
Keesokan harinya, bus yang menjemput mereka akhirnya datang, dan mereka semua pun pulang setelah mengucapakan selamat tinggal pada penduduk desa.
Beberapa jam kemudian, Mitsuki akhirnya sampai di rumah, baru saja dirinya membuka pintu, terlihat marika yang menunggunya.
Dan Marika pun meminta oleh-oleh dari Mitsuki, mendengar itu Mitsuki pun membuka tasnya lalu.
"Baik ini dia oleh-olehnya" ujar Mitsuki lalu mengambil yujin dari dama tasnya lalu memberikannya kepada Marika.
Dan yujin pun mengedipkan sebelah matanya ke pada Marika, dengan wajah sok imut.
Seketika Marika langsung menjatuhkan yujin dari pangkuannya lalu berlari ke arah kakaknya sambil menangis meminta oleh-oleh.
Mendengar tangisan Marika, membuat bibi kembali dari kebun yang ada di belakang rumah.
"Ya ampun" ujar bibi lalu menggendong Marika.
"Marika, sayang kakak mu baru saja sampai sekarang dia butuh istirahat jadi bibi yang akan memberikan mu oleh-oleh".
Mendengar itu akhirnya Marika berhenti menangis dan sebuah senyuman kembali menghiasi wajah imutnya.
Setelah mariks berhenti menangis, Mitsuki pun kembali berjalan menuju kamarnya dengan di ikuti yujin di belakang.
Sampai di kamar ia pun langsung berbaring di kasur setelah menyimpan tas di tempatnya.
Kemudian, Mitsuki pun menutup kedua matanya dan tertidur.
Sementara Mitsuki tertidur yujin sedang duduk di jendela sambil memperhatikan burung yang ada di sebuah dahan pohon.
Beberapa menit kemudian pancaran kekuatan yang besar tiba-tiba terasa, sayangnya hal itu hanya terjadi sebentar.
"A-apa yang barusan aku rasakan?" ujar yijin yang bertanya peda dirinya sendiri.
Sesaat kemudian, Mitsuki yang awalnya tertidur tiba-tiba saja terbangun dengan ekspresi terkejut, ia pun bertanya kepada yijin.
"Apa kau merasakannya?" tanya Mitsuki.
"Yah aku merasakannya juga tapi aku tidak tau kekuatan apa yang baru saja kita rasakan" jawab yujin.
"Bahkan tuan saja yang tertidur masih dapat merasakannya!! Sebenarnya apa itu tadi?" batin yujin
Tidak lama kemudian buku kuno yang pernah di berikan yujin terbuam dengan sendirinya.
Dan terlihat tulisan aneh yang terdapat pada halaman pertama dari tiga halaman itu perlahan berubah menjadi tulisan yang mudah di mengerti.
Sayangnya yang berubah hanyalah halaman pertama, semnatat yang lain tidak terpengaruh sama sekali, meski di halaman pertama yang berubah hanya setengah dari kalimat yang ada.
Lalu Mitsuki pun mengambil halaman tersebut tersebut dan membaca kalimat yang sudah berubah itu.
"Cahaya bulan menerangi apa yang tidak dapat di lihat dalam kegelapan...." tapi kata-kata yang sudah bisa di baca itu berhenti di situ.
"Apa maksudnya ?" lanjut Mitsuki srelah membaca kalimat tersebut.
"Aku tidak mengerti, kakek tua itu tidak menjelaskan apa-apa tentang ini" sahut yujin.
__ADS_1
"tapi aku lebih penasaran dengan kekuatan yang kita rasakan tadi" timbal Mitsuki.
Dan ketika mereka sedang sibuk mempertanyakan dua hal yang baru saja terjadi, dari lantai bawah bibi memanggil-manggil Mitsuki.
Kemudian Mitsuki pun turun ke bawah untuk menghampiri sang bibi yang memanggilnya.
Di bawah ternyata sudah ada katsugi dan Ayumi sedang duduk di ruang tamu, ia pun menghampiri mereka berdua.
"Yah ada apa?" tanya Mitsuki yang duduk di tengah-tengah mereka berdua.
"Apa kau mau ikut? Kami akan pergi ke taman untuk mencari udara segar, berhubung cuaca hangat di luar" jawab katsugi.
"Hmmm, baik aku ikut! Tunggu aku siap-siap dulu" Lalu Mitsuki pun kembali ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali setelah bersiap-siap. Dan Mereka bertiga pun pergi.
Karena jarak taman yang tidak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu kurang dari sepuluh menit, mereka pun sampai di taman yang tidak banya orang.
"Apa kalian ingin mokacino?" tanya Ayumi.
"Tentu! Aku tidak terlalu manis, kalau kau Mitsuki?" jawab katsugi lalu bertanya pada Mitsuki.
"Aku sama tidak terlalu manis, kalau bisa jangan pakai gula" jawab Mitsuki.
Sementara Ayumi pergi untuk membeli secangkir mokacino, mereka berdua duduk di sebuah kursi dekat lampu taman.
Selama menunggu dua sahabat itu terus membicarakan masa lalu yang membuat mereka sesekali tertawa.
Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan dari ayumi yang sedang membeli mokacuno,
"Ayumi!!" teriak katsugi.
"Kai cari bantuan, aku akan mengikuti mobil itu" sahut Mitsuki.
"Tapi itu berbahaya!" jawab katsugi.
"Tidak ada waktu lagi, cepat pergi" bantak Mitsuki.
Dan dengan terpaksa, katsugi pun pergi untuk mencari bantuan, sementara Mitsuki mengikuti aura Ayumi yang di bawa oleh mobil itu.
Sekuat tenaga ia berlari karena, aura yang ia ikuti semakin malam semakin tidak dapat diri adakan.
Tapi untungnya, Mitsuki sampai di tempat Ayumi di sekap, terlihat mobil hitam itu parkir di sebuah gudang tua.
Perlahan, mitusi masuk ke dalam, dan Mitsuki melihat Ayumi dengan tangan yang di ikat dan sebuah tali panjang mengikat lehernya.
Saat penculik itu pergi, Mitsuki mengendap-ngendap mendekati Ayumi lalu mencoba melepaskan ikatannya.
Terdengar penculik itu sedang menelpon ayah dan ibu, Ayumi untuk meminta tebusan.
Saat ikatan tangannya hampir terlepas, tiba-tiba saja tali yang mengikat, leher Ayumi di tarik dan membuatnya tergantung, membuat dirinya tercekik.
Refleks, Mitsuki pun berdiri di bawah Ayumi untuk menjadi pijakan kakinya.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mitsuki.
Tak lama kemudian penculik itu datang, ternyata dirinya sudah menyadari kalau Mitsuki mengikutinya masuk ke dalam.
"Ngomong-ngomong aku sudah lama tidak menembak sesuatu" ucap penculik itu.
Dorrr!! Paha kiri Mitsuki di tembak, membuatnya terjatuh dan Ayumi kembali tercekik.
Tampa memikirkan rasa sakit dari peluruh yang menembus pahanya, Mitsuki kembali bangun untuk menjadi pijakan Ayumi.
"Hoho, menarik" lalu paha sebelah kanan pun juga ikut di tembak.
Tapi kali ini Mitsuki tidak terjatuh, ia tetap berdiri dengan kedua kaki yang bercucuran darah.
Melihat itu Ayumi hanya bisa menangis membasahi kepala Mitsuki dengan air matanya yang jatuh.
Terlihat penculik itu mulai kesal, lalu iya mengambil sebuah balik kayu, lalu dengan kuat memukulkannya ke arah kepala Mitsuki.
Membuat kacamata yang di pakai Mitsuki terlempar, jatuh kelantai, kabiatnya kepala Mitsuki mengalami pendaran.
Mitsuki hanya memasang wajah datar dengan setengah wajah tertutup darah yang mengalir dari kepalanya.
"Dasar Berengsek" ucap penculik itu lalu memukul-mukul wajah Mitsuki dengan tangan kosong.
Meski begitu ia masih tetep berdiri, mempertahan posisinya agar Ayumi tidak tercekik oleh tali yang mengikatnya.
Merasa lelah, iya pun berhenti lalu berjalan pergi meninggalkan Mitsuki yang sudah penuh luka memar di wajah yang berlumur darah dan Ayumi yang sedang menangis.
Tak lama kemudian penculik itu kembali, ternyata perginya iya untuk mengisi peluruh pistolnya.
"Menjengkelkan sekali kau" ucapnya dengan menodong kepala Mitsuki.
"Berhenti!! Angkat tangan dan jatuhkan senjata mu!" terika seorang polisi yang menodongkan pistol ke arahnya, tidak hanya satu polisi tapi ada sekita sepuluh polisi yang datang ke sana.
Tapi penculik itu masih belum menjatuhkan pistolnya, seperti sedang mengancam para polisi itu.
"Jangan menguji kesabaran seorang polisi, kami di berikan izin untuk menebak mati penjahat" ucap salah satu dari para polisi itu.
Dengan wajah kesal penculik itu pun menjatuhkan senjatanya dan menyerahkan diri kepada poslisi.
Lalu dengan berlari katsugi keluar dari balik para polisi dan menghampiri Mitsuki.
Setelah Ayumi berhasil di turunkan, seketika Mitsuki tumbang tak sadarkan diri.
Seketika seluruh tubuh katsugi bergerak bahkan membuatnya susah untuk bicara.
Bergegas beberapa polisi membawa Mitsuki ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan.
"Tenang, tenang, semua akan baik-baik saja" ucap katsugi yang menenangkan dirinya sendiri.
Sampainya di rumah sakit, Mitsuki langsung di bawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan pertama.
Di ruang tunggu, katsugi mencoba menelpon ayahnya dan juga bibi Mitsuki tapi dirinya tidak sanggup melakukan hal itu.
__ADS_1
Karena seluruh tubuhnya bergetar, beberapa kali katsugi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Karena katsugi tidak dapat melakukannya, Ayumi pun menelpon ayah katsugi dan juga bibi Mitsuki, juga kedua orang tuanya.