Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Kalian Membohongiku?


__ADS_3

Celin telah selesai menyiapkan baju suaminya. Wanita itu kini sedang sibuk di dapur untuk memasak sarapan.


"Maaf." Ucap Devan memeluk istrinya dari belakang. Ia juga memberikan kecupan beberapa kali di pipi mulus sang istri.


"Bergegaslah mandi." Celin tak menjawab memilih untuk menyuruh suaminya segera bersiap.


"Nanti dulu." Jawab Devan enggan beranjak.


Sepasang suami istri sedang menikmati sarapan dalam diam. Celin fokus mengunyah makanannya sementara Devan makan sambil sesekali memperhatikan sang istri.


"Pilek kamu belum sembuh. Apa tidak lebih baik jangan masuk kuliah dulu hari ini." Ucap Devan kasihan istrinya semalam sulit tidur karena hidung tersumbat.


"Kuliah hari ini ujian." Jawab Celin lalu meneguk susunya.


"Kita berangkat bareng ya."


"Sendiri sendiri saja. Aku mau ke studio."


Celin sudah sampai di kampus. Ia bergegas turun dari mobilnya lalu meninggalkan parkiran untuk segera ke kelas. Devan menghela napas memandang kepergian sang istri. Salahnya juga karena telah berbohong. Ia sebenarnya juga tidak mau menemui Zahra. Namun wanita itu terus mendesak membuat Devan mau tak mau meladeni saja. Hanya bicara dan tak lebih. Semuanya yang di kira tak akan jadi masalah ternyata malah begini. Celin memang pernah bilang jika sangat benci yang namanya dibohongi dan Devan kini melakukan itu pada istrinya.


Pukul satu siang waktunya Devan untuk pulang. Pria itu mampir dulu ke rumah mertua karena ada yang harus di bicarakan dengan Papa. Bukan hal yang besar. Hanya saja Ia ingin membahas tentang rencananya untuk mengajak Celin pindah ke rumah.


"Dev. Celin tidak ikut?" Tanya Papa saat melihat kedatangan sang menantu.


"Lagi di studio Pa. Katanya mengurus foto klien." Jawab Devan sambil duduk di samping pria yang sudah di kenalnya sejak Ia kecil.


"Istri kamu masih kerja Dev?" Tanya Zahra.


"Masih."


"Mama kira Celin sudah nggak kerja."


"Devan pengennya juga gitu Ma. Tapi susah di kasih tau. Maunya kerja capek capek an. Dari kemarin juga pilek nggak sembuh sembuh."

__ADS_1


"Celin pilek? Pasti nggak mau minum obat."


"Iya Ma. Minum obat sekali dianya nangis. Semalam nggak bisa tidur karna hidungnya tersumbat."


"Dia dari kecil memang susah minum obat. Takut pahit katanya." Ucap Papa sambil tertawa kecil.


"Dia disini juga." Ucap Celin melihat mobil suaminya ada di halaman mansion Papa. Tadinya Celin ingin langsung pulang dari studio. Namun saat dalam perjalanan Ia baru teringat jika tripod nya tertinggal memutuskan untuk mampir.


"Hahaha... Sandiwara Papa bagus. Kalau tidak pura pura sakit mungkin anak keras kepala itu sekarang masih lajang." Ucap Mama.


"Apa maksudnya?" Tanya Celin yang berdiri di ambang pintu membuat mereka seketika diam.


"Dek."


"Sayang."


"Apa waktu itu hanya kebohongan? Papa pura pura sakit?" Celin benar benar tak habis pikir.


"Bukan hanya Papa. Semuanya membohongiku? Apa ini sandiwara yang kalian buat dan sudah kalian rencanakan matang matang? Oh my god.... Aku benar benar orang bodoh." Celin menghela napas.


"Kenapa aku? Kenapa semua orang suka sekali mempermainkan aku? Kenapa semuanya bohong? Apa jujur itu sangat sulit? Aku tidak habis pikir."


"Sayang tunggu." Mama mengejar putrinya yang berjalan pergi.


"Jangan bicara dulu denganku." Ucap Celin bergegas keluar lalu memasuki mobilnya.


"Sayang." Devan memeluk istrinya erat.


"Kamu juga sama. Kamu tau semua ini kan? Kamu membohongiku. Kalian semua membohongiku." Ucap Celin kini sudah menangis dalam pelukan suaminya. Ia tak habis pikir orang orang dengan tega membodohi nya seperti ini.


"Maaf. Aku minta maaf." Devan mengusap punggung sang istri dengan lembut untuk menenangkan.


Setelah merasa tenang Devan membantu istrinya minum lalu menemani istirahat.

__ADS_1


"Ujiannya bagaimana?" Tanya Pria itu mencari topik.


"Lancar."


"Pintar sekali istriku. Setelah ijazah kamu keluar nanti aku juga akan mengundurkan diri dan fokus ke perusahaan."


"Kenapa?"


"Tugasku di kampus hanya untuk mengawasimu. Karna kamu sudah lulus jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap disana."


Malam hari Celin sedang makan berdua dengan suaminya. Wanita itu masih bersikap dingin karena belum sepenuhnya memaafkan sang suami.


"Yang. Kita jadi kan pindah ke rumah?" Devan menanyakan kembali apa yang sudah pernah Ia bahas bersama sang istri.


"Terserah."


"Kamu nyaman nggak disana?"


"Hm."


"Yasudah secepatnya kita pindah sembari ngurus berkas berkas resign aku."


"Hm."


"Atau kamu ingin rumah baru? Nanti aku hubungi arsitek biar kamu bisa lihat lihat desainnya."


"Nggak." Jawab Celin cepat.


Devan memeluk istinya yang tidur duluan.


"Maaf." Ucapnya lagi sambil menciumi pipi Celin.


"Yang. Jangan begini. Aku tau aku salah. Aku minta maaf. Sebenarnya aku juga nggak mau ketemu Zahra. Tapi dia terus hubungi aku. Dia cuman mau minta bantuan biar aku jadi perantara agar kamu maafin dia." Devan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2