Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Duda Tau Apa?


__ADS_3

Devan berjongkok memakaikan sepatu kets istrinya. Setelah selesai pria itu membantu sang istri untuk berdiri. Ia akan mengajak Celin ke perusahaan untuk menemani karena beberapa hari belakangan wanita itu memilih untuk berada di rumah membuat Devan merasa kesepian saat bekerja. "Sudah semua. Ayo berangkat." Ucapnya setelah memastikan semua yang dibutuhkan lengkap termasuk susu untuk sang istri, tissue basah dan gel untuk membersihkan tangan.


Sepanjang perjalanan Celin memandang ke luar jendela mobil mengabaikan suami yang sedaritadi menatapnya. Wanita itu mengamati seluruh makanan pinggir jalan yang telah lama Ia tidak nikmati.


"Kamu mau sesuatu?" Tanya Devan.


"Mau gorengan." Jawab Celin cepat namun beberapa saat kemudian Ia menghela napas karena sang suami tentu tidak akan menurutinya.


"Tidak boleh. Nanti tenggorokan kamu sakit." Tuh kan apa yang di pikirkan Celin benar. Lalu untuk apa Devan tanya jika pada akhirnya selalu mengambil keputusan sendiri. Benar benar pria yang menyebalkan.


"Tadi kenapa tanya jika pada akhirnya tidak boleh."


"Ya siapa tau saja kamu mau yang lain bukan gorengan." Jawab Devan menahan tawa melihat ekspresi kesal istrinya.


"Martabak." Celin pindah haluan.


"No. Makanan pinggir jalan tidak higienis."


"Tau ah." Celin menyerah sekarang. Ia tak lagi meminta pada suaminya karena percuma.


Devan merangkul pinggang istrinya mesra memasuki perusahaan di sambut ramah oleh para karyawan. Seperti biasa pria itu diam membisu dan Celin membalas dengan ramah untuk mewakili suaminya yang dingin dan datar itu.


"Berhentilah tersenyum di depan orang. Sudah aku peringatkan itu berkali kali. Sepertinya kamu memang minta di hukum ya." Ucap Devan saat sudah sampai di ruangannya.


"Apa salahnya tersenyum?"


"Salah. Karna ini hanya milikku seorang." Ucap Devan mengecup bibir istrinya dengan tiba tiba.


Celin membaca komik sementara sang suami bekerja sambil duduk menempel padanya. "Dev." Ucap seseorang menerobos masuk ruangan lalu duduk bergabung di sofa.


"Hm." Jawab Devan tak mengalihkan pandangan dari berkas yang Ia baca.


"Ada meeting." Ucap Rendi sembari menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kapan?"


"Satu jam lagi."


"Ya."

__ADS_1


"Celin, suamimu kenapa?" Rendi beralih mengajak ngobrol istri sahabatnya.


"Nggak tau Om. Mungkin sariawan."


"Masa sariawan dari kecil nggak sembuh sembuh." Jawab Rendi tertawa karena sejak dulu Devan memang irit bicara.


"Kalau tidak ada orang atau lagi di rumah nggak sariawan Om. Malahan sangat cerewet. Aku sendiri pusing mendengar omelannya." Devan menutup mapnya kemudian menatap sang istri. Tanpa aba aba Ia mencium bibir Celin membuat Wanita itu kesal karena malu ada Rendi disana.


"Keterlaluan. Nggak sadar apa ada duda disini."


"Om sudah jadi duda?" Tanya Celin.


"Sudah. Kamu mau?"


"Boleh." Devan membelalakkan mata mendengar jawaban spontan dari sang istri.


"Apa kamu bilang? Memang dia lebih apa dari aku? Tampan aku, kaya aku. Mau di bandingkan dari sisi manapun juga masih Ok aku."


"Tuh kan Om. Dia nggak sariawan." Ucap Celin tertawa melihat kekesalan suaminya.


Devan baru saja selesai meeting. Pria itu langsung mengunci pintu lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk menonton TV di ruang istirahat.


"Hukuman apa?" Tanya Celin dengan wajah polos.


"Hukuman karna mau dengan Rendi."


"Itu kan aku hanya bercanda."


"Bercandamu tidak lucu sama sekali." Devan langsung membungkam sang istri dengan ciumannya. Tangan pria itu bergerak membuka satu persatu kancing dress istrinya lalu membuang ke sembarang arah.


"Hm...." Celin menggelinjang di karena permainan suaminya. Wanita itu bergerak tak karuan karena Devan menjamah seluruh tubuhnya dengan lidah.


"Aku mulai sayang. Ugh....Akh..." Dave memejamkan mata saat miliknya memasuki tempat. Rasanya begitu sempit nikmat seperti di pijit. Devan mendorong perlahan pinggulnya sembari mulut terus mengerang nikmat.


Tempo permainan terus di percepat. Devan memejamkan mata mendongak menghadap langit langit kamar dengan mulut terbuka. Pria itu merasakan nikmat yang begitu luar biasa setelah mendapatkan pelepasan untuk yang kesekian kalinya. Ia menggulingkan tubuh lelah dan berkeringatnya di samping sang istri dengan napas yang masih terengah engah. "Terimakasih sayang. Lain kali buat kesalahan lagi maka aku akan menghukummu seperti ini." Ucapnya sembari mengecup kening Celin.


"Hah... Aku tidak buat kesalahan pun kau selalu begini setiap malam."


"Karena kamu begitu nikmat dan aku selalu merindukan untuk menyentuhmu." Devan tersenyum menatap sang istri yang terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Kamu tidak lelah?" Tanyanya di jawab gelengan oleh Celin. Devan membulatkan mata. Istrinya luar biasa. Celin tak pernah lelah bahkan setiap hari melayani Devan dengan durasi yang sangat lama.


"Bagaimana jika kita mulai lagi." Devan menggoda sang istri.


"Tidak. Kau sudah tua. Nanti pinggangmu sakit. Istirahatlah." Ucap Celin tersenyum mengecup pipi Devan.


"Aku tidak setua itu." Devan kesal sekarang di bilang tua padahal ada benarnya juga.


"Iya. Kau masih muda." Celin meralat kata katanya.


Devan dan Celin sudah bersih bersih dan berganti baju.


"Ayo makan." Ucap Devan mengajak istrinya.


"Makan di kantin ya."


"Kenapa? Kita bawa bekal."


"Aku mau yang lain. Kamu makan itu sendiri."


"Baiklah." Jawab Devan menuruti keinginan istrinya.


Semua orang menatap tidak percaya. Seumur umur mereka bekerja disini ini adalah kali pertamanya Devan menginjakkan kaki di kantin. Pria itu tampak duduk di samping Celin sembari membantu istrinya membersihkan tangan dengan tissue. Begitu manis dan perhatian membuat siapapun yang melihat menjadi meleleh.


Rendi duduk bergabung bersama Bosnya. Pria itu menikmati makanan bekal jatah Celin yang tidak dimakan karena wanita itu kini sedang makan eskrim dan beberapa kudapan manis.


"Kenapa cium cium. Tidak tau tempat. Malu tau." Kesal Celin karena Devan tiba tiba mengecup bibirnya membuat Ia malu karena di perhatikan semua orang.


"Ada eskrim di bibirmu. Aku kan membantu membersihkan sayang." Jawab Devan sambil tersenyum.


"Bisa bisanya begitu." Rendi angkat bicara.


"Diam kau. Duda tau apa?"


"Oh... Jangan pernah menghina duda. Duda itu lebih menggoda dan berpengalaman dari perjaka tua sepertimu."


"Apa kau bilang? Aku perjaka? Lalu di perut istriku ini apa?"


"Kenapa kalian jadi berdebat sih." Kesal Celin lalu bergegas pergi.

__ADS_1


"Kau sudah membuat mood istriku buruk. Aku potong gajimu Ren." Ucap Devan buru buru menyusul istrinya.


__ADS_2