Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Cara Licik Berakhir Manis


__ADS_3

Devan sudah tidak tahan lagi. Ia begitu tersiksa menahan hasratnya selama ini saat bersama sang istri. Jalan pintas terpaksa Devan lakukan. Ia telah menyiapkan mental dan hati jika istrinya marah nanti. Tak masalah. Toh dia yang salah.


"Minum dulu Yang." Devan memberikan minum pada istrinya yang baru selesai mandi. Memang terbiasa demikian, Celin tak menaruh curiga apapun langsung meneguknya setelah mengucapkan terimakasih.


"Bagaimana kuliahnya?" Tanya Devan saat istrinya sudah duduk di ranjang sembari membuka buku.


"Lancar. Kemungkinan nanti aku bisa menyelesaikannya satu tahun. Doakan ya."


"Tentu saja aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Jawab Devan mengambil gelas yang masih tersisa setengah menyuruh istrinya untuk minum lagi.


"Lanjut S3 boleh?" Tanya Celin menatap suaminya.


"Dipikirkan nanti saja." Devan mencari waktu untuk mengatakan tidak.


Devan diam diam tersenyum melihat istrinya yang mulai gelisah.


"Kamu kenapa?" Tanyanya.


"Nggak tau. Aneh rasanya. Kenapa tiba tiba panas ya." Devan mengambil buku istrinya kemudian meletakkan di atas nakas. Instinya sebagai laki laki seketika menuntun Ia untuk mengungkung tubuh sang istri. Celin tak menolak ketika suaminya mulai mencium dengan ganas meskipun tadi sempat banyak pertanyaan yang di lontarkan.


Ciumana Devan semakin panas. Tangannya terus bergerak melakukan sesuatu hingga keduanya sama sama polos tak memakai apapun. "Aku akan pelan sayang." Ucap Devan menggenggam tangan istrinya. Ia mulai mendorong miliknya yang sudah siap ke dalam milik sang istri.


"Sakit." Teriak Celin merasakan di bawah sana. Devan menghentikan aksinya sejenak. Ia memberi jeda kemudian mendorongnya lebih kuat hingga terbenam sempurna membuat Celin memekik sambil mengeluarkan air mata diiringi darah segar yang mengalir menandakan gadis itu sudah tidak lagi suci.


Suara tangisan kesakitan kini telah berubah menjadi irama merdu saling bersautan. Devan tersenyum akhirnya sang istri menikmati permainannya. Sesuai janji Ia melakukan dengan lembut. Pertama kali bagi sang istri tentu saja sakit dan Ia tak mau menyakiti yang lebih lebih. Baginya membuat Celin merasa nyaman adalah sebuah keharusan.


Devan menggerakkan pinggulnya dengan tempo semakin cepat. Keringan bercucuran menjadi saksi bisu pertempuran dua insan yang sedang melakukan kewajibannya itu. Devan mengerang panjang. Tubuhnya begitu lemas setelah berhasil menyemburkan benihnya di rahim sang istri.


"Terimakasih." Ucap Devan menggulingkan tubuhnya di samping celin setelah melepaskan penyatuan. Ia mengecup seluruh wajah sang istri kemudian ikut tidur memeluk gadis yang sekarang telah menjadi wanita itu.


Suara isakan membuat Devan terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Sayang." Ucapnya.


"Sakit." Keluh Celin.


"Maaf. Mana yang sakit?" Bodoh Devan bertanya begitu. Tentu saja yang di bawah sana.


"Hua... Sakit di bawah." Jawab Celin menangis semakin kencang membuat suaminya kelabakan.


"Maaf aku yang salah. Aku siapkan air hangat untuk mandi biar enakan."


Devan berendam bersama istrinya.


"Bagaimana? Sudah baikan?" Tanya Pria itu masih dengan raut wajah khawatir.


"Lumayan. Tapi kenapa kamu melakukan ini?" Celin menangis lagi.


"Maaf. Aku benar benar tidak bisa lagi menahannya." Jawab Devan memeluk istrinya.


Celin sudah baikan setelah di beri salep oleh suaminya. Ia kini sedang duduk menunggu Devan menyiapkan makan.


"Yakin nggak mau dibantu?" Celin menawari.


"Nggak perlu Sayang. Sebentar lagi siap. Kamu duduk saja." Jawab Devan tersenyum. Ia begitu bahagia dengan apa yang terjadi hari ini. Pergulatan panasnya dengan sang istri terus terngiang ngiang memenuhi kepala. Malam pertama yang sangat berkesan.


"Kok cuman satu?" Tanya Celin saat suaminya hanya menyajikan sepiring spaghetti.


"Makam sepiring berdua." Jawab Devan tersenyum mulai menyuapi sang istri.


"Masih sakit?" Tanyanya di jawab gelengan.


"Malam ini mau jalan jalan?" Devan menawari istrinya.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ke mana saja aku ngikut kamu."


"Ke Mall deh. Mau sekalian belanja kebutuhan dapur."


Malam hari Devan dan Celin sedang berbelanja di Mall.


"Jangan beli itu. Yang lain." Tegur Devan saat istrinya hendak mengambil minuman bersoda.


"Sudah lama nggak minum. Kamu ganti semua isi kulkas."


"Demi kebaikan kamu. Mulai sekarang harus hidup sehat." Jawab Devan mengusap kepala istrinya.


"Kita makan di restoran ya." Ajak Devan mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran. Ia telah memesan dinner romantis di salah satu restoran mewah untuk sang istri namun juga menanyai Celin siapa tau istrinya punya tempat lain untuk makan.


"Ngikut. Terserah mau dimana." Jawab Celin.


Devan berjalan menuntun tangan istrinya. Ia bergegas membuka penutup mata sang istri saat sudah sampai.


"Apa ini?" Tanya Celin terkejut dengan kejutan dari suaminya. Sebuah meja di hiasi dengan lili menyala cantik menghadap langsung pada kaca besar yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian.


"Terimakasih." Ucap Celin menerima hadiah dan buket bunga besar dari sang suami.


"Mau ngapain?" Ucapnya ketika Devan tiba tiba berlutut.


"Aku memang bukan pria yang romantis. Namun apa yang aku ucapkan benar benar dari hati. Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku belum melamar dengan baik. Aku mencintaimu sayang. Will You Marry Me?" Devan membuka kotak cincin berlian itu di depan istrinya.


"Yes I Will." Jawab Celin. Devan tersenyum bahagian menyematkan cincin di jari manis sang istri.


"Terimakasih. Aku sangat mencintaimu." Ungkapnya penuh kesungguhan sambil memeluk dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2