Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Sama Sama Menyadari


__ADS_3

Ada revisi di bab bab sebelumnya ya....


Celin hamilnya di tunda dulu karna untuk perpanjang episode.


Yuk lanjut....


"Kamu lagi dimana?" Tanya Devan yang sedang bertelponan dengan istrinya saat dalam perjalanan pulang.


"Yasudah Aku jemput. Jangan kemana mana sebentar lagi sampai." Ucap laki laki itu tak mendengarkan penolakan.


"Ya Aku sudah sampai di parkiran. Love You." Ia bergegas turun lalu berjalan tergesa gesa masuk ke swalayan tempat istrinya sedang berbelanja.


"Sayang." Dengan tak tahu malu Devan memeluk dan mencium istrinya padahal keadaan disana cukup ramai dan tentu saja sepasang suami istri itu menjadi pusat perhatian.


"Bikin malu. Kan aku sudah bilang kamu nggak perlu datang. Aku sebentar lagi selesai. Lagian dekat tinggal nyebrang." Cerocos Celin.


"Nggak Papa. Kamu kenapa pakai celana pendek begitu. Sengaja pengen lihatin paha kamu ke orang lain. Ingat ini cuman Aku yang boleh lihat." Devan melepas jasnya kemudian mengikatkan di pinggang sang istri untuk menutupi paha mulus Celin yang sedikit terekspose karena mengenakan celana di atas lutut.


"Biasanya juga aku pakai begini." Ia berusaha melepaskan jas suaminya.


"Aku cium lagi kalau kamu lepas." Ancam Devan membuat gadis itu seketika diam.


Celin melanjutkan belanjanya di temani suami yang begitu menyebalkan.


"Jangan beli itu. Banyak pengawetnya. Beli yang sehat sehat." Tegur Devan saat melihat istrinya mengambil mie instan.


"Biasanya juga aku makan."


"Yang ini lebih baik." Ia mengembalikan milik istrinya kemudian mengganti dengan mie lain yang harganya jauh lebih mahal namun kualitasnya bagus karena tidak mengandung pengawet.


"Mau makan siang pakai apa?" Tanya Celin menawari membuat Devan tersenyum.


"Kamu bisa bikin udang asam manis?"

__ADS_1


"Bisa. Mau itu?" Devan mengangguk mengiyakan istrinya.


"Lalu apa lagi?"


"Tumben di tawari. Biasanya langsung masak."


Celin berbalik menatap suaminya sambil bersedekap dada. Laki laki itu banyak mau minta diperhatikan saat Ia sudah mencoba kenapa sekarang tanya tanya.


"Yaudah kalau nggak mau." Kesalnya berjalan kembali.


"Maaf Sayang. Aku cuman senang saja karena kamu perhatian." Devan mengikuti langkah istrinya sembari mendorong troli.


Sepasang suami istri sedang makan bersama setelah kegiatan memasak sambil berdebat mereka usai. Celin menyuapi suaminya karna laki laki itu terus merengek membuat telinganya gatal dan mau tak mau hanya bisa menuruti saja.


"Nanti kita packing ya. Soalnya besok sudah berangkat liburan." Ucap Devan sambil mengunyah.


"Besok? Mendadak banget." Celin kesal karena tiba tiba rencana keberangkatan diubah tanpa memberitahu dirinya terlebih dulu.


"Kata Papa biar agak lama disana."


"Aku ke cafe sebentar ya." Ucap Celin menghampiri menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi masih mengenakan handuk yang melingkar di pinggang.


"Mau ngapain?"


"Mau periksa laporan keuangan sama kasih buku menu baru."


"Aku antar. Tunggu sebentar."


"Nggak usah. Cuman sebentar nanti cepat pulang." Devan mengangguk. Ia berpesan pada istrinya untuk hati hati dan cepat kembali kemudian memberikan ciuman sebelum gadis itu pergi.


Celin bergabung bersama karyawannya untuk mengobrol sebentar setelah mengecek semua laporan keuangan yang beberapa bulan belakangan memang belum Ia periksa.


"Kamu di sini Dek." Ucap Dimas ketika hendak memesan sesuatu ternyata melihat ada iparnya.

__ADS_1


"Kak Dimas. Sama siapa?"


"Sendiri. Bisa ngobrol sebentar. Kakak mau bicara sesuatu."


Dua orang sedang duduk saling berhadapan.


"Mau bicara apa Kak?" Tanya Celin tanpa basa basi ingin langsung pada intinya.


"Kamu tau kalau kakak kamu suka sama suami kamu?" Tanya Dimas dan dijawab anggukan oleh iparnya.


"Sangat ketara. Aku pikir aku saja yang menyadari. Kak Dimas pun sama." Ucap Celin dengan santai.


"Ya. Memang aku baru tau setelah menikah. Dia terus terang bilang kalau menikah denganku hanya terpaksa karena sudah janji dengan Ayah. Dulu kita sempat putus karena dia mau di jodohkan dengan Devan. Tapi siapa sangka Devan menikahnya dengan kamu."


"Ya aku pun tak menyangka. Aku yang tak tau apa apa akhirnya terlibat dalam situasi rumit. Saat itu Papa serangan jantung dan kita diminta untuk menikah dadakan." Celin menceritakan kisahnya.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Devan melihat istrinya baru pulang.


"Masih ngobrol sebentar sama Kak Dimas."


"Kalian ketemu? Kan aku sudah bilang jauhi dia."


"Kita nggak sengaja ketemu. Dia lagi di cafe aku." Celin tiduran di sofa setelah melepas jaketnya.


"Ngobrol apa kalian?"


"Ngobrol biasa." Gadis itu mulai memejamkan mata.


"Kalau tidur di dalam saja."


"Dah nyaman."


Devan menggeser tubuh istrinya kemudian ikut tiduran sambil memeluk.

__ADS_1


"Apaan sih. Sempit." Protes Celin.


"Biarin." Jawabnya tak peduli dengan kekesalan sang istri.


__ADS_2