Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Celin Adalah Obat


__ADS_3

Celin yang sudah di pindahkan di ruang perawatan dari semalam dan siuman sekitar satu jam lalu. "Mau minum?" Tawar Gilang. "Iya." Jawabnya. Laki laki itu langsung bergegas membantu gadis yang masih terbaring lemah di ranjang untuk minum dengan hati hati. "Mau makan?" Tawar Bunda mendekati ranjang setelah mengobrol dengan orang tua Celin. "Bunda bawakan puding kesukaan kamu." Lanjutnya sembari mengelus pipi Celin dengan lembut. "Nanti saja Bun." Jawabnya sambil tersenyum. "Hp aku mana?" Tanyanya. "Ini." Sandra bergegas mengambilkan. "Yah pecah." Ia tampak menghela napas mengamati benda pipih yang di pegang nya. "Nanti Papa belikan." Celin menggeleng dengan Cepat. "Nggak perlu. Ini masih bisa dipake." Jawabnya.

__ADS_1


"Motor aku separah apa Bang? Semua orang yang ada disini nggak ada yang tau kondisinya." Celin berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon. "Sudah siuman kamu? Semalam Abang kesitu kamu masih pingsan." Jawab Pria di sebrang sana. "Hm. Iya. Motor aku gimana Bang?" Tanyanya lagi. "Sabar dong. Baru juga sadar. Ini Abang lagi benerin. Parah sih. Tapi bisa kok. Kamu fokus sembuh aja jangan mikirin motor segala." Ucapnya. "Besok Abang kesitu mau dibawakan apa?" Lanjut Pria itu bertanya. "Apa aja. Yang penting Abang dateng buat jelasin ke aku." Jawab Celin sambil menghela napas.

__ADS_1


Makan siang berlangsung di kamar inap dengan ruangan besar dan fasilitas lengkap itu. Keluarga Celin memperhatikan Gilang dan Sandra tampak sangat peduli dengan putrinya. Begitu juga Bunda Gilang. Wanita itu memperlakukan Celin seperti anaknya sendiri. "Nggak mau itu. Nasinya lembek. Lauknya nggak enak. Nggak suka." Rewel Celin terdengar saat akan di suapi oleh Sandra. "Terus mau makan apa?" Jika tidak ada orang tua Celin mungkin Ia akan mencubit gadis itu. Ia tadinya juga syok begitu mengetahui Celin putri bungsu keluarga Miller. Ia akan meminta penjelasan tapi tidak sekarang. "Mau makan apa kalau ini itu nggak mau?" Tanyanya. "Makan buah mau?" Tawar Gilang dengan lembut. "Nggak. Mau yogurt dingin aja." Jawabnya. Mendengar itu Devan langsung beranjak dari duduk. Ia mengambil yogurt dari kulkas, membuka dan memberikannya pada celin. "Makasih Pak." Ucapnya. "Sama sama." Jawab Devan. "Oh iya. Pak Devan kok ada disini. Maksud saya kerabat atau..." Ucap Sandra tak di teruskan. "Pak Devan anak sahabatnya Papa. Dia calon suaminya itu." Tunjuk Celin pada Zahra yang sedang mengobrol. "Siapa bilang?" Tanya Devan tak terima. "Aku nggak amnesia ya pak. Jelas jelas Bapak calonnya Kak Zahra kok."Jawab Celin.

__ADS_1


"Aku mau pulang." Kata Celin tiba tiba membuat semua orang yang ada di sana membelalakkan mata. "Baru sehari di rawat sudah minta pulang. Kamu belum sembuh Dek." Ucap Mama. "Bosen. Aku sudah baik baik aja. Coba Papa tanya ke dokternya deh." Pinta Celin membuat pria itu menghela napas. "Belum boleh." Jawab Papa. "Memangnya Papa sudah tanya?" Tak tahan dengan adiknya yang ngeyel Zahra angkat bicara. "Belum boleh ya belum boleh. Kamu kenapa sih selalu membantah. Jangan manja. Banyak maunya. Memangnya semua yang ada di sini nggak bosen dengar kamu mengeluh." Ucapnya kesal sambil membentak. "Dek.." Panggil gadis itu melihat perubahan air muka adiknya. "Aku mau istirahat." Tak menjawab Ia membaringkan tubuhnya kemudian memunggungi mereka. "Dek." Panggil Zahra lagi. "Keluar. Aku mau sendiri." Semuanya diam. Tidak ada yang berani berucap. Mereka mulai keluar kecuali Bunda, Gilang dan Sandra. "Ketiganya memutari ranjang menghadap gadis itu. "Jangan menangis Sayang. Kami di sini." Ucap Bunda menenangkan. Hati wanita itu teriris melihat putrinya meneteskan air mata. Ia tau semua kisah hidup Celin dan bagaimana Ia di perlakukan di keluargnya.

__ADS_1


__ADS_2