
Lalu hal yang semakin membuat katsugi membenci dan geram dengan Sasaki pun terjadi.
Melihat ada secuil permen yang menempel di bibir pak arikawa, Sasaki pun mengambilkan permen tersebut dari bibir sang ayah.
Hal tersebut membuat katsugi emosi dan api di dalam dirinya pun membara, hanya dengan beberapa kali suapan iya dapat menghabiskan permen milikinya.
"Akan ku bunuh kau" bisik katsugi, lalu mematahkan pegangan permennya.
Sedangkan Mitsuki belum setengahnya dan sekali lagi, Mitsuki menjadi korban di antara mereka bertiga, karena tampa merasa bersalah, katsugi mengambil permen apel milikinya dan memakannya sampai habis.
Sama seperti yang terjadi kepada Mitsuki, permen apel milik Ayumi yang tinggal satu suapan lagi, di ambil dan di makan katsugi.
"Kenapa aku ikut yang menjadi korban di sini?" sahut Ayumi karena permennya di makan katsugi.
Setelah kejadian itu semua, merekapun melanjutkan jalan-jalannya.
Selama mengelilingi tempat pertandingan untuk besok, banyak atlit yang juga sedang meluangkan waktunya sebelum bertanding besok.
Tidak berbalik untuk melihat keadaan di sekitarnya, katsugi terus mengawasi sang ayah yang sedang mengobrol bersama Sasaki.
Dan itu membuat suasanan antara dirinya dengan Mitsuki dan ayumi menjadi canggung.
Tampa di sengaja katsugi mendengar apa yang di bicarakan oleh Sasaki dan ayahnya.
"Kita sudah cukup lama berkenalan bukan?" tanya pak arikawa.
"Kau benar, semenjak jadi rekan kerja pada hari itu hubungan kita semakin dekat" jawab Sasaki.
"Tapi malam ini aku ingin lebih mengenal mu" ujar pak arikawa.
Sontak katsugi pun terkejut dengan perkataan sang ayah dan terdiam tidak bergerak, dan tidak berkedip.
"Me-mengenal lebih dekat?!" ujar katsugi yang terdiam.
"Ka-katsugi! Apa kau baik-baik saja?" tanya Mitsuki yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu.
"Kalian berdua! Tau Apa arti nya itu? Itu artinya mereka berdua akan berkencan panas malam ini" sahut katsugi yang terus menggoyangkan pundak Mitsuki sampai ia merasa pusing.
"A-ku tidak mengerti apa yang kau maksud?" tanya Mitsuki yang terlihat pusing setelah di goyang-goyangkan oleh katsugi.
"Tak'kan ku biarkan mereka berkencan panas, ayo kita pergi" ujar katsugi dengan tekad yang kuat lalu mengajak Mitsuki dan Ayumi untuk ke tempat lain.
"Inilah saatnya cepat kita harus segera menyiapkan nya" ujar pak arikawa lalu iya pun kembali ke hotel bersama Sasaki.
__ADS_1
melihat sikap katsugi yang bersikap aneh membuat Mitsuki mencoba untuk mengajak bicara.
Tapi setiap kali bertanya, katsugi hanya menjawab seperlunya saja tidak berlebihan seperti biasanya.
Setelah beberapa menit melihat-lihat, katsugi mulai mencurigai ayahnya karena tidak terlihat di mana-mana.
Bergegas iya pun berlari meninggalkan Mitsuki dan ayumi kembali ke hotel.
"Astaga, Ayumi mari" teriak Mitsuki yang berlari mengejar katsugi.
Di baru saja beberapa menit, Ayumi berhenti karena kehabisan nafas, dan iya pun meminta Mitsuki untuk menggendongnya.
"Pegangan" ucap Mitsuki lalu kembali berlari.
"Mitsuki!! Kau sangat harum" batin Ayumi yang meletakkan kepalanya di pundak Mitsuki.
Sesampainya di depan kamar, sang ayah tampa basa-basi katsugi membuka pintu kamarnya dan iya pun di bukan terkejut karena.
Tidak ada siapapun di sana dan juga kasur yang masih rapih, membuatnya menjadi bingung.
Beberapa saat kemudian Mitsuki sampai dan Ayumi, dengan suara nafas yang terdengar jelas.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi?, haaaa, astaga aku butuh minum" tanya Mitsuki yang masih terlihat capek.
Ternayat mereka di bawa ke restoran tempat mereka makan malam tadi tapi keadaan di sana gelap gulita.
Tidak terlihat ada siapapun yang berada di sana.
Dan tiba-tiba saja lampu menyala dan suara teriakan"selamat ulang tahun" dan suara trompet yang di tiup oleh beberapa pelayan yang ada di sana pun menggema.
Masih bunggung dengan apa yang terjadi membuat, katsugi bertanya kepada Mitsuki tapi Mitsuki juga tidak mengetahui tentang semua ini.
Tidak lama kemudian sang ayah datang membawa kue ulang tahun dengan lilin angka tiga puluh lima menghiasinya.
"A-ada apa semua ini?" tanya katsugi kepada ayahnya.
"Apa kau sudah lupa hari ini adalah hari ulang tahun ibu mu sayang, mari kita tiup lilinnya bersama dan mendoakan ibu" jawab sang ayah dengan senyumannya.
Setelah menghitung mundur, ayah dan anak itu pun meniup lilinnya dan suara ucapan selamat pun kembali terdengar dari semua orang.
"Selamat ulang tahun sayang! Sekarang anak kita sudah beranjak dewasa dan itu membuat ku menjadi khawatir" batin sang ayah setelah menit lilinnya
"Dan katsugi ayah ingin kau memakai ini, ini adalah jam tangan peninggalan ibu mu jika jam nya bersuara segera beritahu ayah" lanjut sang ayah setelah memakaikan jam tersebut di tangan katsugi.
__ADS_1
"tapi bentuk jamnya berbeda, tidak seperti jam gijital lain?" tanya katsugi yang merasa aneh dengan bentuk jam tersebut.
"Sudah jangan pikirkan bentuknya pakai saja" jawab sang ayah.
Setelah beberapa saat merayakan ulang tahun sang ibu yang sudah tiada, sang ayah pun mengajak katsugi untuk melihat sesuatu.
Dan iya pun di ajak masuk ke dalam kamarnya, terlihat sebuah tv dengan layar yang menyala putih.
Saat ini adalah waktu untuk katsugi bersama sang ayah dan Mitsuki bersama Ayumi memilih untuk tidak ikut masuk ke dalam dan menunggu.
Ketika tv itu di nyalakan terlihat sebuah tulisan"mengenang delapan tahun kepergian ibu"
Banyak foto dari mendiang ibu katsugi saat masih kecil hingga menjadi remaja cantik, sampai bertemu dan berpacaran dengan sang ayah lalu menikah.
dan akhirnya mengandung, sampai katsugi pun lahir, banyak foto dirinya saat bermain bersama sang ibu waktu masih kecil.
Dan terlihat beberapa foto waktu sang ibu di rawat di rumah sakit, sampai akhirnya foto-foto saat upacara pemakaman sang ibu tercinta.
Lalu sebuah video pendek yang menampilkan sang ibu, sedang duduk di ranjang rumah sakit.
"Apa kameranya sudah menyala?" tanya sang ibu kepada suaminya, pak arikawa.
"Oke sudah mulailah" jawab sang suami setelah menyalakan kameranya.
"Mungkin ketika kamu melihat video ini ibu sudah tiada tapi katsugi tetaplah bahagia dan tersenyum selalu, meski ibu tidak lagi bersama mu tapi ibu akan tetap mengawasi mu dari atas dan selalu semangat untuk mengejar mimpi mu, dan maaf jika ibu tidak dapat melihat mu tubuh menjadi seorang yang hebat, tapi ibu akan selalu bangga memilik putra seperti mu" ujar sang ibu lalu tersenyum.
Kemudian kondisinya tiba-tiba saja menurun, melihat itu pak arikawa langsung memanggil dokter lalu mematikan kamera.
Setelah melihat semua itu, wajah yang menahan tangis pun di perlihatkan katsugi.
"Tidak ada salahnya untuk menangis, ayah tau perasaan pun jadi keluarkanlah" ujar sang ayah yang memeluk katsugi.
Dan tangisan pecah, air mata yang tidak dapat di bendung terus mengalir keluar.
"Setelah pertandingan besok selesai kita akan pergi ke pemakaman untuk mendoakan ibu" lanjut sang ayah yang masih memeluknya dengan mata yang terpejam, perlahan ari mata mulia keluar.
Katsugi pun hanya mengangukan kepalanya.
"Tapi ayah tidak benar-benar akan berkencan panas dengan bibi Sasaki itukan?!" tanya katsugi yang sudah dapat mengendalikan emosinya.
"Ah! Soal itu! Ayah hanya bercanda, kedatangan Sasaki ke mari hanya untuk membantu yah menyiapkan semua ini" jawab sang ayah lalu mengusap air mata katsugi yang masih ada di wajahnya.
"Kalau begitu ayah mau ke kamar dulu" lanjut sang ayah lalu berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Mitsuki dan ayumi datang setelah pak arikawa masuk ke kamarnya.