Demon Conqueror

Demon Conqueror
Episode 41


__ADS_3

"Aku tau tapi setidaknya kita dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan sedikit informasi".


Tapi Mitsuki memilih untuk tidak menjawabnya dan pergi tidur.


Setelah Mitsuki tertidur yujin pun berjalan mendekati jendela untuk melihat bulan purnama.


..................................


Sementara itu semuanya sedang berkumpul di depan peti akuma.


Agraris, polaris, ayaris, dan paradoks sedang bertekuk lutut di hadapannya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat kepala.


"Kalian berempat bersiap lah, aku akan melepaskan mantera pengikat ini dengan paksa" ujar akuma yang memperingati mereka berempat.


"Aku tidak suka melakukan hal ini tapi aku terpaksa jika hanya mengandalkan kalian berempat akan lebih lama lagi aku terkurung di dalam sini jadi cepatlah" lanjut akuma.


Kemudian mereka berempat pun berdiri di setiap sudut lalu menghentakkan telapak tangan mereka ke tanah.


"Teknik darah iblis pembatas!! jiwa gelap" ujar mereka berempat secara bersamaan.


Dan sebuah pembatas yang mengelilingi akuma pun muncul,


Setelah itu akuma pun mencoba untuk melepaskan mantera yang mengikatnya dari dalam.


Terlihat mantera itu mencoba untuk menekan kekuatan akuma, perlawanan semakin memanas setelah dua dewa langit datang.


Yaitu Agyo dan ungyo (dewa pelindung kuil)  mereka berdua berusaha mempertahankan akuma tetap di dalam peti tersebut.


Dengan cara menghimpit peti itu dengan telapak tangan mereka yang berhacaya.


"Hentikan perlawananmu, kami berdua telah berjajin pada penakluk iblis terdahulu untuk mengawasimu" ujar dewa Agyo.


"Ingat bahwa penakluk iblis yang baru telah muncul jadi jangan mimpi kau akan hidup lama di dunia ini" sahut dewa ungyo. 


Di luar, agraris dan yang lainnya keliatan tidak bisa menahan kekuatan yang saling menekan antar cahaya dan kegelapan.


Sampai-sampai mereka hampir di ujung batas mereka masing-masing.


Setelah beberapa menit akhirnya kedua dewa itu berhasil mempertahan akuma di dalam petinya.


Lalu agraris dan yang lainnya pun membuka penghalangnya, mereka pun kembali bertekuk lutut.


"Cih"


Ujar akuma yang terdengar sedang marah.


Tak ada yang berani berbicara sepata  kata pun, wajah mereka berempat hanya terus mengeluarkan keringat.


"Kalian tidak perlu selalu menemui ku, pergi dari hadapan ku" ucap akuma dan bergegas mereka pun pergi.


Agraris berjalan di tengah kota dengan wajah datarnya, Maki begitu iy  terlihat sangat ramah terhadap beberapa orang yang iys temui, meski itu hanyalah dusta.

__ADS_1


Puas keliling kota, agraris pun berhenti di sebuah gedung apartemen mewah kemudian iya pun masuk ke dalam.


Satu-persatu para pekerja yang ada di dalam di kendalikan dan dengan begitu ia dapat tinggal di apartemen itu tampa membayar sepeser pun.


Saat berada di dalam apartemennya, terlihat polaris yang yang liannya sedang duduk di sofa sambil menonton tv


"Astaga!! Tadi benar-benar sangat menegangkan" ucap agraris lalu duduk di antara mereka bertiga.


...................................


Keesokan harinya ketika Mitsuki bangun dari tidurnya dan berjalan untuk mengambil minum.


Terlihat sebuah koper milik ibunya telah berada di depan pintu.


Ketika sedang minum, sang ibu pun turun dari kamarnya dengan membawa sepatu.


Setelah memakai sepatunya dan akan mengambil koper terlihat tangan Mitsuki yang memegangi koper tersebut dan berkata.


"Sebenarnya apa yang ibu bawa? Baju atau batu" ujar Mitsuki yang berjalan membawa koper ibunya masuk ke dalam taksi.


"Kalau begitu ibu pergi dulu" sahut sang ibu setelah berada di dalam taksi.


"Baik hati-hati" jawab Mitsuki kemudian melambaikan tangannya setelah taksi itu mulai bergerak menjauh.


Dan Mitsuki kembali masuk setelah mengantarkan sang ibu naik ke dalam taksinya.


Ketika sedang sibuk memanaskan air untuk membuta coklat panas, dari arah atas terdengar suara Marika yang memanggil-manggil namanya.


Tidak lama kemudian yujin datang dalam bentuk manusianya berjalan menuruni tangga dengan wajah yang masing mengantuk.


"Selamat pagi~~"ucap nya yang berjalan menghampiri.


"Apa kau tidak akan mencuci muka dulu?" tanya Mitsuki yang meminta yujin mencuci muka.


Tapi yujin tidak menjawabnya ia duduk kemudian kembali tertidur di meja makan.


"Akan sampai kapan kau tidur, ini minum lah" lanjut Mitsuki kemudian meletakkan secangkir coklat hangat.


Mencium aroma coklat membuat yujin bangun tapi dengan mata yang masih tertutup.


yujin pun meminumnya dengan lidahnya padahal iya masih dalam bentuk manusia belum kembali menjadi rubah.


"Apa kau tidak bisa mengkondisikan?" tanya Mitsuki.


Mendengar itu yujin pun membuka kedua matanya dan menjawab perkataan Mitsuki barusan.


"Tidak bisa aku sedang mager" jawab yujin yang kembali minum dengan lidah.


Tiba-tiba saja katsugi membuka pintu denga wajah yang terlihta begitu panik.


Melihat katsugi yang berjalan masuk, membuta yujin kembali ke wujud rubahnya denga cepat.

__ADS_1


Iya pun berjalan mendekati Mitsuki lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Mitsuki sambil berkata.


"Ini gawat!! Benar-benar gawat!! Habislah kita" ujar katsugi.


"Tunggu dulu apa jangan-jangan yang kau masjid adalah~" jawab Mitsuki yang memahami apa yang di maksud katsugi.


"Pasrah saja kawan tidak ada cara untuk lolos dari ayah" lanjur Mitsuki yang terlihat pasrah.


Tidak lama kemudian ayah katsugi datang dengan rompi mancing dan beberapa joran pancing yang iya bawa.


"anak-anak cepatlah kita akan segera berangkat" ujar sang ayah kemudian pergi.


"Semoga di permudahkan" ujar Mitsuki kepada katsugi.


"Apa maksud mu kau juga harus ikut" jawab katsugi yang memaksa Mitsuki untuk ikut dengannya.


Dan dengan terpaksa Mitsuki pun pergi untuk berkemas.


Setelah beberapa menit bersiap Mitsuki pun kembali bersama Marika dan berjalan keluar rumah.


Terlihat beberapa alat pancing dan ember sudah di siapkan.


"Ayolah kali ini mungkin akan menyenangkan" ujar Mitsuki kepada katsugi.


"Menyenangkan?! Apa kau tidak ingat sudah berapa kali kita pergi memancing dengan ayah dan apa yang kita dapatkan? Tidak ada satupun ikat yang berhasil ayah tangkap" jawab katsugi.


"Santai saja, jangan terlalu panik seperti itu".


"Tapi tunggu untuk apa kau membawa gendongan bayi? Bukannya kita akan pergi memancing" jawab katsugi yang bertanya.


"Nanti juga kau akan mengetahuinya, oh, yah apa ayah tidak masalah jika aku membawa yujin ikut dengan kita?"


"Tenang saja"


Ketika sedang asik mengobrol, ayah katsugi pun memanggil mereka untuk segera masuk ke dalam mobil.


Setelah semua orang masuk ke dalam, mobil pun mulai bergerak menuju tempat tujuan.


Setelah dua jam berkendara akhirnya mereka sampai di sebuah desa dengan pemandangan persawahan yang hijau, dan hutan yang rindang. 


Dengan wajah semangat ayah katsugi mengeluarkan semua peralatan memancingnya dari bagasi mobil.


Karena jalan desa tidak dapat di masuki mobil jadi mereka memilih untuk jalan kaki sambil membawa alat pancing.


Sepanjang jalan banya warga desa yang menyapa mereka karena bukan kali ini saja ayah katsugi pergi memancing ke desa ini.


Jadi tidak aneh kalau ayah katsugi dan penduduk desa telah saling mengenal.


"Oh, pak arikawa selamat pagi" sapa seorang peria dewasa.


Dan arikawa pun menjawabnya dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2