Demon Conqueror

Demon Conqueror
Episode 42


__ADS_3

"Oh, pak arikawa selamat pagi" sapa seorang peria dewasa.


Dan arikawa pun menjawabnya dengan tersenyum.


Beberapa menit berjalaj akhirnya mereka sampai di sebuah danau yang sangat indah dengan pepohonan yang masih rindang di sekelilingnya.


Tidak di duga bukan mereka saja yang sedang memancing terlihat ada seorang peri yang memakai rompi pemancing duduk menunggu ikan memakan umpannya.


Sayangnya mereka tidak dapat melihat wajah orang tersebut karena terhalang oleh topoi yang di pakainya.


Dan mereka pun mulai memancing di bawah pohon yang rimbun, bersama orang tersebut.


Beberapa jam telah berlalu tapi mereka tidak ada satu pun ikan yang memakan umpannya.


Sampai akhirnya katsugi merengek karena bosen, karena kegaduhan dapat membuat ikat kabur jadi sang ayah meminta mereka berdua untuk kembali ke penginapan.


"Apa serunya memancing? Semakin kesini aku semakin tidak memahami orang dewasa" ujar katsugi yang berjalan bersama Mitsuki kembali ke penginapan.


Mendengar apa yang di katanya, membuat Mitsuki hanya bisa tersenyum.


Sementara mereka kembali ke penginapan, ayah katsugi terlihat begitu semangat dalam hal yang terbilang membosankan ini.


Ketika itu umpan miliki pria yang di sebelah pak arikawa pun di sambar  ikan dan dengan cepat iya pun menariknya.


Dan ikat yang cukup besar berhasil di tangkapnya, melihat itu membuat ayah katsugi semakin percaya diri kalau dirinya juga dapat menangkap ikan yang lebih besar.


"Di sini udaranya segar yah" ujar pria itu yang kembali melemparkan umpannya.


"Yah kau benar, berbeda dengan suasana perkotaan di sini membuat betah lama-lama" jawab ayah katsugi.


Selama berbincang-bincang sesekali umpan ayah katsugi serasa di tarik ikan tapi yang iya dapatkan hanya dua ekor ikan kecil seukuran ibu jari


Dan sisanya hanya sampah yang menyangkut di mata kail.


meski tidak dapat melihat wajah dari pria itu tapi ayah katsugi terlihat begitu akrab dengannya.


beberapa jam kemudian ayah katsugi merasakan perasaan yanh tidak asing di perutnya.


Merasa perut harus di isi membuat ayah katsugi menghentikan kegiatan memancingnya sebentar untuk  makan siang.


Sebelum pergi ayah katsugi mengajak pria itu untuk makan siang bersamanya tapi iya tidak menjawab karena tertidur.


Beberapa menit kemudian setelah ayah katsugi pergi pria itu pun bangun dari tidurnya dan melihat sudah tidak ada siapa-siapa.


Lalu iya pun bangun dan sedikit mengangkat topinya, ternyata selama ini pria itu adalah Paradoks


"Yah untunya aku memilih tempat yang teduh, kalau begitu waktunya pulang" ujar paradoks yang membuak sebuah portal menuju apartemennya.


Kemudian masuk dengan membawa alat pancing miliknya dan portal itu pun tertutup.

__ADS_1


Tidak lama kemudian ayah katsugi kembali dan melihat polaris/pria itu telah pergi.


Dan iya pun kembali melanjutkan memancingnya dengan di temani yujin karena iya hanya menginginkan


ikan yang di tangkap ayah katsugi.


.................................


Sementara itu, paradoks yang sedang membersihkan ikan hasil tangkapannya sendiri, dengan perlahan iya memisahkan antara tulang dengan dagingnya.


Dan membuatnya terlihat sangat mudah, setelah selesai iya pun lenasung memasak ikan tersebut.


Ketika selesai iya membawa ikan yang sudah matang itu untuk di makan di ruang tamu sambil menonton tv, bersama yang lain.


Tv yang mereka berempat nyalakan membuat tetangganya merasa terganggu karena suara tvnya terlalu besar.


Dan tetangga depan apartemen mereka pun, mengetuk pintu dengan cukup keras.


"Yah sebentar" ujar agraris kemudian membukakan pintu.


Ketika di buka terlihat seorang wanita tua berdiri dengan wajah marah.


"Apa kau bisa mengecilkan volume tv mu? Kau membuat ku tidak bisa istirahat" ujar sang nenek tua.


"Baik akan aku kecilkan" jawab agraris .


Sebentar sang nenek melihat ke dalam dan ia melihat polaris dan yang lain dengan duduk bersama.


Setibanya di dalam apartemennya betapa terkejutnya sang nenek ketika melihat agraris yang sedang duduk di ruang tamunya.


Dengan wajah takut nenek tua itu mencoba untuk keluar dari dalam apartemennya tapi sayangnya pintunya di halangi oleh paradoks.


Lalu akuma pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri sang nenek tua.


Dan iya pun berdiri di depannya dengan berkata.


"Oh yah nenek, apa kau ingin menyeberangi sungai sanzu lebih awal?" tanya agraris sambil menatap nenek tua itu dengan tajam.


Nenek itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah ketakutan.


"Payah" lanjut agraris dan seketika nenek tua itu menghilang dari hadapannya dan muncul di luar apartemen.


Alhasil iya pun jatuh dari lantai lima belas ke bawah.


Banyak orang yang mengerumuni lokasi jatuhnya nenek tua tersebut, dan beberapa dari mereka ada yang menelpon polisi.


"Maaf" bisik agraris dengan wajah tidak bersalah dan kembali ke dalam apartemennya bersama paradoks.


..........................................

__ADS_1


Di saat sibuk memancing, katsugi, Mitsuki dan Marika datang.


Meski sudah seharian tapi yang berhasil di dapat hanya dua ekor kecil, dan katsugi mengajak ayahnya untuk pulang.


"Ayah!! Ayo kita pulang......!!!!" ujar katsugi .


"Lebih baik kalian berkeliling desa saja agar tidak bosan" jawab sang ayah.


"Apa ayah tau sudah lima putaran kami berkeliling desa dan kaki ku terasa sangat pegal" Jawab katsugi.


Lalu Marika pun menarik-narik jari Mitsuki dan memberitahu kalau dirinya sudah lelah berjalan.


Lalu Mitsuki pun mengendong Marika dengan mengunakan gendongan bayi yang ia bawa dari rumah.


Setelah mengendong Marika, Mitsuki pun melepas topi yang di apakinya dan memakaikan nya di kepala yataro agar iya tidak kepanasan.


"Lebih baik kalian berkeliling danau saja" ujar ayah katsugi.


Karena tidak ada pilihan lain mereka pun mengikuti apa yang di sarankan sang ayah dan berjalan dengan begitu perlahan.


"Apa kita akan benar-benar mengelilingi danau sebesar ini?" tanya Mitsuki yang berjalan di sebelah katsugi dengan mengendong Marika.


"Mau bagai mana lagi jika kita terus berada bersama ayah kita akan tersiksa" jawab katsugi.


Ketika sedang asik berbincang-bincang sambil berjalan tiba-tiba saja ledakan kekuatan yang sama seperti yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu kembali terasa.


Seketika Mitsuki berhenti sembari merasakan ledakan kekuatan yang begini besar tersebut.


Bahkan akuma juga dan yang liannya dapat merasakannya, membuat merka terdiam ketika merasakan ledakan kekuatan tersebut.


Melihat sahabatnya yang diam tidak bergerak membuat katsugi bertanya sembari melambaikan tangannya di depan wajah Mitsuki.


"Kenapa berhenti?" tanya katsugi.


"Ha? Tidak-tidak kenapa-napa" jawab Mitsuki kemudian kembali berjalan.


Dan katsugi melihat sahabatnya itu dengan tatapan yang merasa aneh, lalu berjalan di belakang Mitsuki.


Tidak banyak yang dapat mereka lihat hanya pepohonan dan bukit yang di penuhi pohon.


Sampai akhirnya mereka melihat sebuah prasasti yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil intinya sedang-sedang saja.


Karena penasaran mereka pun berhenti untuk melihatnya.


"Apa ini?" tanya katsugi.


"Entah tapi seperti ada tulisan dan sebuah ukiran aneh" jawab Mitsuki.


"Kalau di lihat-lihat di sini tertulis "ular" "lanjut Mitsuki yang hanya dapat membaca satu kata dari prasasti teresebut.

__ADS_1


"Apa hanya itu yang dapat kau baca?" sahut katsugi yang bertanya.


"Kalau begitu baca saja sendiri"


__ADS_2