
"Asalamualaikum". Ucap Riko memberi salam ketika sampai Rumah.
"Walaikumsalam. Dah pulang Riko.??" jawab Salam ibunya Menghampiri Riko dan Riko pun mencium punggung tangan Ibunya.
"Sudah Bu. Ohh iyha Kania mana Bu kok nggak kelihatan". Tanya Riko sambil matanya celingukan memperhatikan seisi Rumah.
"Ada di Dapur , Ibu suruh masak untuk makan siang". Ucap Ibu menggerutu.
"Seharusnya tak perlu masak Bu ini Riko udah bawain makanan kasihan Kania nanti kecapean". Ujar Riko yang tak tega kepada istrinya.
"Ya mana Ibu tau kalau kamu pulang bawa makanan". Ucap ibunya kesal.
"Ya sudah Riko ke Dapur dulu Bu". Ucap Riko dan berlalu menuju dapur.
Nampak Kania yang tengah sibuk mengiris sayuran yang akan di masaknya. Riko pun berjalan menghampiri istrinya itu dan meletakkan makanan yang dibelinya tadi di Meja makan.
"Sayang, sudah nggak usah di lanjutin masaknya mas sudah beli makanan". Ucap Riko yang tiba-tiba memeluk Kania dari belakang dan membuatnya kaget.
"Mas bikin kaget aja dehh". Ucap Kania manja dan memegang erat tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Kuat sekali megangnya. Kenapa.?? Kangen ya baru mas tinggal sebentar aja udah kangen". Ucap Riko mengoda istrinya sambil tersenyum.
"Ck.. apaan sih mas". Decak Kania lalu melepaskan tangan suaminya dari perutnya.
"Sayang kamu sakit.?? Kok wajahmu nampak pucat.??". Tanya Riko khawatir memperhatikan istrinya.
"Nggak kok mas Aku nggak papa. Mungkin hanya kelelahan saja". Ucapnya sambil mengulas sedikit senyuman.
"Lebih baik kamu istirahat saja sayang. Biar mas yang lanjutin beresin dapurnya". Pinta suaminya.
"Mas yakin. Mau lanjutin?". Tanya Kania.
"Iyha. Udah kamu duduk aja dulu di meja makan biar mas yang lanjutin. Kasihan nanti debay nya ikut capek kalau Ibunya kecapean". Ucap Riko menyuruh istrinya.
Kania yang tak tahan menahan capek pun akhirnya duduk di Meja makan atas perintah suaminya. Sambil memperhatikan suaminya yang tengah membereskan dapur dan menyiapkan makanan yang telah di belinya tadi di Meja Makan.
"Wahh..wah..wahh..Enak bener ya suami pulang dari Kantor bukannya di siapin makanan. Ini malah enak-enakan, suaminya yang disuruh beresin. Ck..ck..ck.. istri macam apa kamu ni". Protes Dewi kepada menantunya.
__ADS_1
Kania yang baru saja istirahat sebentar mendengar suara ibu mertuanya sontak saja langsung berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Maaf Bu. Tadi Kania kelelahan Kania cuma istirahat sebentar kok Bu". Ucap Kania gemetar ketakutan dan wajahnya sampai terlihat pucat sekali.
"Lelahh kamu bilang.?? Cuma masak nggak ngapa-ngapain kok bisa lelah. Alasan saja.!!". Sahut Dewi tak terima.
"Sudah lah Bu. Masalah sepele aja di bikin ribut, Kania duduk juga Riko yang menyuruhnya. Kasihan Kania Bu dia tengah hamil nanti kelelahan". Ujar Riko menengahi keduanya.
"Tentu saja lelah seharian kerjaanya cuma tidur di Kamar nggak ngapa-ngapain wajar lah lelah. Coba hamil di banyakin gerak pasti nggak gampang lelah, masak aja kalau Ibu nggak nyuruh dia nggak mau ngerjain". Ucap Dewi memojokkan Kania.
"Bu tapi Kania dari tadi Kan sudah..". Ucap kania belum selesai sudah di sahut oleh mertuanya.
"Sudah apa ?? Mau alasan lagi atau mau cari muka di depan suami kamu. Dasarnya pemalas ya tetap aja pemalas". Ucap Dewi seolah-olah Kania yang salah.
"Bu sudahlah jangan bicara seperti itu. Kasihan Kania Bu. Dia lagi hamil, takutnya dia pusing dan stres dengar ucapan Ibu yang seperti itu". Ucap Riko dengan sabarnya menghadapi Ibunya.
Kania hanya terdiam dan menangis mendengarkan perkataan Ibu mertuanya itu. Apa yang dikerjakan Kania tak pernah benar di mata ibu mertuanya.
"Riko Ibu itu bicara sesuai fakta. Yaudah kalau kamu nggak percaya sama Ibu, mending Ibu pergi aja ke tetangga sebelah pusing kepala ibu di Rumah". Ucapnya dan berlalu meninggalkan Riko dan menantunya.
"Sayang kamu yang sabar ya ngadepin Ibu. Jangan terlalu di masukin ke hati ucapan Ibu tadi. Memang Ibu orangnya seperti itu. Aku harap kamu bisa paham ya sayang". Ucap Riko menenangkan istrinya dan kania hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Kania masih saja menangis di dada bidang suaminya itu sampai baju Riko basah terkena air mata istrinya.
(Sejujurnya sakit rasa hati ini mas. Tapi apa dayaku) ujarnya di dalam hati.
"Kita makan siang aja dulu ya. Pasti kamu belum makan. Kasihan debaynya di dalam perut. Dia juga butuh makan dan nutrisi". Ajak suaminya.
"Baik mas". Ucap Kania yang masih sesenggukan.
Kania menghapus air matanya dan mulai menghentikan tangisannya. Sedangkan Riko mengambilkan makanan untuk istrinya dengan telaten.
"Ini sayang di makan dulu makanannya". Ucap Riko sambil menyodorkan sepiring nasi untuk istrinya.
"Tapi mas aku pinginnya makan sepiring berdua". Pinta Kania manja.
"Yaudah kalau gitu. Kita makan berdua, sini mas yang suapin". Ucap Riko dan mulai menyuapkan sesendok makan ke mulut istrinya dengan manja.
__ADS_1
***
"Ehh jeng Dewi kenapa jeng kok mukanya di tekuk gitu. Katanya menantunya sudah pindah kesini kok malah di tinggal sih jeng". Cibir tetangganya Dewi yang sering diajak ngrumpi.
Bu Dewi pun lalu meghampirinya dan duduk di teras tetangganya itu dengan wajah yang di tekuk.
"Hmmm. Pusing jeng di Rumah di tambah lagi lihat menantu malasnya minta ampun". Ucap Dewi menghembuskan nafas kasar.
"Malas gimana jeng. Bukannya enak ya jeng sekarang ada yang bantuin beresin Rumah.". Tanya Bu Dita yang mulai kepo.
"Ya begitulah lah jeng. Baru sehari disini aja kerjanya cuma tidur di dalam Kamar terus. Rumah kotor aja nggak mau bersihin". Ucap Dewi menjelek-jelekkan menantunya.
"Masak sih jeng di Rumah mertuanya kok seperti itu, nggak ada gunanya dong jadi menantu". Cibir Bu Dita.
Tiba-tiba saja mpok leha dan mpok sari datang menghampiri Bu Dewi dan Bu Dita.
"Asyik bener sih jeng. Lagi ngosipin apa sih". tanya mpok Leha sambil mencolek lengan Bu Dewi.
"Ini lho mpok jeng Dewi menantunya baru pindah kesini sehari aja mukanya udah di tekuk. Apa lagi nanti kalau udah berbulan-bulan mungkin wajahnya bisa keriput semua deh.hahahaha" ucap Bu Dita menertawakan Bu Dewi.
"Aduh jeng kok gitu amat sihh jeng. Seharusnya menantu pindah ke Rumah mertuanya itu ngeringanin mertuanya lho jeng. Contohnya saya jeng. Semua pekerjaan Rumah menantu saya yang ngerjain, aku mah tinggal ongkang-ongkang kaki aja. makan dah disiap, rumah dah bersih. Tinggal ngegosip aja kerjaannya . Iyha kan mpok". Ucap mpok Sari menyenggol lengan Mpok leha dan menyombongkan menantunya.
"Enak Bener ya jadi mpok sari. Punya menantu seperti itu, nggak seperti menantuku itu. Udah miskin pemalas lagi. Aduh bikin pusing". Gerutu Bu Dewi.
"Makanya jeng jadi mertua harus tegas. Kalau nggak tegas ya gitu jadinya. Menantunya makin nglunjak dan seenak jidatnya nanti". Ucap Mpok Sari yang terus mengompori.
"Yaudah ya jeng kita duluan mau ke Warung belanja dulu. ingat jeng harus tegas jadi mertua". Ucap Mpok Sari kepada Bu Dewi.
Mpok Leha dan mpok Sari pun pergi meninggalkan Bu Dewi dan Bu Dita. Tak terasa Bu Dewi ngegosip bersama kawannya menghabiskan energi sampai cacing diperutnya keroncongan demo ingin segera makan.
"Yaudah jeng dah siang aku balik Rumah dulu ya.". Pamit Bu Dewi.
"Iyha jeng. Salam ya buat menantunya". Jawab Bu Dita sambil tertawa kecil
"Iyha". Jawab Bu Dewi datar.
Bu Dewi menuju ke Rumahnya karena sudah tak tahan merasakan perutnya yang terus saja berbunyi.
__ADS_1