Cinta Pertamaku Jodohku

Cinta Pertamaku Jodohku
Anak Tak Dianggap


__ADS_3

"Tugas dari pak Devan sudah siap?" Tanya Gilang. Gadis itu mengangguk sambil mengacungkan dua jempolnya karena mulut sedang penuh. "Bagus." Ucap laki laki itu sembari mengacak acak rambut Celin. "Jangan di berantakin. Tadi aku yang sisir rambutnya." Sandra membenarkan tatanan rambut Celina yang sedikit berantakan.


Celin baru keluar kelas bersama teman temannya. "Astaga." Ucap Gadis itu terkejut melihat seorang laki laki tiba tiba sudah berada di depan. "Tugas kamu mana?" Tanya Devan. "Ini Pak." Jawab Celin sembari memberikan flashdisk. "Ikut ke ruangan saya. Sekalian saya koreksi." Tegasnya lalu melangkah pergi.

__ADS_1


"Duduk." Celin mengangguk kemudian segera duduk sesuai perintah dosennya. Devan membuka tugas gadis itu di laptop sembari mengamati. Tidak ada yang salah. Hanya saja Ia ingin berlama lama dengan gadis di depannya. "Benahi tata letaknya. Rapikan. Saya tunggu. Pakai laptop saya. Duduk sini." Ucapnya bertubi tubi. Celin hanya menurut. Ia mulai berpindah duduk di bangku Devan kemudian memperbaiki tulisannya. "Kamu kenapa tidak hubungi saya?" Tanya Devan. "Bapak kan bilang hubungi jika kesulitan. Saya waktu mengerjakan tidak kesulitan. Jadi tidak perlu hubungi bapak." Jawabnya masih fokus dengan layar laptop. Devan menghela napas. Memang Ia berkata begitu. Namun ya bukan itu maunya.


Ketukan pintu terdengar. Beberapa saat terbuka dan seorang perempuan masuk ke dalam. "Zahra." Ucap Devan mampu membuat Celin menghentikan aktivitasnya. "Kak Devan." Jawab gadis itu sambil tersenyum. "Tadi aku cari Celin. Kata teman temannya dia ke ruangan Kak Devan." Lanjutnya sembari duduk setelah di persilahkan. "Dek." Panggil Zahra. "Kalian saling kenal?" Tanyanya di jawab anggukan oleh dua orang itu. "Ayah kita sahabatan." Jawab Devan. "Dek. Kita cari kamu ke apartemen nggak ada makannya kakak kesini. Kita khawatir. Lain kali kalau langsung mau ke kampus bilang biar keluarga tidak cemas." Tuturnya. "Kakak nggak usah kesini kenapa sih? Kalau mau tau aku dimana kan bisa tanya ke satpam apartemen kan bisa. Jangan sampai identitas aku sebagai anak dari keluarga Miller terbongkar." Celin berdiri dari duduknya. "Kenapa?" Gadis itu menggeleng pelan. "Memang sudah seperti itu kan dari dulu. Keluarga Miller hanya punya satu putri tunggal. Kenapa tidak di lanjutkan saja? Kan sudah terbiasa anaknya cuman satu. Oh iya Pak. Sudah selesai. Saya permisi." Ia bergegas pergi meninggalkan dua orang yang ada disana. "Sebenarnya ada apa?" Tanya Devan juga heran karena dari dulu setaunya keluarga Miller hanya punya seorang putri. Zahra menceritakan semuanya. Jika Ia lah yang bersalah karena tak mau mengakui Celin sebagai adiknya. Karena kedua orang tuanya sangat menyayangi Zahra mereka juga tidak berbuat banyak. Celin tersisihkan hingga jauh dengan keluarganya sendiri padahal tinggal satu atap. Gadis malang itu tak mendapat kasih sayang yang seimbang sejak kecil. Celin selalu di tinggal saat ada pertemuan atau acara karena Zahra mengancam tidak mau ikut jika ada Celin dan kedua orang tuanya menurut saja.

__ADS_1


Celin dan Gilang sudah sampai di rumah. "Celin. Oh Sayang. Kamu beberapa hari nggak kesini. Bunda kangen tau." Ucap wanita itu sembari berjalan cepat lalu memeluk Celin dengan erat. "Kak Gilang nggak ngajak Celin sih." Jawabnya sambil terkekeh. "Tidak usah tunggu Gilang ajak. Main saja sendiri." Ucap Janda satu anak itu sambil menangkup wajah Celin dan menciuminya. "Sudah Bun. Eskrimnya mencair nanti kalau tidak segera di makan." Tegur Gilang menggandeng tangan Celin dan Ibunya memasuki rumah minimalis dua lantai itu.


"Libur semester kapan?" Tanya Bunda. "Seminggu lagi Bun. Eh...gimana kalau kita jalan jalan saat libur nanti." Ajak Gilang. "Kemana?" Tanya Celin sambil makan eskrim di suapi Bunda. "Ke Jogja." Jawab Laki laki itu sambil tersenyum. "Bunda ikut yuk." Ajak Celin namun wanita itu menggeleng. "Kalian berdua saja. Nanti kalau bunda pergi yang urus restoran siapa?" Jawab wanita itu membuat keduanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


Devan sedang makan malam di kediaman keluarga Miller. Laki laki itu tampak mengobrol akrab dengan tuan rumah sambil sesekali melirik gadis yang sedang mengaduk aduk makanan karena tak berselera. "Di makan dong Dek. Jangan di mainin aja." Tegur Mama. "He'em." Jawabnya singkat. "Ya." Ucap Celin saat mendapat telpon dari seseorang. Gadis itu mengangguk kemudian berdiri sambil menyimpan ponsel di saku celana. "Mau kemana?" Tanya Papa. "Ada foto prewedding klien aku. Oh iya. Mulai malam ini aku akan tinggal di apartemen. Besok aku ambil barang barang." Kata Celin bergegas pergi. Semuanya diam dengan apa yang barusan di dengar. Mau minta penjelasan pun tak sempat karena gadis itu sudah pergi.


__ADS_2