Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 55


__ADS_3

2 bulan telah berlalu. Hari ini genap usia kandungan Kania menginjak 8 bulan dan sebentar lagi dia akan segera melahirkan calon bayinya tersebut. Tepat hari ini juga Kania jadwal dia mengecek kandungannya dan dia bermaksud ingin menyuruh suaminya untuk mengantarnya periksa seperti biasanya.


"Mas kamu mau berangkat kerja sekarang ya.". Tanya Kania kepada Riko yang sedang membereskan tas kerjanya dan berkas berkas yang akan ia bawa ke kantor.


"Kamu nggak lupa kan Mas. Hari ini jadwal aku periksa kandungan. Nanti Mas anterin Aku periksa ya Mas.??" Pinta Kania sambil memperhatikan Riko membereskan berkas berkasnya.


"Maaf aku nggak bisa. Hari ini aku ada meeting di kantor pulang kerja. Kamu bisa periksa sendiri kan. Ini uang untuk biaya priksa kandungan dan bayar taxi online". Ucap Riko sambil mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya.


Namun Kania sedih mendengar perkataan suaminya itu. Padahal dulu dia sangat antusias sekali jika Kania memeriksakan kandungannya. Dia tak pernah absen selalu mengantarkan istrinya periksa kandungan.


"Tapi mas. Masak kamu nggak bisa ngeluangin waktu kamu sebentar saja untuk mengecek perkembangan anak kita Mas.??". Ujar Kania sambil menahan lengan Riko yang akan berjalan meninggalkannya dan ingin segera berangkat kerja.


"Aku sudah bilang kan kalau aku ada meeting di kantor. Udah lah nggak usah manja, jangan halangi aku. Aku mau berangkat kerja sekarang. Jangan pakai drama bisa kan". Ucap Riko sambil melepaskan tangan Kania dari lengannya dan pergi meninggalkan istrinya di Kamar begitu saja.


Kania terduduk di sudut ranjangnya samnbil membiarkan suaminya pergi begitu saja tanpa menghalangi dan meminta waktunya lagi.


"Kamu benar benar berubah mas. Tak hanya dengan ku bahkan dengan anak kamu sendiri saja. Kamu sudah nggak perduli lagi mas". Ucap Kania sambil meneteskan air matanya.


"Aku nggak boleh sedih dan nggak boleh cengeng lagi. Aku harus kuat dan nggak boleh manja. Aku harus terbiasa apa apa sendiri ada atau tidaknya dengan kehadiran mas Riko aku harus tetap mandiri". Ucapnya lirih.


Kania menghapus air matanya yang telah menetes dan dia bangkit dari Ranjangnya dan ingin segera bersiap siap.


"Aku harus bersiap sekarang dan pergi periksa kandunganku. Mumpung masih pagi". Ucap Kania.


Kania segera bersiap dan membenahi dirinya. Setelah dia siap dia langsung berangkat periksa dan dia sudah memesan taksi online sesuai dengan permintaan Suaminya tadi. Taxinya pun sudah sampai di depan Rumah tanpa menunggu waktu lama.


"Ehh mau pergi kemana kamu pagi pagi gini udah rapi. Mau ketemu sama selingkuhan kamu itu lagi". Cibir ibu mertuanya yang duduk di Kursi sofa ruang tamu.


"Nggak kok Bu. Kania hanya ingin periksa kandungan Kania saja. Nggak ada pikiran Kania sedikit pun untuk melakukan hal yang keji itu". Ucap Kania yang memberhentikan langkahnya di saat Ibu mertuanya menegurnya.


"Alahhh banyak alasan saja. Ngomong aja kalau mau ketemuan . Pakai ngeles segala". Ucap Bu Dewi terus memojokkan Kania.


"Ya sudah Bu. Kania tak banyak waktu lagi soalnya taxi onlinenya sudah sampai. Kania berangkat periksa kandungan Kania dulu. Permisi asalamualaikum". Pamit Kania dengan sopan dan melanjutkan langkahnya lagi tanpa menghiraukan jawaban dari mertuanya.

__ADS_1


"Belagu amat naik taxi online biasanya aja cuma naik sepeda motor". Gerutu Bu Dewi sambil melirik Keluar Rumah memperhatikan Kania.


"Kita pergi ke Klinik Nusa indah ya Pak". Perintah Kania kepada sopir taxi online tersebut.


"Baik Bu". Jawab sopir taxi online tersebut da mulai melajukan taxinya dengan perlahan dan pasti.


***


Riko pun telah sampai di Kantor dan segera masuk ke Ruangannya untuk segera mengerjakan tugasnya.


"Riko. Kamu di panggil Pak imam untuk pergi ke Ruangannya sekarang". Ucap Dika tangan kanan Pak imam menyuruh Riko sekarang juga.


"Baik lah Aku akan segera menemuinya sekarang". Jawab Riko lalu bangkit dari Meja kerjanya dan langsung menghadap Pak Imam pimpinannya di Kantor.


Tokk..tokkk..tokk... Riko mengetuk pintu.


"Masukkkk". Sahut Pak Imam yang ada di dalam Ruangan tersebut.


"Sialahkan duduk dulu". Ucap Pak Imam sambil menutup laptop yang ada di depannya.


"Saya ingin membicarakan Hal ini sekarang juga. Saya lihat kinerja kamu semakin hari semakin baik dan konsisten. Saya harap kamu bisa mempertahankan kinerja kamu yang seperti ini. Saya selaku pimpinann Kamu di Kantor ini ingin mengangkat jabatan Kamu serta menambah gaji Kamu. Apa kamu setuju dengan permintaan saya ini". Ucap Pak Imam kepada Riko dengan tatapan yang sangat serius.


Riko yang mendengar Berita ini sangat senang sekali. 


"Pak Imam serius Pak ingin menaikan jabatan saya.??". Tanya Riko dengan penuh penasaran.


"Yaa. Apa kamu pikir ini hanya lelucon.?? Saya serius ingin menaikan Jabatan kamu. Karna kinerja Kamu sangat baik. Dan saya naikkan Kamu sebagai kepala Bagian keuangan disini. Semoga kamu semakin semangat kerjanya ya?" Ucap Pak Imam sambil tersenyum ke arah Riko.


"Pasti Pak. Saya akan berusaha sekuat dan semampu saya agar Kantor ini terus maju". Ucap Riko meyakinkan.


"Sekali lagi selamat atas kenaikan jabatan Kamu. Sekarang kamu bisa membereskan barang barang kamu dan pindah ke Ruangan kamu yang baru". Perintah Pak Imam.


"Baik Pak. Segera saya laksanakan, terima atas kepercayaan Pak Imam sebelumnya. Saya permisi dulu Pak". Ucap Riko sambil menyalami tangan Pak Imam.

__ADS_1


"Baiklah". Sahut Pak Imam dan Riko pun lalu bergegas menuju meja kerja lamanya dan segera membereskan barang barangnya.


"Astaga. Mimpi apa aku semalam, jabatanku naik sekarang. Alhamdulillah". Ucap Riko dengan lirih sambil tersenyum sumringah di sepanjang jalan menuju meja kerjanya.


"Woi mau Kemana bro beresin barang barang . Jangan bilang kamu di pecat sama Pak imam". Celetuk Dani partner kerja yang duduk di samping mejanya.


"Nggak lahh Bro. Gue di angkat jadi kepala bagian keuangan. Dan Gue beresin barang Gue dan segera pindah ke Ruangan yang baru". Ucap Riko dengan semangatnya.


"Loe seriusan Bro. Selamat ya Bro, gue selaku temen ikut seneng atas kenaikan jabatan Loe. Hoki bener loe hari ini". Ucap Dani yang menghampiri Riko sambil menepuk pundaknya Riko.


"Thanks you Bro. Makasih ya, semoga saja lain kali Loe bisa nyusul naik jabatan seperti Gue". Ucap Riko sambil menepuk lengan Dani.


"Ngimpi kalik Bro . Kalau gue naik jabatan. Mustahil". Ucap Dani dengan rasa mindernya.


"Jangan bicara gitu Bro. Kita nggak tau apa yang akan terjadi dengan nasib kita ke depannya. Sama seperti Gue lah contohnya. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini Bro". Ujar Riko.


"Iyha juga sih Bro. Bener apa yang loe bilang. Sini deh gue bantu loe beresin dan bawa barang Loe ke Tempat yang baru". Tawar Dani kepada Riko.


"Ok Bro silahkan. Terima kasih sebelumnya udah di bantuin". Jawab Riko dan lalu muali membawa barangnya ke Ruangannya yang baru


"Santai aja Bro". Jawab Dani.


Mereka pun saling bahu membahu membawa barang barang Riko yang penting untuk menuju ke Ruangan Barunya dan akhirnya pun selesai juga di bantu oleh Dani temannya.


"Thanks sekali lagi ya Bro. Udah bantuin Gue". Ucap Riko sambil menepuk nepuk bahu Dani.


"Sama sama Bro. Semoga makin sukses ke depannya ya Bro. Gue lanjut dulu kerjaan gue". Pamit Dani kepada Riko.


"Ok ok sekali thanks banget ya Bro udah dibaantuin". Ucap Riko berterima kasih kepada Dani.


"Ok Bro". Sahut Dani.


Riko lalu membereskan barang barangnya di meja kerjanya yang baru dan segera melanjutkan pekerjaannya yang baru juga. Riko sangat senang sekali hari ini. Karena dia telah naik jabatan menjadi bagian keuangan. 

__ADS_1


__ADS_2