Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Dipaksa


__ADS_3

Libur semester telah usai. Kini Celin harus mulai beraktivitas lagi sebagai mahasiswa. "Bangun Dek. Aduh. Kakak kesal bangunkan kamu. Semalam disuruh tidur nggak mau. Malah main game." Ucap Sandra kesal. "Sarapannya sudah siap itu lo Dek. Jam pertama jamnya pak Devan. Bisa telat nanti." Lanjutnya lagi sembari merapikan kamar Celin yang berantakan. "Jam berapa sih?" Tanyanya sambil menggeliat. "Jam 7. Ayo bergegas."


"Kakak masuk dulu saja." Kata Celin saat sudah sampai di parkiran kampus. "Kamu mau kemana?" Tanyanya. "Makan di roof top." Jawab gadis itu sembari mengambil kotak bekal dan botol air mineral. "Ini kan jamnya pak Devan. Bisa marah kalau terlambat nanti." Sandra was was. "Aku malas bertemu orang itu. Aku tidak masuk kelasnya." Jawab Celin bergas turun dari mobil.


"Celin mana?" Tanya Gilang melihat Sandra datang sendiri. "Lagi sarapan di roof top. Katanya malas ikut kelas. Dia bolos." Jawabnya sambil duduk. "Keterlaluan anak itu." Gumam Gilang mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi namun tiba tiba Devan sudah memasuki kelas. "Selamat pagi." Ucapnya. "Pagi Pak." Jawab semua mahasiswa kompak.


Devan menuju tempat yang di maksud dua sahabat Celin. Laki laki itu berhenti sembari menatap seorang gadis yang tampak tertidur pulas di atas sofa. "Um..." Celin mengerjapkan mata merasakan sebuah tangan mengusap pipinya. "Pak Devan." Ia terkejut langsung mendudukkan diri dnegan cepat. "Kita harus bicara." Ucap Devan serius.

__ADS_1


"Ada apa pak?" Tanya Celin meletakkan kepalanya di meja karena masih mengantuk. "Kenapa kamu bolos kelas?" Gadis itu mendongak menatap laki laki di depannya. "Bapak hanya mau tanya tentang ini?" Devan menggeleng dengan cepat. "Ini salah satunya. Masih banyak yang harus kita bahas." Jawabnya. "Ngantuk Pak. Semalam saya nggak tidur." Ucap Celin. "Em...Soal perjodohan itu Aku serius untuk memilih kamu." Ucapnya. "Saya juga serius menolak Bapak. Saya nggak mau nikah. Yang dijodohkan sama bapak kan kak Zahra. Kenapa saya di bawa bawa." Jawab Celin tak kalah serius. "Tapi aku tidak menyukai Zahra. Aku menyukaimu. Lagipula Zahra juga akan menikah dengan mantannya karena dia sudah terikat janji dengan almarhum Ayah mantannya." Devan menjelaskan semua yang terjadi.


Sosok laki laki menghampiri Celin dan Devan yang sedang bicara. "Ada apa Om?" Tanya Celin melihat kedatangan asisten Papanya. "Pak Satria serangan jantung. Sekarang ada di rumah sakit." Jawabnya sembari mengatur napas.


Beberapa saat menunggu seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan. "Pasien meminta semuanya masuk. Ada hal penting yang ingin di sampaikan." Ucapnya langsung mendapat anggukan dari semua orang.


Tanpa adanya persiapan khusus pernikahan berlangsung dengan lancar. Celin dan Devan pada akhirnya menjadi suami istri yang sah secara hukum dan agama. "Terimakasih Nak." Ucap Papa sembari tersenyum bahagia menatap putrinya.

__ADS_1


Celin keluar dari ruangan menuju ke kantin rumah sakit. Gadis itu tampak duduk menikmati minuman kalengnya sembari mengobrol dengan seseorang lewat sambungan video call. Ia menceritakan semuanya pada Gilang dan Sandra. "Serius?" Tanya mereka kompak. "Hm." Jawabnya lemah. "Kasihan sekali kamu Dek." Ucap Gilang ikut prihatin. Meskipun tak ada hubungan darah namun Ia sudah menganggap Celin seperti adiknya sendiri. Jadi apapun yang Celin rasakan Ia ikut merasakannya juga.


Pukul 9 malam semuanya pulang dari rumah sakit karena keadaan Papa sudah baik baik saja. Devan sekarang sudah sampai di parkiran basment apartemen bersama Celin setelah mampir ke rumahnya sebentar untuk mengambil pakaian. "Kopi pak." Ucap Celin meletakkan beberapa cup kopi dan box makanan di meja satpam. "Makasih Neng. Mas ini siapa?" Tanya Pria itu. "Om aku. Aku masuk dulu pak." Ucapnya berlalu pergi diikuti Devan yang berjalan dengan kesal di belakangnya.


"Nah. Ini kamarnya pak Devan." Celin membuka pintu kamar di sebelah kamarnya. "Kita suami istri. Kenapa tidur terpisah?" Tanya Devan. "Bapak lupa? Pernikahan kita hanya di atas kertas. Kalau Papa nggak jantungan sekarang saya juga masih lajang." Jawabnya. "Keterlaluan kamu. Pernikahan bukan hal yang main main." Devan mulai kesal. "Maka dari itu. Jangan paksa orang yang tidak ingin menikah. Sudah dulu. Saya mau masuk." Celin masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Devan yang masih berdiri mematung di tempat.


Tepat tengah malam Celin pergi ke dapur untuk minum karena merasa haus. "Bapak belum tidur." Tanyanya mendapati Devan juga berada di sana. "Belum." Jawab Pria itu sembari menelan ludahnya melihat Celin menggunakan celana super pendek dengan kaos. "Kenapa? Lapar?" Tanya gadis itu di jawab anggukan. "Mau makan apa? Aku bikinin." Tawar Celin. "Nasi goreng." Jawab laki laki itu.

__ADS_1


Devan sudah menghabiskan masakan istrinya dengan cepat karena sangat enak. Ia berjalan mendahului sang istri lalu memasuki kamar gadis itu. "Bapak ngapain? Pergi ke kamar bapak sendiri." Ucap Celin namun Devan tak peduli langsung menidurkan tubuhnya di ranjang super besar yang ada disana. "Aku tidur disini." Jawab Devan sambil mengamati kamar istrinya yang di dominasi warna abu yang sangat bagus namun berantakan di beberapa titik. "Kamu tidak tidur?" Tanya Devan melihat istrinya duduk di depan komputer yang masih menyala. "Aku kalo malam cari uang. Siangnya tidur. Kalo bapak mau tidur tidur saja." Jawabnya sambil memasang headphone. Devan beranjak dari ranjang berjalan menuju istrinya. "Selamat malam Sayang." Ucapnya mengecup pipi Celin namun gadis itu diam fokus dengan gamenya.


__ADS_2