
Pagi hari Devan terbangun dari tidurnya. Ia menelisik seluruh sudut kamar tapi tidak mendapati keberadaan sang istri. "Apa dia tidak tidur semalam?" Gumamnya sembari beranjak dari ranjang.
Devan mencium aroma harum dari dapur. "Oh. Sudah bangun." Ucap Celin melihat kedatangan suaminya. "Sedang buat apa?" Tanyanya sembari memeluk gadis cantik itu dari belakang. "Lagi buat pancake. Jangan peluk peluk." Tegas Celin namun Devan tak peduli. "Semalam kamu tidak tidur?" Tanya Devan meletakkan dagunya di pundak sang istri. "Nggak." Jawabnya sembari menyajikan pancake di atas piring.
Devan duduk mengamati Celin yang sedang menuangkan jus jeruk untuknya. "Kamu tidak sarapan?" Tanya Devan. "Nggak. Aku mau tidur dulu. Pak Devan habiskan sarapannya." Ucap gadis itu. "Kamu tidak ke kampus?" Tanya Devan lagi. "Nanti. Jam 10 ada sidang skripsi." Jawab Celin bergegas pergi ke kamar.
__ADS_1
Selesai mandi dan bersiap Devan berjalan menuju ranjang. Ia mengamati wajah cantik sang istri yang tertidur begitu pulas. Bibirnya menempel. Mengecup lembut bibir gadis itu beberapa kali. "Aku berangkat dulu sayang." Lirihnya membenarkan posisi tidur Celin kemudian bergegas pergi.
Pukul 12 siang Celin dan kedua sahabatnya sedang makan bersama di kantin untuk merayakan keberhasilan Celin yang lulus lebih cepat. "Setelah ini kamu mau lanjut study atau gimana Dek?" Tanya Gilang. "Mau lanjut ke Inggris." Jawab Celin sembari memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya. "Kita pisah dong?" Ucap mereka sedih. "Hey. Cuman beberapa saat. Nanti juga ketemu lagi." Jawabnya santai. "Nanti kalau libur juga pulang buat ketemu kalian." Lanjutnya. "Memang suami kamu kasih izin?" Tanya Sandra. "Nggak tau. Itu kan sudah jadi rencana hidup aku. Masa dia larang larang."
Devan sedang berada di Mall. Pria itu menyempatkan mampir sebelum pulang karena membeli beberapa hadiah sebagai apresiasi atas keberhasilan istrinya. Beberapa paper bag sudah berada di tangannya. Ia memutuskan untuk pulang setelah semua yang ingi di belinya sudah lengkap.
__ADS_1
"Sudah bangun?" Tanya Devan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. "Hm." Jawab Celin merebahkan lagi tubuhnya di atas ranjang. "Bergegaslah mandi. Aku ada hadiah untuk kamu." Ucap Devan mulai memakai pakaiannya. "Mana?" Tanya Celin masih memejamkan mata. "Mandi dulu." Bisik Devan tiba tiba sudah berada di atas tubuh istrinya. "Menyingkir." Tegas Celin menatap suaminya dengan kesal.
Devan tersenyum melihat istrinya yang membersihkan kamar dengan wajah cemberut. "Jangan begitu. Ini kan demi kebaikan bersama. Kalau berantakan bisa jadi sarang tikus." Ucap Devan membantu memunguti kertas kertas yang berserakan di lantai bekas kerja keras istirnya menyusun skripsi. "Makannya jangan tidur di sini. Tidur si kamar sebelah sana." Jawab Celina. "Kamu kan istri aku. Sudah sepatutnya kita tidur bersama. Sudah halal. Kamu jangan melupakan itu." Tutur Devan.
Celin membuka seluruh hadiah dari suaminya. Kebanyakan berisi makanan dan beberapa komik. "Darimana Bapak tau aku suka komik?" Tanya Celin sembari memakan donat madu. "Banyak sumber." Jawab Devan sambil tersenyum. "Oh. HP baru." Gumam Celin membuka kado yang terakhir. "Punya kamu pecah kan? Pakai yang baru." Ucap Devan. "Aku bisa beli Pak. Tapi masih pengen pakai yang lama saja. Tapi makasih deh." Laki laki itu tampak mengehela napas. "Jangan panggil aku begitu. Aku suami kamu." Tutur Devan menyampaikan apa yang dari kemarin mengganjal di hati. "Lalu apa? Om?" Tanya Celin mampu membuat Suaminya membelalakkan mata. "Panggil Mas. Biasakan itu." Jawab Devan serius. "Nah. Kartu ini untuk apa?" Tanya Celin. "Itu sebagai nafkah aku untuk kamu. Beli semua yang kamu inginkan pakai itu." Celin tersenyum penuh makna. "Jangan menyesal ketika melihat laporan keuangan di kemudian hari." Jawabnya penuh makna.
__ADS_1
Malam hari perdebatan terjadi pada pasangan pengantin baru itu. Celin kesal karena kini walk in closetnya sebagian dipenuhi dengan pakaian dan barang barang milik Devan. "Kenapa di pindahkan kesini semuanya." Laki laki itu hanya tersenyum menanggapi kekesalan sang istri. "Mulai sekarang apa apa kita harus bersama. Makan, tidur, berangkat, mandi dan semuanya bersama. Bukannya sepasang suami istri harusnya begitu?" Tanya Devan. "Pernikahan kita itu...." Belum sempat menyelesaikan kata katanya Celin di buat terkejut dengan ciuman dari suaminya. Ia terus memberontak namun Devan tak mau melepaskan pangutan. Tubuh Celin di buat melayang saat sepasang tangan kekar itu mengangkatnya.
"Tidak ada game. Sekarang tidur." Ucap Devan mematikan lampu. "Nggak mau." Celin mendudukkan tubuhnya. Belum sempat beranjak tangannya di tarik hingga itu kembali di posisi semula. Devan memeluk tubuh istrinya erat tak akan membiarkan gadis itu pergi. "Lepaskan." Kesalnya. "Nggak. Kalau kamu ngeyel aku perawanin sekarang mau?" Ancam Devan. "Perawanin apa?" Tanya Celin tak paham. "Bikin kamu jadi wanita seutuhnya. Melakukan hubungan suami istri. Kamu paham kan?" Bisik Devan membuat mata Celin membola. "Dasar mesum." Ucap Celin memberontak.