
Celin telah menyelesaikan pendidikannya. Ia baru merayakan kemarin bersama teman dan keluarga di rumah Devan yang kini menjadi tempatnya untuk menetap.
"Yakin tidak ada yang mau di rubah?" Tanya Devan memastikan lagi keputusan istrinya yang tak ingin mengubah apapun.
"Ya. Sudah berapa kali kamu tanya."
"Siapa tau kamu berubah pikiran." Devan mengecup pipi sang istri kemudian ikut duduk di samping wanita yang sedang sibuk dengan pekerjaannya itu.
"Belum selesai juga?"
"Belum. Sebentar lagi. Setelah di kirim untuk di cetak pekerjaan aku udah beres."
Beberapa menit kemudian Celin tampak menutup laptopnya menandakan pekerjaannya telah beres.
"Ayo tidur siang." Ajak Devan.
"Duluan aja. Aku belum ngantuk."
"Ayo tidur." Devan yang tak menerima penolakan istrinya langsung menggendong Celin lalu meletakkan di ranjang. Pria itu ikut berbaring sembari memeluk sang istri dengan erat tak membiarkan Celin untuk kabur.
"Berat kamu." Celin melayangkan protes pada suaminya.
"Peluk kamu begini enak. Nyaman." Devan tak menggubris sang istri.
"Mas." Celin mulai sebal.
"Apa sih sayang?"
"Kamu berat. Minggir."
"Nggak mau. Sudah enak begini."
"Iya tapi agak longgarin. Sesak aku."
"Maaf." Devan langsung mengubah posisinya. Ia meletakkan kepala istrinya di lengan sementara tangan satunya memeluk sang istri.
Celin perlahan menyingkirkan lengan suaminya yang sudah tertidur pulas. Wanita itu turun dari ranjang dengan hati hati agar Devan tidak terbangun. Ia kemudian duduk di sofa sembari membuka laptopnya untuk melihat informasi kampus yang akan dijadikan tempat meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya karena ini sudah menjadi rencana hidup Celin. Ia bahkan sudah menabung jauh jauh untuk bisa kuliah di inggris. Jika rencana s2 nya gagal. Makan kali ini adalah kesempatannya untuk mewujudkan. Celin memang sudah memberitahu suaminya namun Devan tak kunjung juga memberikan kepastian. Namun keputusannya sudah bulat. Ia akan melanjutkan pendidikannya di tempat yang sudah sejak dulu menjadi impian.
Devan terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihat Celin yang masih pulas. Pria itu memberikan kecupan lembut membuat istrinya menggeliat.
"Sudah bangun." Ucap Devan saat Celin membuka mata.
__ADS_1
"Hm."
"Kita hari ini ke rumah Papa untuk acara empat bulan kehamilan Zahra."
"Kamu aja yang datang. Aku malas." Jawab Celin enggan bertemu dengan banyak orang.
"Ayolah. Mama bahkan sudah membelikan baju untuk kita."
"Ah terserah mu saja." Celin menutup kembali matanya karena masih mengantuk.
Malam hari Devan dan sang istri sudah sampai di rumah Papa. Pria itu merangkul pinggang istrinya yang kali ini tampil begitu cantik dengan kebaya dan rok batik.
"Dek." Sapa Mama dan Papa.
"Dek. Terimakasih sudah datang." Zahra memeluk Celin setelah Mama dan Papanya melepaskan.
"Ini?" Tanya salah seorang tamu karena tidak mengenal Celin.
"Ini putri kedua saya." Jawab Papa memperkenalkan Celin pada rekan kerja dan teman temannya.
"Oh Za, ini bukannya gadis kecil yang sering di rumahmu dulu. Aku kira dia...."
"Saya permisi." Ucap Celin bergegas pergi. Ia ingat betul itu teman kakaknya yang dulu sering main ke rumah dan mengatai Ia anak pembantu.
"Sudah cukup. Dia adikku..." Tegas Zahra membuat temannya diam.
"Sepatu sialan. Baju sialan." Ucap Celin kini sudah berganti dengan celana pendek dan kaos seadanya yang ada di rumah. Ia sekarang berada di lapangan belakang menghindari keramaian acara.
"Kenapa nggak bergabung di sana?" Tanya seseorang menghampiri Celin.
"Malas. Pak Rangga juga ngapain nggak gabung?"
"Aku? Mana pernah aku ada di acara. Aku lebih suka sendiri."
"Pak Rangga memang sehati denganku." Celin tertawa lepas dengan Asisten Papanya itu.
"Pak. Nge bakso yuk." Ajak Celin kangen masa masa keluar dengan Rangga.
"Emang nanti nggak di cariin?"
"Bodo amat. Ayo." Ia menarik tangan pria kekar itu untuk bergegas pergi.
__ADS_1
Celin dan Pak Rangga menikmati bakso langganan mereka.
"Lama nggak begini ya."
"Iya Pak. Kangen."
"Kamu gimana sekarang?"
"Ya beginilah Pak. Banyak huru hara."
"Sabar. Nanti juga ada jalannya."
"Tau ah Pak. Aku kayanya mau ke Inggris aja. Aku mau lanjutin kuliah disana."
"Memang di kasih izin?"
"Emang mereka nggak kejam kalau sampai nggak kasih aku pergi? Udahlah maksa aku nikah, nggak rawat aku dari kecil, merenggut masa mudaku. Tau ah pak. Sakit kalau di ceritain lagi. Tapi makasih banget sama Pak Rangga. Dari aku kecil Pak Rangga yang care sama aku. Tiap ada acara di sekolah sama ambil raport Pak Rangga yang datang. Sampai wisuda S1 aku kemarin cuma Pak Rangga sama Bunda yang datang. Miris ya. Punya keluarga lengkap tapi kaya nggak ada."
"Sudah jangan sedih. Masa sedih sih. Biasanya mengumpat dan mukul kok mellow begini."
"Terimakasih Pak untuk semuanya."
"Sama sama." Ucap Rangga memeluk Celina.
Pukul 9 malam Celin baru sampai di rumah. Suasana sudah sepi karna acara sudah selesai dan para tamu juga sudah pulang.
"Darimana kalian?" Tanya Devan melihat istri dan Asisten mertuanya masuk ke rumah.
"Keluar."
"Kemana kamu bawa istri saya pergi?" Devan sudah sangat marah memukuli Rangga tak menghiraukan Celin dan yang lainnya mencoba memisahkan.
"Brug..." Devan tak sengaja memukul sang istri karena Celin menghalang halangi membuat pria itu akhirnya berhenti.
"Sayang."
"Dek."
"Ucap Mereka melihat sudut bibir Celin berdarah."
"Pak Rangga nggak papa?" Tanya Celin membantu pria itu berdiri.
__ADS_1
"Nggak Papa. Bibir kamu berdarah." Ucap Rangga.
"Biasa. Ayo diobati." Celin membawa rangga meninggalkan mereka yang masih mematung.