Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Jangan Takut Lagi


__ADS_3

Kabar kehamilan Celin sudah sampai di keluarga dan orang orang terdekat. Mereka sudah menjenguk kemarin membawakan makanan makanan kesukaan Celin karena wanita itu sedang mengalami masa rewel.


"Ayo makan dulu." Ucap Devan membawa sendiri nampan menghampiri istrinya yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang sembari menonton TV.


"Masih kenyang." Jawab Celin.


"Kamu belum makan Sayang. Hanya minum susu sama roti sejak pagi tadi. Ayo makan dulu aku suapi." Devan mulai membujuk istrinya.


"Beneran masih kenyang. Nanti malah muntah kamu paksa aku makan."


"Yasudah nanti." Jawab Devan meletakkan nampannya di atas nakas.


"Kamu sudah makan?" Tanya Celin terenyuh dengan perhatian suaminya yang melayaninya sendiri.


"Belum."


"Makan dulu."


"Suapi." Jawab Devan tersenyum senang menadapat perhatian dari sang istri.


Celin mulai menyuapi suaminya makan. Makanan yang di bawa Devan tadi akhirnya di makan juga oleh pria itu karena sang istri tidak mau makan.


"Kamu punya dua kepribadian ya?" Tanya Celin tiba tiba membuat Suaminya tersedak lalu segera meneguk air.


"Ya enggak lah Yang. Masa aku begitu."


"Heran saja. Kemarin kamu begitu dan sekarang begini."


"Dengarkan aku baik baik. Aku bisa bersikap lunak dan lembut tapi aku juga bisa bersikap kejam kepada kamu untuk mempertahankan kamu agar tetap bersamaku. Maaf membuatmu takut kemarin. Tapi aku begitu karena sangat mencintai kamu. Aku takut kehilangan kamu. Dan sekarang jangan takut lagi. Selama kamu tidak pergi dari sisiku maka semuanya akan baik baik saja." Ucap Devan mengusap pipi istrinya.


"Aku tidak akan pergi dengan satu syarat."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Jangan batasi aku. Aku tidak akan bekerja sesuai keinginanmu. Tapi izinkan aku untuk keluar atau sekedar melihat usahaku."


"Baiklah. Tapi kami harus berjanji."


"Iya aku janji." Jawab Celin cepat.


Devan menuruti keinginan istrinya untuk jalan jalan di taman belakang padahal siang ini begitu terik.


"Ayo masuk saja. Mataharinya panas." Ucapnya sembari mengelap kening Celin yang berkeringat.


"Iya." Jawab Celin patuh karena Ia juga merasa kepanasan.


Sepasang suami istri sedang duduk berdua sambil melihat lihat foto di album. Celin memperhatikan foto kedua mertua dan adik iparnya yang telah tiada karena sebuah kecelakaan tunggal saat dalam perjalanan pulang dari luar kota.


"Waktu kecelakaan itu kamu umur berapa Mas?" Tanyanya karena suami tak pernah bercerita tentang keluarga dan hanya pernah mengajak Celin ke makamnya saja.


"Umur aku 20. Saat itu hujan sore hari turun begitu lebat. Aku menunggu mereka pulang dari berlibur karena aku memang tidak ikut untuk menyelesaikan tugas dari kampus. Berjam jam menunggu tidak sampai sampai padahal normalnya mereka harus sudah tiba dua jam lalu. Aku semaki risau dan kemudian satpam datang memanggilku katanya ada polisi yang ingin bertemu. Saat aku temui ternyata kabar duka datang. Papa dan Mama meninggal di tempat dalam kecelakaan itu sementara adik perempuanku meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit." Devan menceritakan kisah hidupnya.


Sore hari Celin baru selesai mandi. Wanita itu duduk sembari menikmati susu hangat buatan suaminya.


"Sayang." Ucap Devan ikut duduk bersama sang istri setelah memberi kecupan. Pria itu membaringkan kepalanya dengan nyaman di paha Celin dengan tangan melingkar untuk memeluk pinggang.


"Kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Devan menatap istrinya.


"Apa boleh?"


"Boleh. Katakan saja jika kamu menginginkan sesuatu."


"Aku ingin makan sate." Jawab Celin.


"Tidak steak saja? Sama sama daging di bakar. Steak lebih enak."


"Aku ingin sate."

__ADS_1


"Baiklah nanti aku suruh orang untuk beli."


"Aku ingin makan di tempat."


"Sekarang sedang gerimis. Cuaca dingin. Nanti kamu sakit lagi dan aku tidak mau itu terjadi. Makan di rumah saja. Mengertilah." Ucap Devan dengan lembut berharap istrinya akan mengerti.


"Kira kira dia laki laki atau perempuan?" Tanya Devan mengusap perut istrinya.


"Tidak tau. Kamu maunya laki laki atau perempuan?"


"Terserah saja. Laki laki ataupun perempuan tidak masalah. Kalau kamu?"


"Sama saja. Laki laki atau perempuan tidak masalah."


"Kita tidak pernah liburan berdua ya. Kamu ingin liburan tidak? Jika kamu menginginkannya mari kita liburan."


"Kemana?"


"Kemanapun yang kamu inginkan."


"Untuk saat ini aku tidak ingin kemanapun."


"Baiklah. Lagipula kamu juga harus banyak istirahat karena sedang hamil. Lain kali saja kita liburan." Jawab Devan mengecup perut istrinya.


Celin makan malam dengan sate di suapi suaminya. Ia makan dengan lahap membuat suaminya lega karena berhari hari Celin begitu rewel dan enggan untuk makan.


"Kamu makan juga."


"Iya aku makan nanti."


"Aku bisa makan sendiri, kamu makanlah."


"Nanti setelah kamu. Pokoknya kamu harus aku suapi." Jawab Devan membuat istrinya tak membantah lagi.

__ADS_1


__ADS_2