
Devan terbangun dari tidurnya. Laki laki itu langsung duduk bersandar di headboard ranjang besar milik sang istri. "Jam 6." Gumamnya melihat penunjuk waktu yang terletak di dinding. Kamar istrinya sangat rapi. Di dominasi warna abu abu muda seperti di apartemen. Tidak banyak barang karena sudah di pindahkan. Hanya tersisa meja, sofa, Tv dan beberapa perabotan lain.
Papa tersenyum memperhatikan menantunya yang sedaritadi mondar mandir. "Cari siapa? Istrimu?" Tanyanya di jawab anggukan cepat. "Dia lagi sepedahan. Nanti juga pulang. Kita di suruh sarapan dulu. Ayo." Ucap pria itu sembari menepuk punggung Devan.
Sarapan sedang berlangsung di selingi obrolan obrolan ringan. "Celin kalau sepedahan dimana Pa?" Dimas menanyakan Iparnya. "Jauh dia. Bisa belasan atau puluhan kilometer jauhnya kalau lagi semangat." Jawab Pria itu terkekeh mengingat putri bungsunya itu. "Kalau rutenya mana Pa? Devan mau susulin." Ucap Devan tidak tenang berjauhan dari sang istri. "Nggak perlu. Paling sebentar lagi pulang. Ini sudah hampir jam 8. Dia berangkat setengah lima tadi." Jawab Papa di angguki oleh istrinya.
Karena hari ini weekend semuanya sedang bersantai sambil mengobrol di ruang tengah. Devan hanya menjawab seperlunya pertanyaan sang mertua. Ia begitu khawatir karena sudah setengah sembilan lebih istrinya belum juga pulang. "Aku susul deh Pa." Ucapnya. Baru saja berdiri sosok gadis cantik berjalan masuk dengan celana pendek dan kaos yang sedikit basah. "Nah. Itu istrimu pulang." Kata Papa. Tak tahan lagi Devan langsung berjalan cepat lalu memeluk tubuh ramping itu dengan erat. "Ih. Lepasin." Kesal Celin. "Kamu kemana aja sih. Bikin cemas." Kata Riza tak memperdulikan istrinya yang protes. "Lepasin. Mau mandi dulu." Devan mengangguk kemudian segera melepaskan pelukannya. "Sudah sarapan?" Tanyanya. "Sudah." Jawabnya kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
"Boleh duduk?" Tanya Dimas menghampiri iparnya. "Boleh." Jawab Celin. "Tadi sepedahan sampai mana saja?" Ia memulai obrolan. "Lumayan jauh." Dimas tampak mengangguk. "Kapan kapan boleh lah kita sepedahan bareng." Ajaknya. "Boleh. Kalo ada waktu."
Devan tampak menghela napas kesal. Laki laki itu langsung menghampiri dua orang yang sedang mengobrol. "Sayang. Ayo." Ucapnya sembari menggenggam tangan sang istri. "Kemana?" Tanya Celin. "Keluar sebentar." Jawabnya tanpa menjelaskan buru buru mengajak istrinya untuk pergi. Ia tak suka Celin mengobrol dengan suami Zahra itu.
"Sebenernya mau kemana?" Tanya Celin menghentikan langkahnya. "Nggak mau kemana mana. Jangan ngobrol sama dia." Jawabnya. "Aku mau pulang."
Sepanjang perjalanan Celin diam sambil memainkan ponselnya. "Kita ke mall dulu ya." Kata Devan membuat gadis itu mengangkat pandangan menatap suaminya. "Mau ngapain?" Tanya Celin. "Mau beli beberapa baju" Jawab Devan langsung mendapat anggukan dari sang istri.
__ADS_1
Sampai di Mall Devan tak berhenti menggandeng tangan istrinya. "Lepasin kenapa sih. Kita nggak lagi nyebrang." Protesnya. "Biar tidak hilang." Jawab laki laki itu sambil tersenyum.
Devan sibuk memilih pakaian sementara istrinya hanya duduk menunggu. "Yang. Kalau yang ini bagaimana?" Tanyanya menghampiri sang istri. "Bagus." Jawab Celin. "Bantu pilih yang lain." Ucapnya membantu gadis itu berdiri.
Celin berjalan lalu mengambil beberapa kemeja dengan warna yang berbeda beda. "Nah. Cocok. Kainnya adem. Nyaman kamu pake. Nggak akan gerah." Ucapnya sembari menempelkan ke badan suaminya. "Terimakasih." Devan memeluk Sang Istri karena mendapat perhatian kecil dari Celin. "Ih. Malu di lihatin orang." Kesalnya mendorong tubuh Devan agar menjauh. "Kita bayar dulu. Setelah ini beli untuk kamu." Celin menolak namun suaminya tak peduli.
Pasangan suami istri itu telah sampai di apartemen. "Siapa yang mau pakai sebanyak itu. Lagian daster semua." Keluh Celin sembari meminum bobanya. "Kamu. Masa aku yang pakai. Ini bukan daster. Ini Dress." Jawab Devan. "Kamu pakai deh. Nanti ya." Lanjutnya duduk di samping sang istri. "Kamu saja yang pakai." Kata Celin menaruh minumannya di meja kemudian berbaring di ranjang.
__ADS_1
Devan menyusul istrinya setelah menutup gorden kamar lalu berbaring sembari memeluk Celin yang menghadapnya. "Semalam kamu tidur cepat. Jam segini sudah mengantuk?" Tanya Devan. "Memangnya aku semalam tidur? Kamu yang tidur." Jawabnya sambil membuka mata. "Kamu nggak tidur. Ngapain? Perasaan semalam peluk kamu." Ucap Devan heran. "Iya. Sampai jam 12 aku paksain tidur nggak bisa. Jadi aku baca komik." Laki laki itu menghela napas pelan. "Yasudah sekarang tidur. Aku temani." Ucapnya mengecup kening dan bibir istrinya dengan cepat. "Nggak usah cium cium. Lagian aku juga nggak perlu di temani buat tidur." Devan tersenyum lalu mengeratkan pelukannya tak peduli dengan penolakan sang istri.