
Celin hari ini tidak ada kuliah memutuskan untuk pergi ke cafe setelah mampir sebentar di toko untuk mengecek semua barang yang akan di kirim.
"Mbak Celin." Ucap pegawainya begitu senang melihat kedatangan si Bos yang akhir akhir ini jarang berkunjung.
"Hy... Gimana hari ini? Makin rame ya?" Tanya Celin sambil memakai apron untuk ikut melayani orang orang yang sedang mengantri untuk membeli kopi.
"Iya Mbak. Banyak yang suka sama menu baru yang Mbak bikin kemarin."
"Syukur deh kalau cocok sama lidah pembeli. Aku ketar ketir awalnya mau tambah menu itu."
"Masakan Mbak emang selalu enak. Kalau ada ide baru langsung cus aja nggak pakai mikir pasti laku keras."
Karena tidak perlu lagi mengecek laporan keuangan Celin menggunakan waktunya untuk mengurusi foto foto klien yang belum sempat dikerjakan.
"Halo Mbak dari CF Graphic. Benar ini dengan Mbak Chintya?" Ucap Celin sedang menghubungi salah satu kliennya.
"Jadi begini Mbak, Saya ingin bertanya untuk ukuran dan model pigura foto prewedding Mbak yang bagaimana ya?"
"Oh pigura biasa dengan bingkai putih ukuran foto 24R. Baik baik... Terimakasih banyak. Besok akan segera kami kirimkan hasilnya."
Pukul 12 siang Devan sudah sampai di apartemen. Pria itu langsung menuju kamar karena tau istrinya pasti ada disana. Ia tadi sempat bertelponan dengan Celin saat dalam perjalanan pulang dan Sang Istri mengatakan jika sudah berada di rumah ingin tidur. Devan menarik napas kemudian menghembuskan pelan begitu membuka pintu kamar. Ia tak habis pikir dengan kelakuan istrinya. Celin tidur tengkurap dengan laptop yang masih menyala. Bukan masalah itu sebenarnya. Yang Devan permasalahkan adalah barang barang istrinya yang berserakan dimana mana. Mulai dari charger, ponsel, tas, kamera dan lainnya berserakan di lantai.
Devan berjalan dengan hati hati agar tak menginjak sesuatu. Ia duduk di samping ranjang dengan pelan agar tidak membangunkan istrinya. Pertama kali yang dilakukan pria itu adalah mencium istrinya di lanjutkan dengan membenarkan posisi tidur Celin agar nyaman.
Celin terbangun dari tidurnya.
"Sudah bangun?" Tanya Devan memberikan ciuman singkat.
"Kapan pulang?"
"Tadi waktu telponan sama kamu kan aku dalam perjalanan pulang." Celin mengangguk saja masih mengumpulkan nyawa untuk bisa seratus persen sadar.
__ADS_1
"Hachu..." Wanita itu bersin dan hidungnya meler lagi padahal pagi tadi sudah lumayan membaik.
"Pileknya belum sembuh benar."
"Jangan suruh aku minum obat lagi." Celin menyembunyikan kepala di dada bidang suaminya.
"Terus gimana kalau pilek begini?"
"Nggak minum es. Nanti sembuh."
"Lihat hidung kamu merah. Mata kamu berair. Badan kamu juga anget. Aku belikan obat sirup kalau begitu."
" Nggak mau. Nanti sembuh kalau aku istirahat."
"Yasudah istirahat saja. Tapi kalau semakin parah nanti minum obat sirup." Ucap Devan di angguki istrinya.
Sore hari keadaan Celin masih tetap sama. Tidak membaik dan tidak juga memburuk.
"Nggak mau dua duanya. Aku cuman butuh istirahat saja." Jawab Celin yang kini sedang tiduran di sofa sambil menonton TV. Devan mengusap kepala sang istri yang ada di pangkuan. "Aku keluar sebentar ya Yang." Ucapnya tiba tiba sesaat setelah membuka pesan dari seseorang.
"Kemana?"
"Mau ketemu sekertaris aku sebentar. Katanya mau ngomong penting."
"Ini mau hujan loh. Lagi mendung."
"Iya. Sebentar kok. Nanti cepat pulang." Devan mencium kening istrinya kemudian bergegas pergi.
"Iya hati hati." Jawab Celin.
Mobil Devan berhenti di salah satu cafe cukup terkenal. Pria itu masuk kemudian berjalan menuju meja di dekat jendela kaca.
__ADS_1
"Ada apa Za?" Tanyanya sambil duduk.
"Bantu aku untuk minta maaf ke Celin Dev." Ucapnya.
"Aku sudah mencoba seperti yang kamu minta tapi lihat sendiri sampai sekarang belum ada hasilnya juga."
"Aku harus bagaimana lagi? Aku tau aku salah. Aku minta maaf." Zahra mulai menangis.
Celin mengeratkan genggaman tangannya di stir mobil menyaksikan suaminya mengusap air mata Wanita yang telah menyakitinya selama ini. Ia tadinya tak ingin mengikuti. Namun melihat gelagat Devan yang tampak tak biasa membuat jiwa curiganya meronta ronta. Pria itu telah berbohong dengan dalih ingin menemui sekertaris untuk membicarakan sesuatu. Apa yang dimaksud Devan sekertaris adalah kakaknya? Dia tak habis pikir dengan semua ini. Kenapa tidak berterus terang saja ingin bertemu Zahra. Celin paling benci yang namanya dibohongi.
Devan berada di basment apartemen bertepatan juga dengan istrinya yang baru keluar dari mobil.
"Kamu lagi sakit keluar darimana Yang?"
"Kamu tadi ketemu siapa?" Tanya Celin dengan wajah datarnya.
"Ketemu sekertaris aku." Jawab Devan gugup.
"Yakin? Bukannya kamu ketemu Zahra?" Tanya Celin membuat suaminya membeku di tempat.
"Yang dengarkan aku dulu. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak ada maksud macam macam." Devan mencoba menjelaskan sembari mengikuti langkah sang istri.
"Kenapa harus bohong? Harusnya kamu bilang aja mau ketemu sama dia apa susahnya? Apa kau pernah melarang? Enggak kan? Aku paling benci yang namanya dibohongi."
"Aku nggak mau kamu salah paham makannya aku nggak bilang kalau mau ketemu dia."
"Lalu begini apa namanya? Apa tidak malah lebih dari salah paham."
"Aku minta maaf sudah bohong sama kamu."
"Biarkan aku sendiri. Aku mau sendiri." Celin mengunci pintu kamar mengabaikan suaminya yang terus mengetuk.
__ADS_1