
mereka bertiga yang melihat vidio tersebut, merasa kasihan juga merasa marah. mereka merasa kasihan karna surya sudah mengetahui kebenaran nya tentang jati diri nya yang sesungguh nya. dan saat sudah mengetahui nya surya malah tidak di berikan kesempatan oleh takdir untuk berbuat baik atau bertobat.
rasa marah yang mereka rasakan, karna surya bertindak dengan gegabah dengan membunuh reta, hingga semua nya menjadi kacau dan tidak terkendali , tetapi untung saja masalah nya sudah selesai. Al dan fiona bisa hidup bahagia.
saat malam tragedi itu, rian memberantas semua nya baik surya atau pun anak buah nya, hingga ke kediaman nya surya. rian mencari tau kebenaran nya. rian menggeledah rumah milik surya dengan bebas, sebab sang penghuni nya sudah tidak ada alias sudah di binasakan oleh rian tanpa sisa. tidak ada apa apa lagi di sana, tentang bukti atau duplikat nya. satu satu nya bukti berada di laptop tersebut. dan sudah berada di tangan nya saat ini.
rian menemukan sebuah fakta baru lagi saat menggeledah lemari lemari nya surya satu persatu, fakta tersebut adalah bahwa surya mengidap penyakit mental, karna guncangan yang hebat. mungkin peristiwa kematian nya rania membuat nya menjadi seperti itu , banyak obat obatan yang berada di dalam laci lemari di kamar nya surya tersebut , tapi sampai sekarang rian belum memberitahukan fakta tersebut kepada teo baik tuan nya Al sendiri. rian ingin menyimpan nya sendirian agar tidak ada rasa bersalah di hati teo baik Al tentang surya sedikit pun.
" haa, baik lah semua nya sudah selesai. tetapi apa peran tama di sini tuan? " tanya rian penasaran. hingga laki laki tersebut mendapatkan siksaan waktu di markas mereka saat itu .
" aku juga tidak tau, jika ingin tau. bawa tama ke sini, aku ingin mendengar langsung dari mulut nya tentang ini semua " kata Al dengan tegas tanpa ragu.
" baik tuan, kalau begitu aku akan membawa tama kemari " jawab rian dengan mantap, dan berdiri dari posisi nya dan mulai berlalu dari ruangan nya fiona untuk mencari tama. apakah tama masih di rawat di rumah sakit atau kah sudah pulang ke kediaman nya, rian masih belum tau karna rian tidak menyuruh anak buah nya untuk memantau pergerakkan tama sama sekali.
rian sudah menghilang dari sana tinggal Al dan teo berdua. " kau pergi lah ke kantor. urus pekerjaan. aku tidak apa apa, jika ada apa apa aku akan menghubungi mu. jadi kembali lah ke kantor, aku hanya ingin berdua saja dengan fiona di sini " kata Al dengan tegas tanpa menatap ke arah nya teo , pandangan Al masih tetap fokus memandang ke arah nya fiona.
" baik tuan, saya pergi " jawab teo pasrah, karna teo tidak bisa melawan perintah nya saat ini. karna wajah nya Al sangat serius dengan nada yang tegas, itu membuat teo tidak bisa berkutik.
teo pun mulai berlalu dari sana meninggalkan Al dan fiona di dalam ruangan tersebut .
" haaaaaa, kenapa kau begitu kejam takdir, ini kah jalan kau ingin kan . hingga kami harus merasakan semua ini, merasakan kecewa, marah. putus asa. kebencian serta rasa dendam. bahkan rasa cinta yang ku miliki saat ini harus melalui lika liku terlebih dahulu. apakah sekarang waktu nya kami bisa bahagia dan bersama. tolong, tolong takdir. jangan ambil dia lagi, jangan buat luka untuk kami lagi, biarkan kami merasakan bahagia untuk waktu ini. " gumam Al dengan pelan.
fiona masih belum ada tanda tanda untuk sadar saat ini, teo sedang menuju ke kantor, sedangkan rian menuju ke kediaman nya tama, sebab tama sudah di bolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, beberapa lama di perjalanan rian akhir nya sampai di kediaman nya tama.
tok tok tok
__ADS_1
ceklek, pintu rumah nya tama terbuka, dan sosok yang membuka pintu tersebut adalah bibi yang di temui oleh teo saat mencari keberadaan nya fiona waktu itu.
" ma'af, tuan tama nya ada? " tanya rian sopan.
" a. .da tuan, ada urusan apa tuan? " tanya bibi tersebut.
" bisa panggilkan, ada masalah yang penting. bilang saja tuan rian datang dan ingin bertemu. " kata rian kemudian tanpa basa basi.
" ba. . ik tuan, silahkan masuk tuan " jawab bibi tersebut, mempersilhkan rian untuk masuk ke ruang kelurga dan duduk di sofa tersebut dengan nyaman.
" sebentar tuan, saya panggilkan tuan tama nya, dan akan saya ambil kan minum , permisi tuan " kata bibi dengan ramah.
"oke, dan cepat " jawab rian singkat.
"ba. . ik tuan " kata bibi kembali dan berlalu dengan cepat dari sana menuju ke kamar tuan nya tama.
" tuan, ada tamu. ingin bertemu dengan tuan " kata bibi dengan sedikit berteriak agar tuan dan nyonya nya bisa mendengar dari dalam kamar tersebut .
dan tidak lama kemudian pintu kamar tama terbuka, dengan sosok feli serta tama.
" siapa? " tanya feli.
" tuan rian nyonya " jawab bibi.
deg.
__ADS_1
jantung feli dan tama sudah berdetak dengan kencang. " apa lagi ini pa " tanya feli mulai takut. dan begitu pun dengan tama, kejadian itu masih membekas di ingatan mereka semua. hingga kevin serta siska pun memilih untuk pindah kampus juga pindah negara, penyiksaan tersebut sudah membuat trauma yang dalam bagi keluarga tama, kevin memilih untuk pindah ke kota jepang, sedangkan siska memilih kota paris.
" sudah, kita temui saja " kata tama sedikit takut, tetapi tama mencoba menutupi nya.
mereke berdua pun berjalan ke ruang tamu untuk bertemu dengan rian . tidak berselang lama sampai lah mereka berdua, rian menatap ke arah sosok yang sedang mendekat ke arah nya .
deg , jantung rian tiba tiba berhenti.
" ada apa tuan rian, apa msih ada hal yang perlu di lakukan lagi " tanya tama dengan dingin.
" tidak ada, bagaimana kabar tuan sekarang? " tanya rian basa basi.
" hee, lihat lah sendiri. bukan nya tuan sudah melihat nya, karna kejadian tersebut aku menjadi lumpuh. kaki ku tidak bisa berfungsi lagi, itu kenapa aku bisa duduk di kursi roda ini. " jelas tama dengan nada sedikit marah .
" haa, aku ke sini untuk membawa tuan ke rumah sakit untuk berjumpa dengan tuan ku, ayo mari " kata rian dengan langsung .
" untuk apa? " sela feli.
" ada urusan yang harus di selesaikan. " jawab rian.
" jika kami tidak mau? " tanya feli kembali.
" aku bisa memakai kekerasan, kalian sudah melihat dan merasakan nya kan " kata rian dengan tegas dan dengan tatapan tajam.
gleg. tama dan feli menelan saliva mereka dengan kasar, mau tidak mau mereka harus pergi karna mereka tidak bisa memilih.
__ADS_1
" baik lah, ayo " kata tama mengalah. jika melawan pun mereka tidak akan bisa menang. dan dengan senang hati rian bergerak. mereka bertiga pun berlalu dari kediaman nya tama. menuju ke rumah sakit tempat nya Al berada , bibi yang sedang mengantar minuman tersebut pun malah terdiam mematung, karna melihat tamu dan tuan nya sudah berlalu pergi, bibi pun memilih untuk kembali ke belakang .