
rian pun membereskan masalah yang tersisa dengan anak buah nya.
" bersihkan tempat ini, dan sisa anak buah nya habisi tak tersisa, " kata rian dengan nada dingin nya.
" baik tuan " jawab anak nya buah, mereka pun mulai melakukan tugas mereka, sisa anak buah nya surya di eksekusi saat itu juga.
rian yang tidak mengerjakan apa apa langsung saja berjalan untuk memeriksa tempat tersebut, mana tau ada bukti atau sesuatu yang lain nya. itu lah pemikiran rian dan mulai melihat lihat.
beda hal situasi nya dengan Al dan teo. mereka terlihat panik saat tiba di rumah sakit , karna fiona langsung di larikan ke unit gawat darurat untuk melangsungkan operasi.
deg deg deg, detak jantung Al tidak mau berhenti, bukan berdetak karna jatuh cinta. tetapi karna merasa dunia nya akan runtuh jika sesuatu hal yang buruk terjadi kepada fiona, Al terus terduduk dengan lemas di kursi tunggu rumah sakit tersebut, " semoga keajaiban itu kembali ada " kata Al dalam hati.
__ADS_1
" tuan, tenang saja. nona fiona pasti baik baik saja, karna saya sudah memberikan pertolongan pertama. mungkin nona hanya akan butuh tranfusi darah, karna luka tersebut membuat nona fiona mengelurkan banyak darah, tapi tuan tenang saja. jika pun nona membutuhkan tranfusi darah, darah nona fiona mudah di dapat, karna di setiap rumah sakit tersedia. " jelas teo kepada Al untuk menenangkan nya. teo melihat tuan nya sangat frustasi dan terlihat putus asa.
karna setiap orang pasti menginginkan sebuah keajaiban, dan itu baru saja terjadi setelah fiona di nyatakan sudah tiada beberapa jam yang lalu oleh para dokter. dan sekarang nona fiona kembali sadar, tetapi na'as takdir kembali ingin merenggut nya tanpa memberi waktu. akan kah takdir akan memberikan kesempatan atau kembali memberikan sebuah keajaiban untuk fiona, dan membiarkan mereka berdua menikmati bahagia.
" haa. . semoga nona fiona baik baik saja " guman teo pelan. teo pun memilih untuk menjauh dari Al memberikan ruang sendiri untuk Al untuk sesaat. teo ingin menghubungi silvia.
dan teo pun mengambil benda pipih milik nya, teo ingin menghubungi silvia untuk memberi kabar, karna sudah beberapa hari ini teo tidak merespon panggilan baik pesan dari silvia. karna ingin fokus mengurus masalah tuan nya dan nona fiona.
" hallo " jawab silvia lembut.
" hallo sayang, kamu di mana dan sedang apa? , apa kabar mu baik. dan. . . ma'af " kata teo dengan nada bersalah.
__ADS_1
" yah, begitu lah. aku baik baik saja, cuma hati ku yang sakit. karna tidak di anggap sebagai orang yang penting. " jawab silvia dengan jutek.
" ahahahah " teo tertawa canggung.
" ma-af saya. aku benar benar minta ma'af, Al sedang dalam masalah sekarang, dan fiona kembali masuk ke rumah sakit. kemari lah aku akan mengirim kan alamat nya, bawa juga oma dan opa. Al butuh kalian saat ini, karna kita tidak tau sampai kapan nona fiona bisa bertahan. setelah tiba di sini aku akan jelaskan. hati hati sayang dan aku merindukan mu, muuuuach " jelas teo kepada silvia sambil memberikan goda'an.
" baik lah, kami kesana " jawab silvia singkat dan memutuskan panggilan tanpa izin, silvia masih merasa kesal kepada teo, panggilan baik pesan yang di lakukan oleh silvia, tidak mendapatkan respon dari teo beberapa hari yang lalu, dan sekarang dengan mudah nya mengatakan rindu. silvia sangat kesal dan ingin memukul teo saat ini juga.
" jahat, aku juga merindukan mu bodoh, tapi kau selalu saja seperti ini. tidak pernah bisa membagi waktu untuk ku dan hanya fokus pada pekerjaan dan kakak ku. apakah aku tidak penting untuk mu kak. sampai sampai tidak memberi kabar, bahkan jika aku yang memulai duluan dalam pembicaraan kau selalu terlambat untuk memberikan respon nya. " gumam silvia penuh rasa kesal dan sedikit kecewa.
karna tidak ingin membuang banyak waktu, silvia pun menghampiri oma dan opa nya di kamar, memberi kabar untuk mereka, oma dan opa sempat terkejut. dan mereka bertiga pun bergegas menuju ke rumah sakit tanpa membuang buang waktu.
__ADS_1