Demon Conqueror

Demon Conqueror
Episode 43


__ADS_3

"Kalau begitu baca saja sendiri".


"Yah sabar" jawab katsugi.


Ketika sedang sibuk melihat-lihat prasasti tersebut tiba-tiba saja seorang kakek tua dengan mengendong kayu bakar.


Kemudian kakek itu bertanya, sedang apa mereka memperhatikan prasasti itu dan Mitsuki pun menjawab karena mereka penasaran akan tulisan yang di ukir itu.


Dan kakek tua itu pun memberitahu mereka tentang legenda batu prasasti tersebut yang ternyata ada hubungannya dengan danau ini.


Karena dulu dewa badai susanoo mengalahkan ular berkepala delapan yang bernama Yamata no orochi, di danau ini dan sampai sekarang warga desa masih percaya kalau Yamata no orochi masih hidup walau kepalanya tinggal satu di dalam danau ini.


Dan berlatar belakang dari cerita tersebut, danau ini pun di namai Hebi( ular ).


Dan juga di sekitaran sini sering terlihat penjaga atau dewa gunung yang bernama tengu meski tengu adalah salah satu dari yokai(hantu jepang) warga desa masih menganggapnya sebagai dewa gunung.


Karena tengu sering meniupkan angin baik atau menunjukan arah pulang bagi mereka yang berhati baik.


Kakek itu juga memberitahu mereka tempat-tempat yang sering di kunjungi wisatawan, tapi belakangan ini sering terjadi penemuan mayat di sana jadi kakek itu pun meminta mereka untuk berhati-hati.


beberapa saat mendengarkan cerita dari kakek tua itu mereka pun kembali berjalan setelah mengucapkan terimakasih.


Setelah berjalan beberapa menir dari batu prasasti tadi mereka pun sampai di area persawahan.


Pemandangan yang sangat indah dari hamparan sawah yang hijau membuat mereka tidak dapat berpaling.


Dan juga terlihat beberapa petani yang sedang berada di sawah.


"Suasananya di sini membuat ku betah berlama-lama" ujar Mitsuki yang berdiri menatap hamparan sawah hijau.


"Sudah mari kita lanjut jalan" sahut katsugi kemudian berjalan duluan.


Beberapa kali mereka bertemu dengan wisatawan dan beberapa penduduk sekitar yang pulang dari kebun.


Tidak lama kemudian Mitsuki berhenti, melihat itu katsugi pun bertanya.


"Ada apa? Ini yang kedua kalinya kau berhenti tiba-tiba" tanya katsugi.


"apa kau yakin akan berjalan mengelilingi danau sebesar ini, bahkan kita saja yang berjalan dari tadi belum setengah jalan" jawab Mitsuki.


"Kalau begitu lebih baik kita duduk di sana! Kebetulan ada tempat duduk".

__ADS_1


Lalu mereka pun duduk di bawah pohon.


Ketika beristirahat mereka pun mulai membahasa beberapa hal, seperti perlombaan taekwondo yang akan katsugi ikuti dan juga sedikit di bumbui cerita masalalu.


Tidak banyak yang mereka bicarakan tentang masa lalu karena mereka berdua cepat-cepat berjalan kembali.


Sesampainya di tempat sang ayah.  memancing, terlihat kalau alat-alat memancingnya sedang dibereskan.


Menyadari kalau mereka akan pulang membuat katsugi merasa begitu bahagia.


Tapi ketika katsugi bertanya jawaba yang sangat mengejutkan pun di berikan sang ayah.


"Apa kita akan pulang?" tanya katsugi.


"Tidak!! Ayah mu pindah ke sebelah sana" jawab sang ayah kemudian pergi.


"Astaga!! Lebih baik kita kembali ke penginapan" lanjut katsugi lalu berjalan mendahului.


Melihat Marika yang tertidur membuat yujin ada kesempatan untuk berbisik dengan Mitsuki.


Dan yang di bahas mereka berdua adalah tentang ledakan kekuatan yang sama seperti sebelumnya.


Sampai akhirnya mereka sampai di desa, ketika berjalan menuju penginapan tiba-tiba saja ada anak laki-laki seumuran Marika datang menghampiri dengan membawa empat buah balon.


Kemudian Mitsuki dan katsugi pun mengajak anak itu ke penginapan untuk melakukan hal yang anak itu minta.


Sesampainya di penginapan Mitsuki pun langsung mengambil spidol dan menuliskan kata yang di inginkan anak tersebut.


Setelah selesai anak itu pun meminjam spidolnya dan tampa mengucapkan terimakasih atau apapun anak itu pergi dengan cepat.


Melihat itu mereka berdua merasa kebingungan dengan kelakuan dari anak tersebut.


Terlepas dari hal tadi, ketika tepat tengah hari cuaca menjadi sangat terik dan suhu menjadi sangat panas.


Karena tidak kuat menahan panas katsugi pun membuka bajunya, karena ia sering olahraga, membuat tubuh dan perut katsugi lumayan membentuk, (kalian pahamkan maksud ku?) lalu ia berbaring di lantai.


Sedangkan Mitsuki terus mengipasi Marika karen takut iya bangun dan menangis.


"Ya ampun kenapa cuaca nya tiba-tiba panas? Ku pikir suhunya akan hangat" ujar katsugi yang berkeringat keringat.


"Aku ingin membeli sesuatu yang dingin, apa kau ingin sesuatu?" tanya Mitsuki.

__ADS_1


"Apapun itu asalkan dingin" jawab katsugi.


Berjalan di bawah matahari terik membuat Mitsuki berkeringat seperti orang yang selesai lari maraton keliling jepang.


Ketiak ia melewati sebuah lapangan kecil terlihat anak yang tadi meminta tolong kepadanya sedang bermain di bawah pohon dengan membawa empat balon yang sama.


Dengan gambar wajah di keempat balon tersebut,


Melihat itu Mitsuki pun memahami maksud dari anak yang meminta dirinya untuk menuliskan kalimat ayah, ibu, kakak laki-laki, dan kakak perempuan.


Juga alasan mengapa anak itu membawa spidol miliknya pergi karena iya ingin menggambar wajah dari orang-orang yang dekat dengan dirinya.


Tapi pertanyaannya untuk apa iya melakukan semua itu.


Tidak berselang lama seorang perempuan berjalan melewatinya, melihat itu Mitsuki pun memanggil perempuan tersebut dan menanyakan tentang anak dengan empat balon itu.


Dan perempuan itu pun menjawab kalau anak laki-laki yang di sana itu selalu meminta warga untuk menuliskan kalimat ayah,ibu,kakak laki-laki, dan kakak perempuan.


Agar melepas kerinduannya dengan keluarganya, sayangnya balonnya hanya selalu bertanya dua atau tiga hari setelah itu meletup.


Lalu Mitsuki pun kembali bertanya tentang keluarganya.


Dan perempuan itu pun kembali menjawab bahwa keluarga anak itu tidak jelas keberadaannya, karena warga desa menemukannya di dalam kardus dekat tempat sampah.


Untuk makan iya sering di beri oleh beberapa warga desa dan untuk tempat tinggalnya anak itu selalu tidur di bawah pohon atau pinggir jalan.


Meski warga sudah menawarkan tempat yang lebih layak untuk nya tapi anak itu menolak Dan lebih memilih hidup di jalan.


Setelah mendengar penjelasan dari perempuan itu, Mitsuki pun kembali berjalan ke toko dan membeli beberapa minuman dingin dan beberapa es krim.


Kemudian kembali berjalan pulang ketika melewati lapangan kecil yang tadi, terlihat anak itu masih ada di sana.


**** merasa kahisan tapi ia tidak dapat berbuat banyak yang dapat dirinya lakukan hanyalah berharap.


"Jika di pikir akan berapa lama balon itu akan bertahan? Aku harap akan bertahan lama" bisik Mitsuki yang berjalan kembali ke penginapan.


Ketika sampai terlihat katsugi yang belum memakai bajunya, masuk ke dalam tidak sengaja ia menginjak sesuatu yang basah di lantai.


"Astaga!! Apa ini?" ujar Mitsuki.


"Itu keringatku" sahut katsugi.

__ADS_1


"Hmmm, ini" jawab Mitsuki kemudian meletakkan barang belanjaan nya.


Ketika sedang mendinginkan kepala tiba-tiba ayah katsugi datang dengan wajah yang berkeringat.


__ADS_2