Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 58


__ADS_3

Riko dan Bella pergi jalan sampai larut malam dan Kania menunggu Riko di Rumah sambil menangis karena tak ada kabar sama sekali dari Suaminya. Kania mencoba menghubungi Riko namun tetap saja tak di hiraukan oleh Riko malah sekarang nomornya tidak aktif. Bu Dewi dan Pak Danu juga tak ada di Rumah mereka tengah menghadiri acara rekan bisnis Pak Danu di sebuah restoran bintang lima ternama.


"Sudah larut malam begini kamu belum juga pulang. Kamu pergi kemana mas sama Bella. Kamu bener bener tega mas sama aku. Huhuhhu". Lirih Kania sambil berjalan mondar mandir di Teras depan Rumahnya.


***


Ketika di tengah perjalanan Bella menghentikan mobilnya di tepi jalan dan Riko yang berada di belakang mobil Bella pun ikut berhenti melihat Bella menghentikan mobilnya tiba tiba. Dengan rasa cemas dan panik Riko bergegas turun dari motornya dan berjalan menuju menghampiri mobil Bella.


Riko mencoba membuka pintu mobil Bella dan duduk di samping Bella sambil menanyakan ada apa dengan Bella. Tiba tiba menghentikan mobilnya.


"Ada apa Bel. Kok tiba tiba berhenti di tepi jalan. Apa ada masalah dengan mobil kamu". Tanya Riko dengan rasa khawatir dengan Bella.


Bella tiba tiba merengek menangis sambil memeluk Riko dengan manjanya sambil berkata 


"Aku nggak mau pulang. Aku masih mau bersama kamu Riko. Kamu mau ya kita jalan lagi. Aku nggak pingin pisah sama kamu. Huhuhu". Ucap Bella sambil menangis pura pura untuk mengambil simpatinya Riko agar Riko mau menemaninya jalan lagi.


Riko merasa agak sedikit bingung karena dia merasa sudah terlalu larut malam jalan bersama Bella tanpa menghiraukan Kania istrinya sama sekali. Tanpa pikir panjang Riko pun lalu mengiyakan dan menuruti permintaan Bella untuk jalan bersamanya tanpa memikirkan Kania dan mengabaikan Ponselnya sedari tadi walau dia tahu Kania mencoba menghubunginya berulang ulang.


"Ya sudah kamu jangan sedih lagi. Kalau gitu kita jalan lagi aja ya. Biar kamu nggak boring lagi". Ucap Riko tanpa berpikir panjang lagi.


Bella langsung sumringah mendengar penuturan yang di sampaikan oleh Riko barusan dan merasa kegirangan sekali.


"Thanks sayang". Balas Bella dengan tersenyum bahagia.


"Kita jalan sekarang aja ya Riko". Pinta Bella yang masih stay duduk di dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya begitu saja. Riko hanya pasrah duduk di samping Bella menuruti kemauannya Bella. 


Kring..kring..kring..

__ADS_1


Suara ponsel Riko berdering lagi. Ketika Riko hendak mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya Bella langsung mengambil ponselnya Riko begitu saja.


"Udah lah Riko. Nggak usah di hiraukan lagi. Aku ingin berdua sama kamu tanpa ada penganggu. Kamu paham kan". Pinta Bella kepada Riko sambil mensilent ponsel Riko


Riko tercengang dan menuruti permintaan Bella begitu saja. Dan tak menghiraukan ponselnya lagi apalagi ingin melihat siapa yang menelfonnya.


"Ok lah kalau itu mau kamu". Ucap Riko pasrah.


Bella lalu melajukan mobilnya agak cepat agar segera sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.


***


Kania yang menunggu kabar dari Riko sedari tadi sampai mencoba menghubungi suaminya tetap saja tak dihiraukan sama sekali. Dia mondar mandir di depan Rumah sambil memperhatikan ponselnya.


Namun tiba tiba saja Kania merasakan perutnya sakit yang luar biasa tanpa di sadari paha Kania mengalir darah. Kania yang melihat itu sampai ketakutan dan khawatir sekali.


"Astaga apa yang terjadi dengan perutku kenapa perutku sakit sekali. Ya Tuhan keluar darah. Apa jangan jangan terjadi sesuatu dengan kandunganku". Ucap Kania dengan cemas dan khawatir sekali.


"Aku sudah nggak tahan lagi . Tolong.. tolongg.." teriak Kania mencoba mencari bantuan. Namun tak ada yang mendengar teriakan Kania karena Rumahnya paling tepi dari Rumah yang lain.


"Aku nggak bisa terus berdiam disini aku harus mencari bantuan . Jangan sampai anak yang ada di kandunganku kenapa napa". Ucap Kania sambil mengigit bibir bawahnya karena menahan sakit yang luar biasa. Lalu Kania mencoba berdiri sekuat tenaganya untuk berjalan mencari bantuan kepada tetangganya.


"Tolong. Siapa pun tolong saya". Teriak Kania dengan suara yang mulai kehilangan tenaga.


"Seperti ada orang yang meminta tolong deh pah. Kira kira siapa ya malam malam begini. Ayo kita lihat keluar pah". Ucap Bu wida tetangga Kania.


Syukur Alhamdulillah akhirnya ada tetangga Kania yang tiba tiba keluar Rumah mendengar ada orang yang minta tolong.

__ADS_1


"Mana ya pah suara itu." Tanya Bu wida kepada suaminya sambil melirik ke kanan dan ke arah kiri.


"Itu lihat Mah. Itu kan Kania, kayaknya dia butuh bantuan Mah. Lihat di kakinya ada darah yang mengalir. Sepertinya dia mau melahirkan". Ucap Suami Bu Wida dengan rasa khawatir sekali melihat Kondisi Kania.


"Iyha Pah ayo kita tolong segera Pah. Kasihan Kania". Ucap Bu Wida lalu berlari menghampiri ke arah Kania.


"Bu Pak tolong saya. Saya sudah tidak tahan lagi". Ucap Kania yang merintih menahan kesakitan kontraksi yang di alaminya sekarang.


"Pah cepat ambil mobil sekarang. Ayo kita bawa Kania ke Rumah sakit. Seperti dia mau melahirkan Pah. Cepetan Pah ambil mobil sekarang". Teriak Bu Wida menyuruh suaminya 


"Iyha Mah". Sahut suami Bu wida dan lalu mengambil mobilnya dengan cepat.


"Ayo Kania kita jalan pelan pelan ya. Kamu harus tahan. Kamu harus kuat demi calon anak kamu. Kamu pasti bisa melewati ini semua Kania". Ucap Bu Wida menyemangati Kania.


Kania yang merintih kesakitan mencoba tetap kuat demi calon bayi yang ada di kandungannya sekarang.


"Iyha Bu. Makasih ya Bu sudah bantuin Kania". Ucap kania sambil gemetar bicaranya karena dia sudah diambang kepanikan dan khawatir sekarang akan kondisinya.


Suami Bu Wida akhirnya sampai sambil membawa mobilnya dan lalu segera turun untuk membantu Kania masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo mah kita bawa Kania ke Rumaj sakit sekarang. Kasihan Kania jika pendarahannya semakin lama". Ucap suami Bu wida.


"Iyha Pah. Bantuin buka pintunya Pah. Biar mamah yang duduk di belakang menemani Kania". Perintah Bu Wida kepada suaminya.


"Baik Mah". Sahut Pak Seno dan segera membuka pintu mobilnya dan membantu Kania masuk ke dalam Mobil.


"Ayo Pah. Kita jalan sekarang aja. Bawa ke Rumah sakit terdekat saja. Agar tak kelamaan. Kasihan Kania sudah tak tahan menahan kesakitan". Ucap Bu Wida dengan cemas.

__ADS_1


"Ok2 Mah. Kita jalan sekarang". Jawab Pak Seno.


Kania mencoba manahan sakit perutnya sambil mengatur nafasnya sedemikan Rupa. Dia mencoba menahan dengan sekuat tenaganya menahan kesakitan yang dia rasakan saat ini. Dia merasakan kecewaan yang luar biasa , disaat dirinya ingin melahirkan namun tak ada suaminya yang menemaninya di sampingnya. Malah orang lain yang membantunya. Kania merasa perasaannya campur aduk sekarang antara perasaan khawatir dan kecewa.


__ADS_2