
Dua hari di puncak dengan rencana camping yang gagal kini Celin sudah berada di apartemen. Gadis itu tampak sibuk di dapur menyiapkan bubur untuk suaminya yang sedang demam. Ya... Devan sakit sekarang. Laki laki itu bersikeras ikut istrinya tidur di tenda dan pada akhirnya kedinginan lalu demam.
Celin menuangkan bubur yang telah matang ke dalam mangkuk. Ia lalu meletakkan di atas nampan yang sudah tersedia teh hangat dan air putih untuk minum obat. Gadis itu buru buru membawanya pergi ke kamar agar Devan bisa segera makan.
"Ayo makan dulu." Ucap Celin meletakkan nampannya di atas nakas. Ia kembali mengecek suhu tubuh Devan yang ternyata masih belum turun juga.
"Suapi." Ucap laki laki itu sambil duduk bersandar di headboard ranjang. Karena kasihan Celin mengangguk. Ia mengambil mangkuk untuk menyuapi suaminya.
Devan tersenyum melihat istrinya yang begitu serius meniup bubur hingga dingin sebelum di suapkan. Mendapat perhatian seperti ini membuat hatinya menghangat.
"Kenapa senyum senyum begitu?" Tanya Celin sambil menyuapi.
"Kamu cantik." Jawab Devan membuat istrinya malas. Sudah sering orang bilang begitu jadi Ia sama sekali tak kaget, salting atau tersanjung.
"Setelah ini minum obat terus tidur." Ucapnya tak menanggapi pujian sang suami.
"Temani tidur. Lagi dingin banget pengen di peluk." Celin mengernyitkan keningnya mendengar penuturan sang suami.
"Aku matikan AC nya nanti sama ambilkan selimut lagi biar nggak dingin." Jawab Celin.
"Tetap dingin. Kalau mau nggak dingin ya di peluk." Devan mulai mengajak berdebat.
"Aku yang gerah dong." Celin tak terima. Ia biasa tidur dengan AC tiba tiba saja di suruh menemani suaminya tidur tanpa AC. Mana betah.
Setelah mencuci gelas dan piring Celin kembali lagi ke kamar. Gadis itu naik ke atas ranjang menemani Devan yang banyak maunya.
"Hey...Apa apaan ini." Kesalnya tiba tiba di tarik hingga berbaring kemudian di peluk dengan erat.
"Aku kan bilang temani tidur bukan tunggui aku tidur." Jawab Devan mulai memejamkan mata dengan nyaman.
__ADS_1
"Aku gerah." Keluh Celin.
"Kalau gitu nggak usah pakai baju saja." Jawab laki laki itu dengan santainya.
"Iya lepasin dulu Aku mau lepasin baju." Devan membuka mata mendengar jawaban sang istri. Bagai mendapat angin segar Ia langsung melepaskan pelukan menuruti keinginan Celin berharap bisa melihat kemolekan tubuh sang istri secara terus terang dan di sadari oleh si pemilik tidak curi curi kesempatan seperti biasanya.
Celin duduk sambil memegang kaosnya. Ketika bersiap hendak melepaskan Ia tiba tiba saja bergerak cepat turun dari ranjang. Devan secara refleks tentu saja menarik tangan istrinya hingga gadis itu kembali terjatuh di ranjang.
"Oh sudah pintar bohong sekarang. Mau kabur ya. Mau di telanjangi sekarang." Ia menindih tubuh ramping Celin tak membiarkannya kabur lagi.
"Ih. Berat. Ampun. Iya deh aku temani"
"Hukuman untuk kamu." Jawab Devan tak perduli dengan istrinya yang sedang di tindih. Ia tak beranjak malah memejamkan mata karena sudah benar benar mengantuk.
Devan menelan ludahnya susah payah melihat penampilan istrinya yang begitu seksi dengan sport bra dan celana pendek sedang melakukan pull up di ruang gym. Perut Celin yang rata dengan leher jenjang yang di penuhi keringat membuatnya menjadi semakin menggoda.
"Ada apa?" Tanya Celin menyudahi kegiatannya.
"Papa sama Mama di depan." Jawabnya membantu Celin mengelap keringat.
"Aku mandi dulu. Kamu kesana duluan aja."
Celin sudah selesai mandi kemudian pergi ke ruang keluarga bersama Devan yang memang menjemputnya.
"Kak Devan sakit apa?" Tanya Zahra berhambur memeluk Devan membuat mereka semua terkejut kecuali Celin yang tampak biasa saja. Harus nya wanita itu bisa menjaga sikap di depan suami, adik dan kedua orang tuanya. Zahra harus tau batasan bagaimana bersikap pada iparnya sendiri meskipun mereka sudah mengenal sejak kecil.
"Demam biasa." Jawab Devan menahan kesal sembari melepaskan pelukan Zahra pelan karena tidak enak pada mertuanya.
"Kenapa bisa sakit? Apa gara gara menemani Celin camping kemarin?" Zahra terus bertanya.
__ADS_1
"Takdir. Bisa diem nggak sih. Daritadi ngomel mulu." Kesal Celin mulai risih.
"Kenapa kamu marah ke Kakak?" Tanyanya dengan nada sedih.
"Sudah jangan ribut." Mama melerai keduanya.
Kini hanya tersisa Celin dan Devan karena semuanya sudah pulang. Devan hanya menatap istrinya yang sedang makan dengan tangan kosong.
"Kenapa nggak makan?" Tanya Celin.
"Suapi. Dari tangan kamu sepertinya enak." Ia menyingkirkan piringnya menggeser duduk merapat pada sang istri.
"Tadi kamu bilang sudah sembuh. Otomatis bisa makan sendiri dong."
"Di turuti aja kenapa sih. Ayo suapi." Celin pasrah kemudian menyuapi suaminya.
"Mulai sekarang kalau makan harus kamu yang suapi Aku makan. Itu tugas baru kamu." Ucapnya membuat sang istri membulatkan mata.
"Mana bisa begitu."
"Bisa. Aku yang mau."
"Aku nggak mau."
"Harus mau. Dosa kamu kalau tidak mau."
"Kalau aku sedang di luar?"
"Aku datangi." Jawab Devan santai sambil tersenyum menang karena istrinya tak membantah lagi.
__ADS_1