
"Apa Bapak fikir anak perempuan itu tidak bisa sukses Pak". Gertak Kania yang membuat Bapaknya merasa bersalah.
"Bapak dulu memang sempat berfikir seperti itu Kania, tapi sekarang Bapak sadar nasib seorang Anak itu berbeda-beda" mata Bapak menantap mata Kania dan mencoba jujur agar Kania percaya.
Kania yang tak mau lagi mendengar alasan kedua orangtuanya itu memilih untuk pergi ke Kamarnya dan merenungi nasibnya.
"Kenapa jadi seperti ini, kenapa nasibku seperti ini Tuhan". Batin Kania sambil memukul-mukul Bantalnya.
Kedua orang tuanya pun bergegas menuju Kamar Kania dan mencoba mengetuk pintu Kamarnya .
Tok..tokk.tokkk...
Ibu mengetuk pintu kamar Kania. Namun Kania pun tetap saja tak menghiraukan ketukan pintu itu.
"Kania buka pintunya Kania". Ibunya pun lalu mencoba memanggilnya.
Namun Kania tetep kekeh tak menghiraukan Ibunya itu.
"Kania buka pintunya Kania. Dengerin Bapak ngomong dulu". Giliran Bapaknya yang berbicara.
"Bapak sama Ibu pergi saja Kania nggak ingin ngomong sama Bapak dan Ibu. Kania lagi pingin sendiri". Kania berteriak.
Bapak dan Ibunya pun terdiam dan saling bertatapan, Bapaknya mengangguk dan melirikkan matanya. Mengisyaratkan untuk pergi meninggalkan Kamar Kania. Ibu pun lalu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Kania kalau itu mau Kamu Ibu dan Bapak balik dulu ke Rumah nenek Bapakmu" ucap Ibu berpamitan dan akhirnya meninggalkan Kamar Kania.
"Biarkan Kania menyendiri dulu lah Bu, mungkin Kania kecewa dengan perkataan kita. Mungkin dengan dia menyendiri dia bisa lebih tenang". Ucap Bapak sambil berjalan disamping Ibu menuju depan Rumah.
"Tapi Ibu takut kalau Kania Nanti marah sama Ibu dan tak mau berbicara sama Ibu Pak." Kata Ibu sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Percaya sama Bapak Bu, Kania tak mungkin marah sama Ibu. Ini cuma masalah waktu saja Bu agar Kania bisa menangkan dirinya. Nanti dia juga akan mencari Ibu lagi. Percaya sama Bapak". Bapak meyakinkan Ibu dan berlalu menuju depan Rumah dan bersiap untuk pulang.
Ibu pun menganggukan kepalanya pelan dan mengekor di belakang Bapak. Bapak merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci sepeda montornya dan Bapak menaiki motornya dan memakai helm sambil menyodorkan helm yang satunya kepada Ibu.
"Ini Bu pakai helmnya dan segera naik. Lebih baik kita pulang dulu saja, besok atau lusa nanti kita kesini lagi". Pinta sang Bapak.
Ibu menerima helm yang Bapak kasih dan memakai helm bergegas menaiki di bonceng jok belakang Bapak.
"Sudah Pak ayo kita jalan. Bismillah". Ucap Ibu dan tangannya sambil berpegangan di Pinggang Bapak.
Mereka pun mulai melajukan motornya. Kania yang ternyata sedang memperhatikan kedua orangtuanya sambil mengintip di Cendela Kamarnya akhirnya pun berteriak sambil menangis meluapkan emosinya.
Kania pun merebahkan Tubuhnya di Atas ranjangnya. Sambil menangis dan memeluk gulingnya. Tanpa disadari Kania terlarut dalam kesedihannya pun dia sampai ketiduran. Tak terasa sudah semalaman dia tertidur dia pun tersadar karena mendengar suara adzan. Dan ternyata sudah adzan subuh ,Dia pun bergegas menuju Kamar mandi untuk membersihkan dirinya mandi dan mengambil air wudhu lalu dia bergegas melaksanakan kewajibannya sebagai orang islam untuk sholat Subuh.
Dia pun menuju ke Kamarnya dan mengambil rukuh dan juga sajadah. Lalu dia pun melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh dia tak lupa berdoa.
"Ya allah ampunilah segala dosa-dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Ampunilah juga dosa almarhum Bapakku sewaktu di masa hidupnya ya Allah, tempatkan Dia di Tempatmu yang terbaik ya Allah. Dan sadarkanlah sikap Bapak sambungku agar dia bisa menyayangiku seperti dia menyayangi anak kandungnya sendiri ya Allah. Amin" doa Kania yang ia panjatkan dan semoga Tuhan mengabulkan. Amin...
"Lhoo kok ada uang di dalam Tasku". Dia bingung dan mulai berfikir.
Kania pun menepuk jidatnya. Setelah dia ingat uang itu.
Plakkk dia menepuk jidatnya sendiri.
"Duhh kenapa bisa lupa gini sihh. Ini kan uang hasil menjual Teh botol kemarin, dasar Kania bego" Ujar Kania.
Lalu dia pun menghitung uangnya itu dan ternyata jumlahnya Rp 160.000.
"Wahhh, lumayan juga uangnya". Umpat Kania. Lalu dia pun menghitung uang yang harus diberikan kepada Gurunya.
__ADS_1
"Ohh iyha yang Rp 138.000 kan untuk menganti harga Tehnya dari Bu Karina. Dan ini sisanya masih Rp 22.000 dong alhamdulilah bisa buat Nabung". Ucap syukur Kania. Dan memasukkan uangnya ke dalam Tasnya lagi. Dia pun melirik jam dinding yang ada di Tembok Kamarnya dan masih menunjukkan pukul 05.15 dan masih lama waktu dia untuk berangkat ke Sekolah.
Kania pun bergegas menuju ke Dapur dan di Dapur ada Nenenknya yang masih sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
"Wahhh baunya enakk bener Nek Nenek masak apa ini". Tanya Kania yang mengembang kempiskan hidungnya karena mencium aroma makanan yang Nenek masak.
"Ini Nenek masak sayur lodeh dan goreng tahu sama tempe" ujar Nenek sambil mengoreng tempe dan tahunya.
"Enak tuhh Nek, Kania jadi Lapar dehh rasanya pingin segera Menyantap masakan Nenek". Kania yang memegangi perutnya karena mulai lapar.
Nenek pun akhirnya menyiapkan makanannya di Atas meja. Dan Kania pun duduk di Kursi sambil melihat Nenenknya menyiapkan Makanan. Kania pun mulai mengambil secentong Nasi dan muali mengambil sayur yang Nenek siapkan.
"Kania coba ya Nek". Sambil menyuapkan makanannya ke Dalam Mulutnya.
Neneknya yang mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum memperhatikan tingkah cucunya itu.
Nenek pun duduk di samping Kania sambil menatap intens wajah Kania.
"Kania kata tetangga sebelam kemarin habis kamu pulang Sekolah kamu bertengkar dengan kedua orangtuamu. Sewaktu Kakek dan Nenek tak ada di Rumah apa betul itu Kania". Tanya Neneknya yang penasaran dengan jawaban Kania.
Kania pun lalu meletakkan sendoknya ke atas piring dan menoleh ke Neneknya sambil meneteskan air matanya lagi.
"Iyha Nek, memang benar. Kania sudah mengetahui yang sebernya kalau Kania ini ternyata bukan Anak kandung Bapak." Ujar Kania yang membuat Neneknya kaget dan mengelus dadanya sendiri.
"Kamu ternyata sudah mengetahui semuanya Kania, maafkan Nenek juga ya Kania selama ini Nenek tak pernah menceritakan semua ini ke Kamu karena orangtuamu melarang Nenek dan Kakek untuk mengatakan ini ke Kamu". Nenek merasa bersalah dengan ini semua.
"Sudahlah Nek tak perlu di Bahas lagi Kania lagi ngak ingin membahas itu lagi" Kania menghapus dan mulai menyuapkan makanannya lagi ke Mulutnya itu.
Neneknya yang memperhatikan tingkah Kania pun ikut merasakan kesedihan yang Kania rasakan.
__ADS_1
"Maafkan Nenek Kania" Nenek pun mengelus punggung Kania agar Kania tenang karena Nenek tau kalau Kania tengah kesal.
"Udah lah Nek. Nenek nggak salah kok" kania tersenyum walau sebenarnya hatinya sakit.