
Celin sedang berada di rumah orang tuanya. Gadis itu mampir untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal karena semalam menginap bersama sang suami.
"Harusnya Devan milikku." Ucap Zahra membuat Celin menghentikan aktivitasnya.
"Kau hanya perebut, perusak dan penghancur kebahagiaanku." Zahra mendekat menjambak rambut panjang Celin kuat kuat.
"Lakukan sesukamu jika itu membuatmu bahagia. Aku tidak akan menolak." Tak ingin membalas dan menyakiti saudarinya. Celin memilih untuk diam. Ia malah memberikan kakaknya kesempatan besar untuk berbuat sesuka hati.
Dengan tanpa perasaan Zahra menghempaskan tubuh adiknya hingga tersungkur dan membentur meja. Tak sampai di situ Ia juga mencengkram dagu Celin kuat kuat tak memperdulikan darah yang mengucur di kening Celina.
"Monster." Celin tertawa hambar melihat kelakuan asli Zahra yang begitu kejam tidak lembut seperti ketika di depan orang orang. Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit saat terkena pukulan di latihan jadi hal seperti ini menurutnya biasa saja.
"Ya. Aku memang monster." Jawabnya sambil tersenyum jahat.
"Semenjak kehadiranmu aku selalu sial. Kenapa kau tidak mati saja hingga aku menjadi putri satu satunya."
"Bunuhlah aku jika itu keinginan mu."
"Dengan senang hati." Zahra meraih guci di atas meja. Belum sempat memukulkan pada sang adik, suara bariton seseorang menghentikan aksinya.
__ADS_1
Celin langsung di bawa ke rumah sakit oleh suaminya. Devan begitu khawatir melihat kondisi istrinya yang semakin pucat dengan darah yang belum juga berhenti mengalir.
"Bertahanlah." Ucapnya sambil berlari. Dari tadi Ia memang merasa cemas. Selesai dari kampus Ia langsung menyusul sang istri karena takut terjadi sesuatu. Benar saja Celin akhirnya Ia temukan dalam keadaan seperti ini dan yang berulah adalah Kakak istrinya sendiri.
Papa tak bisa membendung emosinya lagi. Laki laki itu membiarkan istrinya menampar si sulung sesuka hati.
"Mama sekarang lebih sayang sama Celin? Harusnya Zahra yang menikah dengan Kak Devan Ma. Zahra cinta sama Kak Devan. Kenapa semuanya Celin yang punya." Teriak gadis itu mengungkapkan di depan suami dan kedua orang tuanya.
"Tutup mulutmu. Devan itu suami adikmu. Kamu yang dapat kasih sayang penuh dari Papa dan Mama sementara adikmu tidak. Apa kamu tidak sadar juga tentang itu Za? Demi kamu Papa dan Mama mengabaikan Celin dan itu yang kami sesali. Adik kecilmu di rawat pengasuh sementara kamu selalu bersama kami. Kamu tidak ingat masa kecilnya yang selalu di bully oleh teman teman kamu dan kamu sendiri karna kamu tidak mengakuinya sebagai adik? Dia selalu menunggumu pulang sekolah untuk diajak main namun kamu selalu menolak. Menggandeng tangannya pun kamu tidak pernah dan tidak sudi Za. Mama pikir tidak memarahi kamu dulu karna kamu masih kecil merupakan hal yang tepat. Tapi Mama salah. Kamu keterlaluan." Zahra hanya bisa diam mencerna kata kata Mamanya hingga satu per satu orang meninggalkan tempat. Ia menitihkan air mata mengingat perlakuan kejamnya pada Celin dulu. Adik yang selalu memberinya perhatian dan kasih sayang. Terus mengajaknya bicara meskipun selalu Ia bentak dan dorong hingga terjatuh. Sekarang Ia melukainya lebih parah.
"Maafkan Kakak." Lirih wanita itu sambil mengusap air mata.
Celin keluar dari ruang UGD dengan santai berbanding terbalik dengan orang orang yang sedang mondar mandir mencemaskan keadaanya.
"Baik." Jawabnya singkat.
"Aku mau pulang." Lanjutnya sambil melenggang pergi.
"Kamu baru keluar UGD. Jangan jalan cepat begitu." Tegur Devan mengimbangi langkah istrinya.
__ADS_1
"Kalian membuatku pusing saja." Gerutunya tak menghiraukan keluarganya yang terus mengomel.
"Gimana keadaan Celin Mas?" Tanya Zahra saat suaminya baru masuk ke kamar.
"Baik." Jawab Dimas singkat. Pria itu kemudian berbalik menatap istrinya.
"Apa yang kamu lakukan benar benar keterlaluan Za. Ini di luar batas. Aku masih terima jika kamu berterus terang bilang jika menyukai Devan. Tapi kali ini sangat tidak manusiawi. Kamu melukai adikmu sendiri. Adik yang selalu kamu lukai dan kini kamu lukai lagi lebih dalam. Bisa kamu bayangkan sesakit apa menahan rasa sejak kecil? Kamu beruntung Za. Tapi kamu tidak pernah bersyukur. Rasa dengki menutup hati kamu. Terserah kamu sekarang mau bagaimana. Mas pasrah. Kalau kamu minta cerai Mas juga tidak akan mencegah lagi. Rumah tangga kita memang sepertinya sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Mas sudah lelah berjuang sendiri. Percuma Mas bertahan jika hati kamu milik orang lain." Ucap Dimas panjang lebar membuat istrinya menangis. Zahra seketika bersimpuh memeluk kaki suaminya.
"Maaf Mas. Maafin aku. Aku akan berubah. Aku sadar telah menyakiti Mas dan Celin. Aku akan perbaiki semuanya. Beri aku kesempatan. Kini aku tau jika Devan adalah obsesi bukan cinta. Karena apa yang dimiliki Celin selalu aku inginkan. Maafkan Zahra Mas." Dimas tak merespon istrinya. Ia melepaskan tangan Zahra pelan kemudian bergegas pergi untuk menenangkan diri.
"Apa ini?" Tanya Celin menatap heran makanan di depannya.
"Sub. Mama yang masak sendiri."
"Bentuknya nggak meyakinkan. Mama nggak pernah masak kenapa tiba tiba masak. Nanti kukunya rusak." Ucap Celin tak berfilter.
"Mama masak khusus untuk kamu. Di coca ya." Wanita itu mulai menyuapi putrinya.
"Gimana?" Tanya Papa.
__ADS_1
"Masa Mama kalah sama Mantu Mama. Masakan pak Devan aja nggak separah ini." Jawab Celin jujur tak basa basi. Devan mendengar secara tidak langsung di puni istrinya tersenyum bangga.
"Iya Asin banget. Jangan dimakan. Mama pesankan makanan saja." Putusnya mengakui jika masakannya sangatlah tidak pantas untuk dirasakan.