Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Gagal Camping


__ADS_3

Gilang dan Sandra menatap heran dua orang yang berdiri di depannya.


"Saya ikut." Ucap Devan sebelum teman teman istrinya bertanya.


"Nggak masalah kan?" Tanyanya di jawab anggukan.


"Awas aja kalau bikin ulah." Ancam Celin kesal karena suaminya bersikeras ikut padahal Ia ingin pergi sendiri.


"Ayo berangkat." Gadis itu bergegas masuk ke dalam mobil setelah meletakkan barang barangnya di bagasi.


Dua jam perjalanan Devan menghentikan mobil di Villa milik mertua.


"Kok berhenti di sini? Kenapa berhenti di Villa Papa?" Tanya Celin.


"Kita di sini aja aman." Jawab Devan.


"Ini namanya bukan camping. Merusak rencana." Celin menjadi tidak enak dengan kedua sahabatnya.


"Nggak papa Dek. Ayo turun. Lagian enak juga tidur di Villa. Nggak perlu repot cari air." Ucap Gilang menyadari apa yang dirasakan Celin.


"Kan sudah bawa tenda. Percuma dong."


"Kalau mau camping di belakang juga bisa. Nggak usah protes. Ini juga pesan dari Papa." Sahut Devan menanggapi istrinya.


Celin benar benar kesal sekarang karena rencananya rusak gara gara satu orang yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Gadis itu tak ikut membantu membiarkan tiga orang sibuk menata barang barang bawaan. Ia lebih memilih untuk masuk ke garasi mengeluarkan motor trailnya yang memang sudah lama di tinggal jika sewaktu waktu liburan.


"Mau kemana?" Tanya Devan menghampiri istrinya yang sedang menyalakan motor sembari memakai helm.


"Mau cari angin." Jawab Celin.


"Nggak boleh."


Tak memperdulikan penolakan gadis itu bergegas melajukan motornya keluar dari halaman.

__ADS_1


Sandra menghampiri Gilang dan Devan yang sedang mondar mandir di depan.


"Belum kembali juga?" Tanya gadis itu.


"Belum. Hampir dua jam dia pergi. Apa perlu di susul?" Devan begitu khawatir takut terjadi sesuatu pada sang istri.


"Paling sebentar lagi juga balik Pak." Gilang mencoba menenangkan.


Benar saja, beberapa saat kemudian terdengar suara motor memasuki halaman. Celin turun langsung mendapat pelukan dari suaminya.


"Kamu dari mana aja sih. Bikin khawatir."


"Kan sudah dibilang kalau Aku lagi cari angin." Jawabnya dengan santai.


"Ayo masuk Dek. Di luar dingin." Ajak Sandra menggandeng tangan sahabatnya untuk diajak jalan bersama.


Semuanya sedang memasak untuk makan siang. Gilang dan Sandra baru tau sekarang jika dosennya itu orang yang banyak bicara di balik sikap dinginnya. Beberapa jam bersama Celin dan Devan mereka sudah tak terkejut lagi dengan pasangan suami istri yang selalu berdebat itu.


"Tidur di dalam saja." Devan mempertahankan argumennya.


Setelah makan siang semuanya beristirahat di kamar masing masing. Devan hendak ke kamar setelah berkabar dengan mertuanya mengurungkan niat saat melihat Gilang duduk sendiri sambil menonton TV.


"Kamu nggak tidur?" Tanyanya ikut duduk.


"Belum ngantuk Pak."


"Kamu suka istri saya?" Gilang tertawa mendengar penuturan dosennya. Ia menjelaskan hanya menganggap Celin sebagai adik begitupun Celin menganggapnya sebagai kakak. Hubungan mereka tidak lebih. Menyayangi satu sama lain bagaikan saudara.


"Pak Devan tidak perlu cemburu." Ucapnya di akhir.


"Ya siapa tau. Kalian kan tidak sedarah."


Devan menghela napas. Ia pikir istrinya sedang tidur ternyata tidak. Celin masih asik dengan tabnya entah bermain game apa kali ini.

__ADS_1


"Mata kamu sakit begitu." Tegur Devan karena istrinya tengkurap memainkan tab dengan jarak yang begitu dekat.


"Sudah biasa. Nggak akan sakit." Jawab Celin masih dalam posisi yang sama.


"Terserah. Yang penting Aku sudah ingatkan." Devan berbaring menggunakan pinggang istrinya sebagai bantal.


"Barat tau. Tidur pakai bantal kenapa sih. Ganggu aja." Kesalnya.


"Lanjutkan saja game kamu. Aku mau tidur." Devan malah nyaman dan kini Ia memeluk istinya tak memperdulikan Celin yang mengomel.


Hujan yang tak kunjung berhenti membuat Celin mengurungkan niatnya untuk mendirikan tenda di halaman belakang.


"Kan sudah di bilang. Nggak nurut suami ya begitu." Ucap Devan membuat istrinya berdecak. Gadis itu kemudian tiduran di sofa bergabung bersama sandra yang sedang duduk sambil membaca buku.


"Sudah tidur di dalam saja Dek." Sandra mengusap kepala Celin yang terlihat sedih.


"Bunda telpon Dek." Gilang menghampiri Celin kemudian memberikan ponselnya pada gadis itu membiarkan mereka mengobrol.


"Nggak jadi camping Bun. Sekarang kita lagi di Villa. Hujannya nggak mau terus terang jadi ga bisa dirikan tenda." Ia mengadukan keluh kesahnya.


"Mungkin karna Pak Devan ikut jadi begini. Biasanya tidak." Tambah gadis itu membuat Bunda tertawa sementara Gilang dan Sandra hanya bisa menahan tawa karena takut dengan Devan.


"Ya tidak apa lah. Anggap saja liburan bareng. Nggak perlu di tenda. Di Villa lebih nyaman dan aman." Bunda mengambil sisi positifnya.


"Mau kemana?" Tanya Devan mencekal tangan istrinya yang hendak keluar padahal hujan belum juga berhenti.


"Mau lihat di luar."


"Kamu nggak lihat anginnya kencang dan ada petir juga."


"Sebentar."


"Nggak." Devan langsung mengunci pintunya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menyebalkan sih."


"Karna Aku khawatir dan takut terjadi sesuatu sama kamu." Jawabnya sambil memeluk sang istri.


__ADS_2