devan juga bilangnya dadakan. Pesawat berangkat jam 9 dia jam 7 baru bilang. Kan keterlaluan jadi orang."


"Iya nggak papa. Kamu baik baik saja kan?"


"Baik Bun."


"Jangan lupa makan makanan bergizi. Susunya di minum teratur dan yang terpenting jangan kecapean." Ucap Bunda menasihati anak perempuannya.


"Sudah bangun." Ucap Celin melihat suaminya duduk di ranjang.


"Kenapa nggak panggil aku aja sih." Devan buru buru turun lalu membantu istrinya membawa nampan.

__ADS_1


"Kamu lagi sakit. Ayo makan dulu setelah itu minum obat." Jawab Celin sembari duduk di sofa. Ia kemudian memegang leher suaminya untuk mengecek suhu.


"Masih anget badan kamu." Ucapnya mengambil makanan lalu mulai menyuapi Devan.


"Supnya enak." Ucap Devan yang sudah nambah dua kali.


"Percaya kok. Kamu makannya lahap begitu." Jawab Celin sambil terkekeh.


"Kamu nggak makan?" Tanya Devan karena Celin daritadi hanya menyuapinya.


"Aku sudah makan roti gandum sama selai coklat tadi. Jadi masih kenyang."


Tak terasa waktu senja telah tiba. Celin duduk besama suaminya menikmati pemandangan pantai dari balkon. Wanita itu menggenggam tangan suaminya untuk menghangatkan karena angin bertiup cukup kencang membuat udara dingin.


"Mau masuk? Dingin loh." Ucap Karin menawari.


"Disini saja. Tidak dingin dengan genggamanmu." Jawab Devan tersenyum menatap sang istri. Ia benar benar menikmati momen dan perhatian istrinya sehingga tak ingin untuk melewatkannya sedikitpun.


"Jika aku menua nanti kau harus tetap bersamaku." Ucap Devan.


"Itu terdengar seperti sebuah paksaan."


"Memang."


"Tidak manis sama sekali. Kau lemah dalam merayu wanita."


"Dan kau wanita yang tak mudah di taklukkan dengan kata kata. Aku tau itu jadi aku tidak perlu bersikap manis untuk meluluhkanmu."


"Lalu apa yang kau lakukan untuk meluluhkanku?"

__ADS_1


"Dengan paksaan. Itu keahlianku. Ini tidak akan membuatmu pergi dariku." Ucap Devan sembari mengelus perut istrinya.


__ADS_2