
Setelah bayi Kania di adzani oleh Pak Seno. Pak Seno lalu memberikan lagi bayinya kepada Kania agar bisa segera di susui oleh ibunya.
"Kania Saya sudah selesai mengazaninya. Segera kamu susui ya takutnya nanti dia kelaparan". Ujar Pak Seno sambil menyerahkan bayi mungil Kania kepada Kania.
"Terima Kasih banyak ya Pak. Saya sudah merepotkan Bapak hari ini". Ucap Kania sambil berkaca kaca matanya.
"Jangan bilang begitu. Kita kan tetangga sudah kewajiban saya membantu oranh lain yang membutuhkan pertolongan".
"Kalau begitu saya keluar dulu ya. Biar kamu di temani Istri saya". Pamit Pak Seno.
"Iyha Pak. Sekali lagi terima kasih". Ucap Kania lagi.
"Iyha sama sama". Jawab Pak Seno lalu keluar dari Ruangan persalinan tersebut meninggalkan istrinya bersama Kania dan bayinya. Agar Kania lenih leluasa menyusui bayinya itu.
"Anak Ibu. Minum Asi dulu ya sayang, kamu pasti lapar dan haus ya". Ucap Kania sambil mencium lembut kening bayinya.
Bu Wida tersenyum bahagia melihat Kania mengendong dan menyusui anaknya itu. Namun tiba tiba saja terlintas di pikiran Bu Wida.
"Kania apa sebaiknya kamu menghubungi orang tuamu atau mertuamu bagaimana. Pasti mereka senang mendengar kabar bahagia jika cucunya sudah lahir sekarang". Ucap Bu Wida dengan sedikit Ragu .
Kania tiba tiba saja langsung meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan Bu Wida tersebut.
"Lhoo kenapa kamu menangis Kania. Apa Ibu salah bicara sehingga membuatmu bersedih. Kalau Ibu ada salah kata Ibu minta maaf ya". Ucap Bu Wida dengan penuh penyesalan lalu menghampiri dan mengelus pundak Kania.
"Nggak kok Bu Ibu Wida nggak salah. Hanya saja ada suatu hal yang tiba tiba membuat saya bersedih Bu". Ucap Kania lalu menundukkan kepalanya sambil memgelus kepala bayinya yang tengah ia susui.
"Ada apa Kania kamu cerita saja sama Ibu. Siapa tau Ibu bisa membantu Kamu". Ucap Bu Wida.
"Selama saya ada masalah sama suaminya saya. Saya sudah lama tak kontak dengan orang tua saya Bu. Palingan kalau kontak hanya sekedar menanyakan Kabar saja. Saya tak ingin orang tua saya tahu apa yang sedang saya alami sekarang ini Bu. Saya takut membuat orang tua saya kecewa dan ikiut sedih dengan apa yang saya alami sekarang Bu. Saya di perlakukan tak baik dengan Ibu mertua saya dan sekarang malah suami saya menuduh saya selingkuh sedangkan malah dirinya sendiri yang mendua dengan mantan kekasihnya dulu Bu. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang Bu. Hik..hik.hik". Ucap Kania menceritakan semuanya kepada Bu wida sambil menagis.
__ADS_1
"Astaghfirullah halazim. Kamu yang kuat ya Kania. Pasti suatu saat suami kamu akan menyesal memperlakukan kamu seperti ini. Ibu tahu kamu orang yang kuat. Ibu yakin kamu bisa melewati ini semua. Ingin pesan Ibu Kania pasti akan ada pelangi setelah hujan". Ujar Bu Wida.
"Tapi kalau boleh Ibu sarankan lebih baik kamu hubungi orang tua kamu sekarang ya. Mau bagaimana pun orang tua kamu harus tau kabar ini. Ibu yakin pasti orang tua kamu bahagia mendengar Kabar ini". Ucap Bu Wida sambil menatap wajah Kania dan wajah bayi mungil Kania.
"Baik Bu kalau begitu saya akan coba menghubungi orang tua saya dulu. Boleh minta tolong buat gendongin anak saya sebentar Bu". Ucap Kania
"Tentu saja Kania. Sini biar Ibu yang gendong".
Kania menyerahkan bayinya untuk di gendong Bu Wida.
"Anak manis Anak cantik. Kelak kamu semoga jadi anak yang sholehah dan menjadi anak yang cerdas dan pintar ya sayang". Ucap Bu Wida sambil menyium pipi bayi mungil yang ada di gendongannya itu.
Kania lalu mencoba mengubungi orang tuanya dengan menelfon mereka.
Drett..dret...dret...
Panggilan berdering dan tak lama panggilan tersebut di jawab oleh Bapaknya.
(Walaikumsalam baik Kania. Kamu kemana saja lama tak menghubungi Bapak dan Ibu. Gimana kabar kamu sekarang baik juga kan. Gimana dengan kandungan Kamu. Sehat juga Kan.??) Beberapa pertanyaan dari Bapaknya membuat Kania semakin merasa sedih.
(Alhamdulillah sehat Pak. Kania mau mengabari Bapak dan Ibu, kalau Kania sudah melahirkan baru saja Pak. Anak Kania perempuan lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun) jawab Kania mencoba tetap tegar.
(Astaga Kania kenapa kamu tak mengabari Bapak dan Ibu dari tadi. Tahu gitu Bapak dan Ibu kan bisa segera menyusul kamu ke Rumah Sakit. Sekarang kirim alamat Rumah sakitnya Bapak dan Ibu akan segera menyusul kamu kesana Ya. Kamu sekaranh di temani sama Riko kan?)
(Iyha Pak Kania akan kirim alamat Rumah sakitnya lewat pesan ya. Bapak hati hati jangan terburu buru naik sepedanya. Kalau kemalaman besok juga nggak papa kok Pak datangnya)
(Nggak bisa Bapak sama Ibu akan menyusul sekaranh. Kamu kirim alamatnya sekaranh. Bapak dan Ibu akan siap siap pergi kesana)
(Baik Pak)
__ADS_1
Tutt.tutt.tut... panggilan di akhiri oleh Bapaknya Kania begitu saja.
Kania lalu segera mengirimkan pesan yang berisikan alamat Rumah sakit dimana dia melahirkan sekarang. Agar kedua orang tuanya tak lagi cemas memikirkan keadaanya sekarang.
"Gimana Kania. Sudah selesai mengabari Kedua orang tua kamu?" Tanya Bu Wida.
"Sudah Bu. Seperti yang aku duga dia menghawatirkan keadaanku sekarang". Ucap Kania lesu.
"Yang terpenting Kamu sudah mengabari kalau kamu dan anak kamu baik baik saja. Ohh iyha kok suami kamu sampai sekarang belum datang datang juga ya Kania". Tanya Bu Wida penasaran.
"Entahlah Bu. Mungkin dia sedang bersama Bella. Dari tadi sebelum saya masuk Rumah sakit juga sudah saya mencoba menghubunginya biasanya jam set 4 sore dia pasti sudah pulang tapi sampai sekarang pun dia juga belum pulang Bu". Jawab Kania sedih
"Ya sudah yang terpenting kamu sudah berusaha menghubunginya. Ohh iyha Kania Kamu sudah menghubungi mertua kamu Kania". Tanya Bu Wida lagi.
"Belum Bu" ucap Kania sambil menggelengkan kepalanya.
"Coba hubungi mereka dulu takutnya dia nyariin kamu". Jawab Bu Wida.
"Nggak mungkin Bu. Ibu mertua nyariin saya, dia seperti tak pernah menganggap Aku menjadi menantunya". Jawab Kania dengan polosnya.
"Jangan seperti itu Kania. Mau bagaimana pun dia mertua kamu harus tau keadaan kamu apa lagi kamu sudah melahirkan cucunya yang cantik ini". Ucap Bu Wida
"Baiklah Bu. Kalau begitu Kania kirim pesan saja ya Bu. Kalau Kania telfon takutnya dia nggak merespon panggilan Kania". Ujar Kania
"Iyha ndak masalah yang terpenting Kamu sudah mengabari mertua Kamu". Jawab Bu Wida.
Kania lalu bergegas mengirim pesan kepada Ibu mertuanya.
(Bu Kania ada di Rumah sakit sekarang. Kania baru saja melahirkan cucu Ibu. Dia perempuan Bu, seperti yang Ibu inginkan selama ini)
__ADS_1
Isi pesan Kania kepada Ibu mertuanya. Namun pesan itu masih centang Biru. Entah mertuanya sudah tidur atau belum pulang dari acara rekan bisnis kantor Ayah mertuanya pun Kania juga belum tau. Yang terpenting Kania sudah mengabari mertuanya saat ini.