Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 20


__ADS_3

2 bulan pun telah berlalu . Kini usia kehamilan Kania pun sudah menginjak 4 bulan dan dia masih saja sekolah sampai saat ini. Tapi kali ini Kania benar-benar dalam keadaan gelisah, galau dan dilema.


Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilannya itu karena perutnya sudah kelihatan besar.


Drettt ..


Drettttttt...


Kania mencoba menghubungi Riko pacarnya itu..


(Hallo Riko. Kita harus ketemu sekarang. Ada masalah penting yang mau aku bicarakan soal kehamilanku)


(Baiklah sayang Aku ijin sama atasanku dulu kalau hari ini aku nggak bisa masuk lepas itu Aku akan menemuimu. Seperti biasa di Kosan temanku)


(Oke aku tunggu)


Tuutt...


Tttuutttt...


Kania pun lalu mengakhiri telfonnya dengan Riko.


Kania pun bersiap-siap untuk pergi ke Kosan temannya Riko itu. Di Kosan itulah Kania pertama kali melakukan hubungan terlarangnya dengan Riko sampai Kania mengandung benih dari Riko sekarang Ini.


"Kania kamu nggak sekolah". Tanya Neneknya ketika masuk membawakan bekal untuk Kania.


"Emmmm. Sekolah kok Nek ini Kania tengah siap-siap mau ganti seragam". Ujar Kania berdusta lagi. Sambil mengambil seragamnya di dalam almarinya.


"Ohhh. Nenek pikir nggak masuk lagian ini udah siang lho Kania udah jam 7 lebih". Ujar Neneknya sambil memperhatikan jam dinding.


"Emmm itu Nek. Hari ini pelajaran jam pertama Gurunya nggak bisa datang katanya". Kania gugup karena membohongi Neneknya lagi.


"Oalahh yaudah kamu siap-siap gihh. Ini bekalnya jangan lupa dibawa". Ucap Neneknya


"Baik Nek". Sahut Kania.


Huffftt.. Kania pun kini merasa bersalah karena selalu saja berdusta kepada Neneknya.


"Maafkan Kania Nek". Lirihnyaa ..


Klunting..


(Aku sudah mau berangkat kesana)


Riko mengirimkan pesan untuk Kania.


Kania pun langsung membuka pesan itu lalu bergegas bersiap untuk menuju kesana.


(Ok. Aku segera kesana)

__ADS_1


Balas Kania.


*****


Riko pun sudah sampai di Kosan temannya itu dan duduk di Kursi depan Kosan temannya. Temannya pun pamit kerja.


"Gue tinggal dulu ya Bro. Loe disini aja, seperti biasa anggap aja Rumah sendiri". Ujar temannya itu Dani Namanya.


"Siap bro makasih yaa. Jangan lupa hati-hati dijalan". Ucap Riko


Mereka berdua pun mengepalkan tangannya dan tos bersama. Tanda persahabatannya.


Selang beberapa menit Kania pun akhirnya datang. Dan turun dari motornya menghampiri Riko pacarnya itu.


"Ada apa sayang. Kita ngobrol di dalam aja takut nanti di dengerin sama orang yang ada di kos sebelahnya". Pinta Riko


Kania pun mengekor Riko dan masuk ke dalam Kosan Dani. Mereka pun duduk di Ranjang yang ada di dalam itu.


"Riko pikiranku sudah buntu sekarang. Aku juga nggak bisa lagi nutupi kehamilanku ini yang semakin lama semakin membesar. Sedangkan Kandungku ini udah usia 4 bulan. Sampai kapan kita menutupi ini semua Riko". Ucap Kania sambil menatap Tajam Riko.


"Sudah kita bilang saja pada orangtua kita kalau kamu sedang mengandung. Mau gimana pun bayi itu semakin lama semakin membesar". Ucap Riko.


"Tapi gimana respon mereka nanti. Pasti mereka akan marah besar dengan perbuatan kita ini". Ucap Kania gelisah.


"Marah itu pasti sayang. Tapi itu cuma sebentar nggak mungkin lama. Kita harus bilang sama orangtua kita biar kita segera menikah sebelum perutmu tambah membesar lagi". Ucap Riko.


Kania pun sangat gelisah dan pusing sekali saat ini. Memikirkan kandungannya itu. Karena Sepandai-pandainya dia menyembunyikan bangkai pasti akan tercium jua sama halnya dengan Kania yang bermain cantik dan secerdik dia untuk menyembunyikan pasti akan tetap ketahuan juga.


"Kamu yakin mau bicara sekarang Riko,". Ucap Kania sambil mengernyitkan dahinya.


"Tentu sayang. Mau sampai kapan lagi kita mau seperti ini Kania, kita udah nggak punya banyak waktu kandunganmu itu semakin besar dan tentunya kamu akan segera melahirkan. Memangnya kamu mau menunggu sampai anak itu lahir". Ucap Riko menatap Kania.


"Nggak mungkin lahh. Apa kata orang nanti kalau aku tiba-tiba melahirkan sedangkan aku belum nikah". Ucap Kania sambil menundukkan kepalanya


"Maka dari itu sayang. Kita nanti lepas ini bicara pada orangtua kita. Entah apa respon dan jawabannya kita dengarkan saja yang terpenting kita ngomong yang sejujurnya". Pinta Riko.


"Baiklah akan ku coba ngomong nanti sama orangtuaku". Kata Kania menunduk lesu...


Mereka pun terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba saja ponsel Kania berdering.


(Hallo Nanda. Iya kenapa Nda) kania menjawab


(Hallo Kania kamu dimana sudah beberapa hari ini kok nggak masuk Sekolah) tanya Nanda di sebrang telfon


(Emmmm. Aku di Rumah Nda aku baik juga kok) jawab Kania


(Terus kenapa kamu nggak Masuk sekolah nggak ijin dan nggak ngomong atau kirim WhatsApp gitu kek ke Aku) ucap Nanda khawatir


(Sebenarnya aku sudah nggak bisa melanjutkan sekolah lagi Nda karenaa...)

__ADS_1


Tiba-tiba saja Kania tak melanjutkan percakapannya dengan Nanda. Dan membuat Nanda semakin panik dengan sikap Kania.


Klunting.


(Kamu kenapa Kan. Kamu baik-baik aja kan) Nanda mengirimkan pesan.


(Aku nggak bisa cerita lewat telfon Nda. Nanti selepas kamu pulang sekolah temui aku di Taman Kota ya). Balas Kania


(Ok aku kesana nanti lepas pulang sekolah)


Balas Nanda .


Kania dan Riko pun lalu rehat di Kosan Dani sampai mereka berdua tertidur .


Kania pun terbangun dan ternyata sudah pukul 02.45WIB Kania ingin dia ada janji sama Nanda untuk bertemu di Taman Kota. Kania pun lalu membangunkan Riko dan mengajaknya untuk menemui Nanda


"Kita tunggu di sini aja sambil mengingat waktu pertama kali aku mengutarakan cinta ke kamu sayang". Ucap Riko sambil tersenyum ke arah Kania.


"Baiklah". Ujar Kania.


Mereka pun lalu menunggu Nanda di dekat Air mancur.  Sambil mengenang pertama kali dia jadian. Setelah beberapa menit pun akhirnya Nanda pun datang.


"Kania". Panggil Nanda dan langsung berlari memeluk Kania karena rindu beberapa hari tak jumpa.


"Kamu kemana aja tiba-tiba nggak ada kabar dan nggak masuk sekolah. Dan ini siapa, tunggu-tunggu kalau nggak salah ini Riko ya pacar kamu". Ucap Nanda sambil menunjuk Riko. Dan Riko pun mengganguk.


"Iyha ini Riko pacarku". Ujar Kania.


"Ohh iyha kamu mau bicara apa kok kamu kelihatannya gelisah kek gini ada apa Kania jujur sama aku". Tanya Nanda sambil memperhatikan Kania


Kania pun tiba-tiba menangis dan memeluk Nanda temannya itu.


"Aku hamil Nda". Ucap Kania menangis sambil sesenggukan.


"Haaahh. Kamu yang bener aja, kamu bercanda kan Kania". Ucap Nanda melepas pelukan Kania dan menatap tajam mata Kania berharap jika Kania itu bercanda.


"Aku serius". Kania mengelengkan Kepalanya sambil menangis.


Nanda pun memeluk Kania lagi. Karena merasa Kasihan dengan apa yang menimpa temannya itu.


"Trus orangtua kalian udah tahu tentang masalah ini". Tanya Nanda sambil melirik ke arah mereka berdua.


Kania dan Riko pun sama-sama menggelengkan kepalanya.


"Astaga Kania kok sampai segininya. Trus usia kandunganm sekarang berapa bulan". Ucap Nanda sambil meraba perut Kania.


"4 bulan Nda". Jawab Kania terbata.


"Ya ampun kalian harus segera kasih tau orangtua kalian mau gimana pun kalian harus segera menikah. Kasihan nasib anak yang kamu kandung nantinya". Ucap Nanda.

__ADS_1


"Kami berpikir seperti itu setelah ini nanti kita akan jujur dengan kedua orangtua kita bagaimana pun mereka harus tau". Ucap Riko.


__ADS_2