Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Tak Bisa Dibantah


__ADS_3

Devan terbangun dari tidurnya. Pria itu menghela napas menyadari Celin sudah tidak ada di tempat. Hari libur begini rencananya akan bangun siang dan sarapan di ranjang untuk menikmati waktu berdua dengan sang istri namun sepertinya tidak terwujud. Celin pasti sudah ada di dapur. Memasak sambil mengobrol dengan pelayan di rumah. Devan memilih untuk segera bersih bersih lalu menyusul sang istri.


Para pelayan undur diri saat Tuan mereka datang. Celin masih belum menyadari oleh karena itu Ia masih berceloteh lalu berhenti saat merasakan pelukan dari seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Devan yang aromanya Celin hafal betul.


"Kenapa meninggalkan aku sendiri hm?" Tanya Devan meminta penjelasan.


"Kamu sepertinya masih sangat mengantuk. Jadi aku bangun duluan."


"Lain kali jangan lakukan itu lagi. Aku ingin ketika terbangun wajah kamu yang pertama kali aku lihat." Selain mengangguk tak ada lagi yang bisa Celin lakukan. Suaminya yang pemaksa sedang dalam mode harus di turuti. Jika saja Ia membantah urusannya akan panjang.


Sepasang suami istri sedang sarapan di gasebo belakang rumah sembari menikmati suasana pagi yang begitu cerah. Celin makan di suapi Devan karena pria itu yang memaksa.


"Dah kenyang Mas." Ucap Celin meminta Sang suami untuk berhenti menyuapi.


"Baru lima suap. Ayo lagi."


"Sudah kenyang. Perut aku rasanya penuh. Itu susu yang kamu buatkan juga belum aku minum."


"Yasudah." Jawab Devan menuruti keinginan sang istri dan menghabiskan sisa makanan di piring.


"Woah mangga..." Celin berbinar menatap pohon mangga yang sedang berbuah lebat.


"Kamu mau mangga?" Devan menawari.


"Manis nggak?"


"Belum tau. Aku juga tidak pernah makan. Aku suruh Bibi kupaskan mangga matang untuk kamu." Ucap Devan meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang.


Devan memijit kaki istrinya yang duduk berselonjor di sofa ruang keluarga. Ia tadinya ingin mengajak Celin jalan jalan di taman belakang namun karena tiba tiba saja angin bertiup kencang membuat Devan akhirnya memutuskan untuk mengajak sang istri masuk. "Sudah Mas. Jangan di pijit lagi. Aku nggak capek."


"Sudah diam. Kamu suka sekali membantah suami ya... Dimana mana istri itu kalau di perhatikan senang, kamu malah sebaliknya." Begitulah Devan, menurut Celin sangat cerewet. Satu kata penolakan saja mampu dibalasnya dengan omelan yang tiada habisnya.


Bibi menghampiri majikannya. Wanita itu membawa sepiring mangga pesanan Devan untuk sang istri.

__ADS_1


"Ini manganya Tuan."


"Ini manis tidak?" Tanya Devan memastikan.


"Manis Tuan." Jawab Bibi sambil menunduk.


"Baiklah."


"Terimakasih Bibi." Ucap Celin tersenyum mewakili suaminya yang tidak pernah menghargai para pekerja di rumah.


"Sama sama Nyonya. Saya permisi."


Devan mulai menyuapi istrinya. Pria itu sangat telaten sambil sesekali mengusap bibir Celin yang tampak basah.


"Kapan kita beli perlengkapan Baby?" Tanya Celin sambil mengusap perutnya.


"Nggak perlu pergi pergi. Cukup kamu duduk di rumah nanti akan ada orang yang siapkan semuanya."


"Ih kok begitu. Nggak seru. Masa nggak belanja sendiri. Aku kan pengen rasain belanja perlengkapan anak." Celin melayangkan protes.


"Kamu selalu begitu. Aku istri atau tahanan sih Mas." Celin benar benar tak habis pikir dengan suaminya.


"Tahanan suami. Kamu itu tahanan aku." Devan tersenyum melihat wajah kesal sang istri yang begitu menggemaskan. Ia lalu mengecup bibir Celin membuat wanita itu terkejut.


"Jangan cemberut begitu. Aku begini juga karna cinta sama kamu. Aku nggak mau aset aku jadi tontonan orang lain makannya aku membatasi semua kegiatan kamu di luar." Jelas Devan.


Celin mengeringkan rambut suaminya. Wanita itu duduk di pangkuan Devan dan begitu kerepotan dengan posisi demikian namun juga tak bisa menolak jika suaminya sudah bernada tegas.


"Kita liburan yuk." Ajak Devan.


"Kemana?"


"Terserah mau kamu kemana aku turuti." Jawab pria itu sembari memeluk sang istri.

__ADS_1


"Ke Bali aja. Sudah lama nggak kesana."


"Baiklah. Nanti aku atur jadwal keberangkatan kita."


Malam hari Devan hanya makan sendiri karena istrinya tak mau makan. Wanita itu hanya minum susu dan makan biscuit yang telah Ia siapkan.


"Gimana kalau sakit. Kamu harus makan." Ucap Devan yang kini di suapi sang istri.


"Mau nasi padang Mas." Jawab Celin.


"Nasi padang? Makan makanan di rumah lebih sehat."


"Mau nasi padang Mas. Sudah lama banget aku nggak makan nasi padang. Boleh ya..." Celin mulai membujuk suaminya.


"Nggak ada yang lain apa? Masakan kamu lebih enak loh."


"Nggak Mas. Aku mau nasi padang."


Makanan yang diinginkan sudah di depan mata. Celin makan nasi padang yang diinginkannya dengan begitu lahap. Tak menggunakan sendok. Wanita itu makan dengan tangan kosong yang katanya lebih nikmat.


"Mau?" Celin menawari suaminya yang sedaritadi diam.


"Aku kenyang. Jangan banyak banyak Yang." Tegur Devan.


"Kamu tinggal di Indo makan apa sih? Ini itu nggak doyan." Heran Celin karena suaminya sangat jarang makan makanan lokal. Devan lebih suka makan steak, spaghetti dan lain lain. "Ya makan begitu. Kamu nggak mungkin nggak tau. Kamu kan yang siapin makanan aku setiap hari." Jawabnya menanggapi sang istri.


Devan tidur memeluk istri kecilnya. Ia mengusap punggung Celin agar wanita itu merasa nyaman.


"Yang." Panggil Devan.


"Hm." Jawab Celin mulai mengantuk lalu memejamkan mata.


"Besok ke kantor berangkatnya pagi sama aku ya."

__ADS_1


"Ya." Ucap Celin sudah setengah sadar menanggapi suaminya.


__ADS_2