Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Tidak Salah Pilih


__ADS_3

Celin masih bersikap dingin pada suaminya semenjak bertengkar dengan Devan kemarin. Ia begitu irit bicara dan menjawab sepertinya apa yang di tanyakan sang suami. Devan juga sama halnya begitu. Karena sadar istrinya masih marah Ia juga turut diam tak banyak bicara seperti biasa.


"Kamu hari ini di rumah saja?" Tanya Devan karena istrinya tidak ada jadwal ke kampus.


"Mau ke toko." Jawab Celin sembari memakan sarapannya.


"Berangkat sama aku saja."


"Aku berangkat sendiri."


"Sama aku." Devan mulai bernada tegas dan terpaksa sang istri tak membantah lagi.


Selesai membereskan meja makan dan bersiap Celin menghampiri suaminya.


"Ayo." Devan menggandeng tangan istrinya untuk segera di ajak berangkat.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali. Devan fokus di jalan sementara Celin menatap keluar jendela mobil hingga keduanya sampai di tempat.


"Ma niu di jemput jam berapa?" Tanya Devan sebelum istrinya turun.


"Tidak perlu. Aku pulang lebih awal. Naik taxi saja." Jawabnya kemudian berpamitan dan bergegas turun.


"Mbak Celin." Sapa karyawan yang melihat kedatangan bosnya.


"Gimana? Semuanya lancar?" Tanya Wanita itu.


"Lancar Mbak. Ini kita lagi siapin lagi pengiriman untuk ke batam."


"Yasudah. Aku ke dalam dulu ya." Celin berpamitan untuk ke ruang kerjanya.


"Masuk." Ucap Celin saat mendengar pintu ruangannya di ketuk beberapa kali.


"Minumnya Mbak." Seorang perempuan berjalan kemudian meletakkan segelas es teh manis di atas meja bosnya.


"Terimakasih. Nanti tolong suruh semuanya kumpul ya. Waktunya gajian."


"Siap Mbak. Mbak Celin mau apa apa lagi?"


"Tidak." Jawab Celin sambil tersenyum.

__ADS_1


Siang hari Dave sudah sampai di apartemen istrinya. Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar. Ia tersenyum melihat istrinya tidur pulas di ranjang. Kecupan lembut Dave berikan untuk sang istri kemudian melangkah pergi untuk membersihkan diri.


Devan tadinya berniat untuk membuatkan makan siang. Namun Ia mengurungkan niat saat di meja sudah terjadi beberapa hidangan dengan catatan kecil yang menyuruhnya untuk makan duluan karena Celin masih kenyang.


Celin menggeliat. Ia terbangun dari tidurnya karena merasa terusik dengan gerakan seseorang. Perlahan Ia menyingkirkan lengan kekar suaminya kemudian beranjak turun dari ranjang setelah meninggalkan ciuman singkat. Devan diam diam tersenyum melihat perlakuan manis istrinya. Ia sebenarnya sudah bangun saat istrinya bangun tadi namun memilih untuk pura pura tidur ingin melihat apa yang istrinya lakukan.


"Sialan. Kurang ajar. Goblok..." Umpat Celin kesal dengan pemain satu timnya.


"Mulutnya di jaga." Tegur Devan membekap mulut istrinya dengan telapak tangan. Celin tak menanggapi masih fokus ke layar PC nya. Ia tak mau sedikit saya mengalihkan pandangan menjadikannya kalah dalam permainan.


"Masih marah?" Tanya Devan memutar kursi istrinya setelah game yang dimainkan Celin berakhir. Pria yang hanya mengenakan boxer itu berjongkok kemudian memeluk wanita di depannya dengan erat.


"Menurutmu?" Celin enggan menjawab malah mengajukan pertanyaan pada suaminya.


"Maaf aku sudah keterlaluan. Aku hanya ingin kamu di rumah saja jadi istri. Nggak perlu kerja, nggak perlu kemana mana."


"Kita sudah sepakat di awal kalau kamu nggak bakal larang larang aku. Terus apa maksudnya kemarin tentang wanita elegan itu? Kamu nyesel sekarang sudah nikah sama aku? Dari awal kan memang aku begini. Kenapa kamu mau?"


"Bukan begitu sayang. Aku cuman nggak pengen kamu naik naik motor begitu. Kamu sekarang sudah jadi istri. Yang feminim."


"Tau ah. Minggir. Aku mau mandi." Celin melepaskan tangan suaminya kemudian bergegas pergi.


Celin terkejut saat mendapat pelukan dari suaminya ketika Ia baru keluar dari kamar mandi.


"Sayang aku minta maaf." Ucap Devan.


"Sudah makan?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Aku lapar. Aku nunggu kamu."


"Yasudah ayo kita makan."


Suasana ruang makan begitu hening. Devan dan Celin sama sama tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya ada dentingan sendok yang sesekali terdengar di ruangan berukuran 4x5 meter itu.


"Mau jalan jalan?" Ajak Devan mengawali obrolan.


"Kemana?"


"Kamu maunya kemana?"

__ADS_1


"Pantai."


"Iya. Tunggu aku mandi sebentar setelah itu kita berangkat." Jawab Devan tersenyum karena istrinya sudah mau diajak bicara.


Sepasang suami istri sedang berjalan menyusuri bibir pantai sembari bergandengan tangan. Suasana cukup lengang membuat keduanya lebih leluasa menikmati suasana sunset yang begitu indah.


"Capek nggak?" Tanya Devan.


"Nggak. Berhenti dulu." Celin mengeluarkan kameranya kemudian mulai memotret matahari yang sedang tenggelam.


"Kita makan malam disini ya." Ajak Celin.


"Nggak ada restoran."


"Rumah makan biasa nggak perlu restoran. Disana ada yang jual nasi padang enak." Jawab Celin menarik tangan suaminya untuk diajak segera bergegas.


Devan hanya memperhatikan istrinya yang sedang makan dengan lahap tanpa menggunakan sendok. Ia tidak berselera sekali. Tidak pernah makan di tempat seperti ini membuatnya enggan untuk mencicipi karena ragu akan kebersihan dan rasanya.


"Kenapa nggak di makan?" Tanya Celin melihat suaminya hanya diam saja.


"Nggak doyan." Jawab Devan jujur.


"Coba dulu baru berkomentar. Mau di suapi?" Devan mengangguk pelan kemudian membuka mulutnya menerima makanan dari teman sang istri.


"Gimana? Enak?"


"Nggak. Masih enak masakan kamu. Aku makan di rumah saja."


"La terus terlanjur pesan itu gimana? Mubazir."


"Buang aja."


"Nggak. Aku bungkus."


"Kenapa sih. Beli yang lain saja."


"Mubazir. Banyak orang di luar sana nggak bisa makan kamu malah buang buang makanan." Devan diam. Ia kemudian mengecup kening istrinya untuk mengungkapkan rasa kagum pada pemikiran wanita itu.


"Aku tidak salah pilih." Gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2